sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sulut perlu pemimpin yang bisa mengelola keberagaman  

Kepemimpinan yang sensitif keberagaman dan kemajemukan semakin menjadi kebutuhan.

Tri Kurniawan
Tri Kurniawan Jumat, 20 Mar 2020 13:28 WIB
Sulut perlu pemimpin yang bisa mengelola keberagaman  
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi yang multikultural, baik itu dari sisi agama, suku, hingga penggunaan bahasa. Kalau dikelola dengan baik, keberagaman latar belakang masyarakat tersebut bisa menjadi modal positif untuk mendukung pembangunan.

Kepemimpinan salah satu aspek penting agar keberagaman bisa jadi kekayaan. Daerah multikultural semestinya dipimpin kepala daerah yang telah berpengalaman dalam mengelola potensi tersebut. Kepemimpinan yang sensitif keberagaman dan kemajemukan semakin menjadi kebutuhan di tengah derasnya arus globalisisasi yang mengharuskan peran serta daerah sebagai kekuatan ekososial.

Apalagi salah satu masalah yang berpotensi dihadapi daerah yang majemuk adalah intoleransi. Sikap ini tidak bisa dianggap remeh, karena akan memicu renggangnya hubungan antar elemen dalam struktur masyarakat. Pada akhirnya dapat menciptakan persoalan serius dalam perdamaian antarumat beragama.

Bupati Minahasa Utara Vonnie Anneke Panambunan (VAP) salah satu kepala daerah yang memiliki pengalaman dalam menangani masalah yang berpotensi memecah multikultural di Minahasa Utara. Persoalan suku, agama, ras dan antar golongan pernah terjadi di Minahasa Utara pada 29 Januari 2020. 

Syukur, masalah ini tidak berlangsung lama. VAP melakukan pendekatan ke semua golongan. Berbicara dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama. Apa yang VAP lakukan, lalu viral di media sosial. Periode Desember 2019-Januari 2020, popularitas VAP di Twitter melonjak cukup signifikan. Warganet memberikan respons positif atas upaya VAP mengatasi persoalan SARA di Minahasa Utara.

Bahkan pada periode Januari 2020, popularitas VAP melampaui Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey.

Di luar masalah SARA pada Januari lalu, VAP memang sering mengumpulkan tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat kecamatan hingga desa di kantor bupati. Tujuan pertemuan ini adalah memelihara dan meningkatkan toleransi serta kerukunan umat beragama. 

VAP mengatakan, multikultural merupakan paradigma yang baik dalam upaya merajut kembali hubungan antarmanusia. Ia mengajak masyarakat menjunjung tinggi toleransi, kerukunan, dan perdamaian. 

Sponsored

“Pembinaan kepada masyarakat Sulut dapat dilakukan dengan sosialisasi langsung maupun melalui pendidikan di sekolah, khususnya kepada generasi muda calon pemimpin bangsa. Melalui pendidikan kita dapat mengubah cara berpikir dengan pandangan yang lebih baik, demi terciptanya lingkungan sosial yang harmonis,” ucap Vonnie.

VAP menegaskan, dirinya akan terus berupaya menutup celah yang bisa digunakan oknum tidak bertanggung jawab untuk melakukan kekerasan berdalih penyelamatan suku maupun agama. Menurutnya, kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia lebih dari apapun

Berita Lainnya