sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Harga CPO anjlok, laba bersih Astra Agro Lestari rontok hingga 89,5%

Laba bersih Astra Agro Lestari tergerus harga minyak sawit yang turun mencapai 20,4% pada kuartal I-2019.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Selasa, 30 Apr 2019 15:31 WIB
Harga CPO anjlok, laba bersih Astra Agro Lestari rontok hingga 89,5%

PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) meraup laba bersih sebesar Rp37,4 miliar pada kuartal I-2019. Laba bersih ini anjlok 89,5% dibandingkan  periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp355,5 miliar.

Head of Investor Relations Astra Agro Lestari Rudy Limardjo mengatakan penurunan laba bersih perusahaan milik Astra Group ini lantaran harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) yang turun mencapai 20,4% pada kuartal I-2019.

"Harga CPO year to date (ytd) pada Maret 2018 senilai US$674 per ton, sedangkan harga pada ytd Maret 2019 hanya US$540 per ton," katanya dalam paparan kinerja perusahaan Grup Astra kuartal I-2019 di Menara Astra, Jakarta, Selasa (30/4).

Rudy menjelaskan penurunan laba bersih ini juga sejalan dengan penurunan laba operasional pada kuartal I-2019 sebesar 92,8% menjadi Rp33,8 miliar dari laba operasional periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp66,2 miliar. 

Selain itu, pendapatan bersih perusahaan selama triwulan I-2019 ini juga mengalami penurunan sebesar 4,8% menjadi Rp4,23 triliun dbandingkan triwulan I-2018 senilai Rp4,46 triliun.

Selain itu, pembukuan keuangan pada kuartal I-2019 ini merupakan hasil dari kontrak pada November dan Desember 2018. Sehingga harga CPO mengikuti harga pada bulan tersebut.

"Seperti diketahui, harga CPO pada November berada pada titik terendah sejak Januari 2018 yaitu pada harga US$475/ ton dan pada Desember US$489/ton," ucapnya.

Meski demikian, kata Rudy, penurunan pendapatan yang terjadi pada perusahaan bukan akibat dari kampanye hitam sawit oleh Uni Eropa. Bahkan, penurunan pendapatan yang terjadi di Astra Agro Lestari juga dialami perusahaan sawit lain.

Sponsored

"Mungkin kampanye hitam Uni Eropa ada pengaruhnya tapi tidak signifikan," kata Rudy.

Padahal, sepanjang kuartal I-2019 AALI mengalami kenaikan volume penjualan 24,7% atau mencapai 598.558 ton, dibandingkan kuartal I-2018 sebanyak 480.047 ton. 

Kenaikan penjualan terbesar dari CPO sebanyak 458.390 ton, naik 50,8% dibandingkan 2018 sebanyak 303.900 ton.

Perbaikan di kuartal II-2019

Lebih lanjut, Rudy menyebut pendapatan perusahaan ditargetkan membaik di kuartal II-2019, karena adanya tren kenaikan permintaan dan harga CPO pada kuartal I-2019.

"Pada kuartal I-2019, tren harga CPO menggunakan pencatatan kontrak kami di November-Desember, dan itu sedang menyentuh harga terendah. Jadi nanti di kuartal II-2019, baru kelihatan perbaikan karena tren harga naik terus," kata Rudy.

Meski ada perbaikan harga di awal tahun, lanjutnya, pihaknya tidak berekspektasi besar harga akan naik pada 2019. Apalagi permintaan CPO baik domestik maupun ekspor diproyeksi stagnan.

Rudy mengatakan untuk mengendalikan produksi, kemungkinan AALI tidak meningkatkan produksi inti, namun menambah pembelian buah sawit dari luar negeri. 

"Kami belum berani ekspektasi yang terlalu besar, karena demand flat, tahun ini diharapkan bisa naik karena B20. Kami juga tidak serta merta langsung menurunkan produksi, karena tergantung cuaca juga. Kalau harga turun bukan berarti menurunkan volume," kata dia.

Berita Lainnya