sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Adaptasi seniman tari demi bertahan hidup kala pandemi

Seniman tari terpaksa beradaptasi dengan proses kreatif mengemas tari dalam video untuk pertunjukan virtual.

Qonita Azzahra
Qonita Azzahra Kamis, 03 Feb 2022 07:22 WIB
Adaptasi seniman tari demi bertahan hidup kala pandemi

Sebagai seorang seniman tari, Adi Kardila jelas kena dampak negatif dari pandemi Covid-19. Tidak ada lagi panggung di masa pembatasan sosial berimbas pada turunnya pendapatan pemilik sanggar tari tersebut. Adi berjuang keras menghidupi keluarganya dengan berbagai cara.

Awalnya, sembari menunggu pandemi mereda, ayah dua anak ini hanya mengandalkan uang tabungan saja. Namun setelah simpanannya kian menipis, mau tak mau Adi menjual alat-alat musik pengiringnya saat menari atau mengajarkan tari jaipong dan topeng kepada murid-muridnya. Ia bahkan juga menjual kain-kain sarung koleksinya.
 
“Karena anak-anak untuk belajar sulit, sanggar tutup. Jadi tidak ada penghasilan," ujarnya saat dihubungi Alinea.id, awal Januari lalu.

Pada akhirnya, tabungannya ludes. Saat tak lagi memegang uang itulah, ia pun terpaksa mencari sayuran yang ada di pinggir-pinggir sungai. 

"Dimasak pakai garam sama bumbu seadanya. Yang penting bisa makan,” kisah pemilik sanggar Akar Randu Alas yang berlokasi di Jalan Sabrang Indah, Desa Kalikota, Kecamatan Kedawung, Cirebon ini.

Sadar tak bisa terus menerus menunggu, Adi pun memberikan diri untuk meminta sponsor kepada kader-kader partai di daerahnya dan mengajukan dana bantuan kepada pemerintah. Tidak hanya itu, setelah pemerintah melonggarkan kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), laki-laki 49 tahun ini pun tak ingin membuang kesempatan untuk membuka kembali sanggar tarinya. 

Di saat yang sama, Adi juga membuka pembelajaran daring untuk murid-muridnya yang masih takut untuk hadir langsung ke sanggar miliknya. “Kita juga adakan pentas online, dari Youtube. Sekarang kita punya channel Youtube sama Instagram,” katanya bangga.

Selain Adi, kesulitan selama pandemi dialami pula oleh penari kondang Didik Nini Thowok. Penari bernama asli Didik Hadiprayitno ini mengaku, selama pagebluk dirinya mengalami sepi job. Bahkan, undangan manggung di luar negeri yang sudah dijadwalkan pun terpaksa dibatalkan. 

Selain itu, sama seperti sanggar-sanggar seni tari lainnya, dia juga harus menutup sementara Sanggar Tari Natya Lakshita miliknya. Dengan pendapatan utama dari pentas, jelas membuat penari 67 tahun ini kesulitan keuangan. Bahkan, Didik sempat merumahkan beberapa karyawan sanggar, demi bisa menghemat biaya operasional. 

Sponsored

Penari profesional Didik Nini Thowok. (Sumber: didikninithowok.id).

“Karena enggak ada siswa yang belajar, jadi waktu itu sempat turun banget pemasukan Sanggar. Lebih dari 50% banget, sekitar 70%,” bebernya, kepada Alinea.id, Minggu (30/1).

Kondisi sulit di awal pandemi ini terpaksa membuat Didik meminta bantuan kepada teman-temannya yang memiliki relasi sponsor dari Amerika Serikat, Jepang, hingga Australia. Beruntung, meski teman-teman sesama seniman juga tengah mengalami kesulitan, mereka tak segan untuk mengulurkan tangan kepada Didik. 

Nasib baik masih terus berpihak pada lelaki yang memiliki nama lahir Kwee Tjoen Lian ini. Karena pada April 2020, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan program daring enam paket untuknya. Kemendikbud memintanya untuk menjadi narasumber dalam acara itu. 

Ia juga didapuk sebagai salah seorang koreografer untuk program PKN (Pekan Kebudayaan Nasional) Kemendikbud. Tidak hanya itu, di akhir November 2020, dirinya juga diminta oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk terlibat dalam pembuatan single ‘Asa untuk Indonesia’.

Selain itu, sanggar tari miliknya yang berada di Yogyakarta tersebut juga mendapatkan bantuan berupa revitalisasi, renovasi sarana dan prasarana serta pembekalan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK). Hal ini buah dari usahanya yang mengajukan proposal kegiatan kesenian kepada pemerintah.
 
“Jadi itu yang bikin kita masih hidup,” imbuhnya.

Sementara untuk pembelajaran tari, sanggar kelolaannya itu sekarang lebih memilih untuk mengajarkan tarian-tarian tradisional kepada para muridnya dengan metode daring. Meskipun juga ada sebagian murid yang sudah memilih untuk berlatih secara langsung. Pun dengan pentas-pentas yang saat ini sudah banyak dijalankan secara virtual. 

Meski begitu, pentas virtual menurutnya belum bisa benar-benar menghidupkan lagi seni pertunjukan, khususnya tari. Sebab, bagi penonton menyaksikan pentas virtual bukanlah hal familiar. 

Tari Dwimuka karya Didik Nini Thowok (Sumber: didikninithowok.id).
“Tapi ya mau enggak mau harus dilakukan. Karena kita juga enggak mau mati begitu saja. Jadi ya pelan-pelan lah,” tutur dia.

Seniman alih profesi

Wabah Covid-19 yang dengan cepat menjelma menjadi pandemi praktis membuat seluruh sektor usaha kompak berjatuhan, tidak terkecuali sektor ekonomi kreatif. Sebagai salah satu sub sektor ekonomi kreatif yang mengandalkan ruang serta dukungan penonton, dampak pagebluk jelas tidak bisa dihindari pula oleh seni pertunjukan. Sebut saja seni tari, pentas musik, teater, monolog, atau yang lainya.

Bahkan, kejatuhan membuat banyak seniman tari terpaksa alih profesi. Tidak ada ‘panggung’ untuk mereka menari dan ketiadaan penonton lantaran harus menerapkan anjuran di rumah saja, adalah alasan utamanya.

“Di awal pandemi, banyak seniman-seniman tari yang malah jadi tukang ojek online, jualan sayur, atau bertani,” ungkap Penggagas Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI) Agustina Rochyanti, kepada Alinea.id, Senin (31/1).

Di saat yang sama, bisnis-bisnis sanggar tari juga harus tutup. Kemudian, pemiliknya pun dipaksa memutar otak, agar dapur rumah tangga tetap bisa mengepul. Berbagai cara untuk bertahan mulai dilakukan. Mulai dari alih profesi hingga menunggu pagebluk mereda dengan mengandalkan uang tabungan dan menjual segala aset yang dimilikinya.

Menurut Penari Martinus Miroto, semenjak pandemi, dunia tari telah kehilangan panggung sebagai ruang ekspresi. Ia mengaku alami unfreezing atau perubahan yang tidak menentu.

Agar tidak mati dan para seniman tari tetap bisa berkarya, tari yang termasuk dalam seni pertunjukan harus tetap berjalan dalam kondisi serba sulit ini. Hal ini pun dilakukan oleh para pegiat tari dengan mengakrabkan diri dengan perangkat digital seperti kamera. Dus, lahirlah karya seni tari virtual. 

Menurutnya, bukan hanya tarian yang ditampilkan melalui media daring saja. Ada pula karya tari berbasis koreografi dan sinematografi yang ditangkap kamera, dimampatkan dengan komputer, ditransmisikan melalui jaringan internet, kemudian dibuka kembali dengan komputer dan diproyeksikan dalam layar.

“Sebenarnya, ini masih menjadi perdebatan, baik di kalangan seniman atau akademisi tari. Apakah kemudian tari virtual ini masih menjadi satu dengan genre tari atau malah film,” katanya, saat dihubungi Alinea.id, belum lama ini.

Murid sanggar tari bersiap pentas. (Dokumentasi Sanggar Tari Ngudi Budaya Luhur).

Sebab, jika dilihat dari prosesnya, tari virtual diproduksi oleh penari. Namun, jika dilihat dari sisi produk, tari virtual akan berbentuk akhir video atau film. Karenanya, tari virtual masih berada di antara seni tari dan film. 

“Tetapi hal yang terpenting saat ini adalah bagaimana kolaborasi koreografer dengan videografer bisa menciptakan kegairahan dunia seni tari di masa pandemi sehingga tetap terasa hidup kembali,” ujar seniman yang juga merupakan staf pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Mengemas tari dalam video

Hal ini pun lantas diamini oleh Penggagas Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI) Agustina Rochyanti. Menurutnya, yang terpenting dari tari virtual adalah bagaimana para seniman tari dapat mengemas kreativitas mereka ke dalam sebuah video atau film. 

Tidak masalah, apakah seniman tersebut akan menampilkan tariannya murni sebagai seni tari biasa, baik tari tradisional, modern, maupun kontemporer. Atau dengan mengkolaborasikannya dengan dialog, sehingga menjadi drama atau opera tari yang apik. 

Namun, untuk mengembangkan tari virtual, para seniman utamanya seniman tari yang ada di pelosok-pelosok tanah air maupun sanggar-sanggar tari yang mendidik calon penari harus terlebih dulu memahami teknologi. Sebab, bagaimanapun selain kreasi tarian, teknologi dan kemampuan videografi menjadi skill utama lainnya dalam pengembangan tari virtual.

“Sekarang memang sudah banyak seniman daerah yang menampilkan tariannya di Youtube atau Instagram. Tapi sangat sederhana. Karena mereka cuma bisa menggunakan kamera saja dan tidak menguasai teknik videografi yang bagus,” jelas Agustina, melalui sambungan telepon, Senin (31/1).

Selain dengan melakukan transformasi digital, para seniman tari dan sanggar-saggar tari pun kini telah memberanikan diri untuk beraktivitas secara langsung. Hal ini tentunya dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

Menurut perempuan yang juga aktif sebagai kurator tari ini, untuk lebih memaksimalkan seni tari sebagai salah satu penggerak ekonomi kreatif Indonesia, pemerintah harus memberikan lebih banyak pelatihan. Terutama terkait teknologi dan informasi kepada para pegiat tari. 

Murid sanggar tari Akar Randu Alas berlatih tari Jaipong. (Dokumentasi sanggar Akar Randu Alas).

Mengingat saat ini kemampuan videografi sangat dibutuhkan oleh para seniman tari maupun sanggar-sanggar tari, agar nantinya dapat menyajikan video tarian mereka kepada dunia. 

“Apalagi, kalau daring kan penampilan para seniman bisa dilihat oleh banyak orang. Tidak hanya penonton dari Indonesia, tapi juga dari luar negeri,” katanya.

Agustina juga menekankan pentingnya suntikan dana untuk sanggar tari. Tujuannya tentu agar sanggar mati tidak mati karena kekurangan pemasukan. Bagaimanapun, ujarnya, sanggar tari merupakan tempat awal di mana penari-penari andal Indonesia dilahirkan.
 
Sementara itu, Koordinator Seni Musik, Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sudaryana menguraikan, untuk membangkitkan kembali seni pertunjukan yang meliputi juga seni tari, pemerintah telah membuat beberapa program. Beberapa di antaranya adalah Program Pentas di Rumah yang dilaksanakan pada 2020 lalu. 

Kemudian ada Program Aksilarasi (Aksi, Selaras, Sinergi) yang merupakan pendampingan dari Kemenparekraf dalam penciptaan produk ekonomi kreatif unggulan di bidang musik, seni pertunjukan, seni rupa, dan penerbitan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan pengembangan pariwisata di Labuan Bajo. 

Persebaran Unit Usaha Ekonomi Kreatif Berdasarkan Sub Sektor (Sumber: Statistik Ekonomi Kreatif 2021).
Sub sektor ekonomi kreatif Jumlah unit usaha

Arsitektur

5.740
Desain interior 798
Desain Komunikasi Visual (DKV) 616
Desain produk 3.367
Film, animasi, dan video 2.418
Fotografi 40.436
Kriya 1.194.509
Kuliner 5.550.960
Musik 34.242
Fesyen 1.230.988
Aplikasi dan game developer 12.441
Penerbitan 83.496
Periklanan 3.055
Televisi dan radio 3.944
Seni pertunjukan 19.772
Seni rupa 17.044

Selanjutnya, pemerintah juga membuka kesempatan pemberian pendanaan kepada para seniman yang proposal programnya terpilih untuk dikurasi. Di tahun ini, pemerintah kembali menggalakkan Program Ngamen dari Rumah dan Program Aksilarasi di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kegiatan latihan anak-anak menari tradisional. (Dokumentasi Sanggar Seni Gema Binangkit).

Sudaryana bilang, khusus untuk Program Aksilarasi, akan diprioritaskan kepada seniman-seniman yang ada di 5 daerah Destinasi Pariwisata Super Prioritas Indonesia, seperti Danau Toba di Sumatera Utara, Candi Borobudur di Magelang, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, dan Likupang di Sulawesi Utara. 

Menurut laki-laki yang juga masih aktif menari ini, langkah ini dilakukan untuk menarik lebih banyak wisatawan di lima daerah tersebut. Dengan meningkatnya wisatawan, praktis akan membuat perekonomian daerah tersebut dan juga Indonesia akan terkerek naik.

“Tapi untuk seniman di daerah lain jangan khawatir, karena kita juga tidak akan lepas tangan begitu saja,” jelasnya.

Namun demikian, Sudaryana mengaku, untuk memaksimalkan kontribusi seni pertunjukan khususnya tari terhadap perekonomian nasional tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Melainkan membutuhkan kerja sama dari pihak lain, baik Pemerintah Daerah melalui Dinas Kebudayaannya, hingga seniman-seniman kondang untuk memberikan pendampingan pada seniman kecil.

“Ini yang saya belum lihat,” tuturnya.

Sementara itu, sebelumnya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno berkomitmen untuk terus mendukung sub sektor seni pertunjukan secara hybrid. Dengan mencari seniman-seniman berbakat melalui program yang sudah disediakan dan menampilkan talenta mereka di channel Youtube Kemenparekraf.

Dengan hidupnya seni pertunjukan daerah, Sandiaga yakin, lapangan kerja di daerah sekitarnya akan ikut terbuka lebar. Selain juga seni pertunjukan di daerah tersebut bisa menjadi salah satu daya tarik unggulan untuk atraksi pariwisata. 

“Dengan meningkatnya ekonomi kreatif, maka ini menjadi peluang besar bagi munculnya usaha atau bisnis baru yang membantu menyelesaikan permasalahan pengangguran di Indonesia. Tentu perlu kolaborasi, kerja sama berbagai stakeholder untuk mendorong seni pertunjukan di Indonesia,” katanya, dalam Workshop Kata Kreatif Indonesia, November lalu.

Berita Lainnya