sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Cerita Boediono soal bailout Bank Century

Dipikirannya saat itu, bukan lagi mengenai risiko politik. Tapi bagaimana semua pertimbangan ekonomi Indonesia ke depannya.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Rabu, 28 Nov 2018 19:50 WIB
Cerita Boediono soal bailout Bank Century

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta memvonis Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang Pengelolaan Moneter Budi Mulya pada 16 Juli 2014 lalu, selama 10 tahun penjara atas kasus rasuah Bank Century yang menyeretnya. Boediono yang kala itu menjadi Wakil Presiden periode 2009-2014, sekaligus mantan Gubernur BI sedikit cerita mengenai kondisi kala itu. 

Boediono menjelaskan, keputusannya menyelamatkan Bank Century 10 tahun silam, bukanlah keputusan yang berasal dari dirinya sendiri. 

"Suatu proses yang saya kira cukup terbuka dan transparan. Diskusinya sudah beredar luas. Tidak banyak negara yang bisa dapat rekaman diskusi di bank sentral," ujarnya saat menjadi pembicara di salah satu forum media nasional di Djakarta Theater, Rabu (28/11). 

Bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang berperan sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Keduanya memimpin rapat soal tegangnya bank tersebut di tengah krisis ekonomi global saat itu. 

Dipikirannya saat itu, bukan lagi mengenai risiko politik. Tapi bagaimana semua pertimbangan ekonomi Indonesia ke depannya. "Suasana pada waktu itu sudah sangat serius. Waktu itu pikirannya satu. Jangan sampai Ekonomi Indonesia jeblok lagi seperti 1997-1998. Satu-satunya opsi pada saat itu, kalau ada bank yang sakit, jangan ditutup," tuturnya. 

Boediono juga melanjutkan kilas baliknya soal kondisi ekonomi pada 1997-1998 yang cukup menegangkan. Pada saat itu, beberapa bank ditutup. Kala itu, likuiditas menjadi mengerikan. Indonesia sendiri masih mencari apa musababnya, bahkan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund - IMF) juga belum juga menemukan akar masalahnya yang menimpa Indonesia kala itu.

"Itu kasus baru, bahkan IMF masih cari-cari. Yang terjadi pada waktu itu, resep ronde pertama salah. Menutup 16 bank, 3-4% dari total aset bank tanpa ada payung pengamanan. Kemudian baru diketahui," jelasnya. 

Kejadian pun terulang ketika Megawati Soekarnoputri menjadi presiden. Kondisi perekonomian Indonesia saat itu, persis seperti terjadi setelah krisis.Kepercayaan pelaku ekonomi dari negara lain terhadap solvabilitas keuangan negara kala itu rendah. 

Sponsored

"Sehingga yang punya duit tidak mau investasi," kata dia. 

Setelah itu, barulah Indonesia mesti menyelesaikan pekerjaan rumahnya untuk membuat ekonomi stabil lagi. Caranya, dengan menjaga inflasi dan membawa suku bunga dalam negeri tidak lagi negatif seperti yang sudah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.