close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkapkan tingkat konsumsi rumah tangga selama musim Ramadan dan Idulfitri 2019 ini lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya. / Antara Foto
icon caption
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkapkan tingkat konsumsi rumah tangga selama musim Ramadan dan Idulfitri 2019 ini lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya. / Antara Foto
Bisnis
Minggu, 09 Juni 2019 16:40

Indef: Konsumsi rumah tangga Ramadan dan Idulfitri 2019 melemah

Tingkat konsumsi rumah tangga selama musim Ramadan dan Idulfitri 2019 ini lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
swipe

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkapkan tingkat konsumsi rumah tangga selama musim Ramadan dan Idulfitri 2019 lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pelemahan ini akan berdampak pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga, Produk Domestik Bruto (PDB), dan inflasi triwulan II-2019 secara keseluruhan.

"Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan kedua tahun ini diperkirakan bakal mengalami penurunan atau hanya tumbuh pada level 4,9%-5,0%," ujar Peneliti Indef Abra P.G Talattov kepada Alinea.id, Minggu (9/6).

Abra menjelaskan konsumsi rumah tangga akan berpengaruh pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan II-2019. Indef memprediksi PDB kuartal II-2019 tidak terlampau jauh dibanding triwulan sebelumnya.

"Prediksinya PDB triwulan II-2019 ini akan berada pada range 5,0%-5,1%," katanya.

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2019 mencapai 5,01%, dan PDB sebesar 5,07%. 

Realisasi PDB ini di bawah target pemerintah yakni naik menjadi 5,2% dibanding triwulan I-2019.

Abra menjelaskan pelemahan konsumsi pada musim Ramadan dan Lebaran 2019 terjadi akibat tingginya harga tiket pesawat yang menyebabkan penurunan jumlah penumpang secara drastis.

"Penghambat laju konsumsi dan PDB itu karena tingginya harga tiket pesawat yang menyebabkan tidak optimalnya pertumbuhan sektor transportasi," ucapnya.

Menurut Abra, pertumbuhan sektor transportasi tahun ini sangat jomplang dibanding tahun lalu. Pada triwulan I-2019, pertumbuhannya hanya sebesar 5,25% atau berkontribusi 4,34% saja terhadap PDB. Sedangkan tahun lalu, sektor transportasi mampu tumbuh sebesar 8,59% atau berkontribusi sebesar 6,64% terhadap PDB.

"Akibatnya selain jumlah pemudik menurun, pertumbuhan ekonomi di luar Pulau Jawa dan Sumatera juga ikut tertekan," tuturnya.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, pada arus mudik dan balik tahun ini, sektor transportasi memang mengalami penurunan hingga 30,71% secara keseluruhan. Penurunan terbesar disumbang  oleh transportasi udara yang turun sebesar 20%-30% dibanding lebaran tahun lalu.

Penurunan tidak hanya terjadi pada jumlah penumpang namun juga pada pergerakan pesawat yang turun 22%, kargo turun 48%, dan bagasi turun 50%.

Dengan kondisi demikian, Indef juga menyimpulkan inflasi musim lebaran tahun ini bakal terkerek cukup tinggi dibandingkan lebaran tahun sebelumnya.

"Inflasi lebaran kali ini akan lebih tinggi dari tahun lalu, di mana perkiraan untuk Juni 2019 ini bisa mencapai 0,7% month to month (mtm)," ujar Ekonom Indef Eko Listiyanto kepada Alinea.id.

Catatan terakhir Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa tingkat inflasi Mei 2019 atau selama Ramadan 1440 H ditutup stagnan pada level 0,47% dibanding bulan sebelumnya atau seara 3,1% secara tahunan.

Inflasi ini merupakan yang terendah dibanding tahun-tahun sebelumnya di bulan ramadan yang rata-rata mencapai nyaris 1%.

img
Soraya Novika
Reporter
img
Laila Ramdhini
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan