sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Coronavirus bisa gerus pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 0,3%

Pertumbuhan ekonomi pada 2020 diprediksi hanya mencapai 4,9%.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Rabu, 12 Feb 2020 19:05 WIB
Coronavirus bisa gerus pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 0,3%
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2020 akan terkoreksi sebesar 0,11% hingga 0,3% karena penyebaran coronavirus di sejumlah negara di dunia. Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono mengatakan, dengan demikian pertumbuhan ekonomi pada 2020 hanya mencapai 4,9%, atau di bawah target sebesar 5,3%.

Susiwijono menuturkan saat ini pemerintah tengah melakukan simulasi untuk melihat dampak dari penyebaran coronavirus tersebut kepada perekonomian.

"Di simulasi kemarin kita masih pakai data minggu petama. Tapi ternyata case-nya eksponensial. Kami sedang menghitung kembali, Bapak Menko Perekonomian (Airlangga Hartarto) sudah sampaikan angka dampaknya bisa sampai 0,3%. Kalau dari target kita masih berani bilang 5,0%. Tapi kalau hitungannya dari realisasi 2019 yang hanya 5,02%. Kalau dikurangi 0,3% tinggal 4,9%," katanya di Hotel Milenium, Jakarta, Rabu (12/2).

Susi menjelaskan dampak coronavirus dapat memukul berbagai sektor perekonomian di tanah air. Sektor yang pertama terdampak adalah pariwisata karena terbatasnya pergerakan orang dari China.

Dia mengatakan, pada winter season selama Oktober 2019 hingga Maret 2020 diperkirakan akan ada kehilangan penumpang pesawat sebanyak 2,2 juta dari China. Penumpang ini tidak hanya yang berstatus sebagai wisatawan mancanegara (wisman) namun juga tenaga kerja asing profesional.

"Winter season itu kira-kira yang utilitasnya loss 2.226.000 seat dari Tiongkok saja. Bukan hanya wisman," uajrnya.

Susi menerangkan terbatasnya pergerakan orang juga akan menghambat pergerakan barang. Pembatasan penerbangan ke China juga akan menyebabkan pengangkutan kargo dari dan menuju China terhambat, padahal China adalah tujuan ekpor terbesar kedua Indonesia.

"Ekspor kita 16,8% ke China, dan nilainya US$28 miliar. Komoditasnya batu bara, barang tambang dan minyak sawit mentah (CPO). Dengan kondisi ini akan terus berdampak dan neraca dagang kita akan melebar kalau masalah ini tidak dipikirkan," ucapnya.

Sponsored

Sementara, dari sisi impor, pembatasan akses dari China akan berdampak kepada sektor industri. Sebab, sebagian besar impor China ke Indonesia berupa barang modal dan bahan baku. 

"Impor China 24% barang modal dan bahan baku. Kalau lalu lintas orang dampaknya tinggi, tapi kalau barang ada siklus yang harus diikuti. Mumpung masih sebulan kita harus pikirkan ini karena berdampak kepada industri kita," ucapnya.

Namun, dia mengatakan, hingga saat ini impor bahan baku dan barang modal dari Tiongkok masih berjalan dan belum ada hambatan. Hanya saja, kata dia, saat ini pemerintah tengah mencari alternatif untuk impor binatang hidup yang dihentikan. 

"Sementara ini masih tetap jalan, tapi akan terus kita antisipasi kalau ada kendala lebih jauh. Misalnya dengan mengalihakan impor barang dari negara lain," ujarnya. 

Waspadai lonjakan kredit bermasalah

Waspadai lonjakan kredit bermasalah

Rabu, 01 Apr 2020 17:59 WIB
Pecah kongsi di partai Tommy

Pecah kongsi di partai Tommy

Rabu, 01 Apr 2020 06:01 WIB
Memetik laba di tengah pandemi corona

Memetik laba di tengah pandemi corona

Selasa, 31 Mar 2020 17:51 WIB
Berita Lainnya