logo alinea.id logo alinea.id

Indosat kejar target bangun 18.000 BTS

Pembangunan BTS sebagai bagian dari percepatan perbaikan jaringan 4G Indosat.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 02 Agst 2019 15:00 WIB
Indosat kejar target bangun 18.000 BTS

PT Indosat Tbk. (ISAT) mempercepat perbaikan jaringannya. Indosat memperluas target coverage jaringan 4G mereka menjadi 90% pada semester-II 2019 ini.

Head of Corporate Communication Indosat Turina Farouk menjelaskan, hingga saat ini jaringan 4G Indosat telah mengkaver 81% dari total populasi Indonesia. Ada pun fokus perusahaan saat ini masih berada di luar Pulau Jawa, sayang persentasenya enggan disebut Turina. 

Meski begitu, untuk mencapai target tersebut Indosat berencana menambah 18.000 Base Tranceiver Station (BTS) jaringan 4G mereka pada paruh kedua tahun ini. Pembangunan BTS tersebut akan dialokasikan dari dana belanja modal tahun ini sebesar 88% dari Rp10 triliun, BTS yang akan dibangun tersebut juga sudah siap dengan jaringan 5G. 

"BTS yang mau dipasang itu sudah siap 5G. Sekarang masalahnya ekosistemnya yang belum ada, frekuensinya belum ada, handphone juga baru satu merek yang menyediakan 5G," kata Turina.

Untuk diketahui, sumber belanja modal akan berasal dari: penerbitan obligasi, sukuk, kas internal, dan fasilitas pinjaman lainnya.

Pada 24 Juli 2019 lalu, Indosat menerbitkan obligasi berkelanjutan III Indosat tahap II tahun 2019 sebesar Rp2,5 triliun dan Sukuk Ijarah berkelanjutan III Indosat tahap II tahun 2019 sebesar Rp749 miliar.

Obligasi yang diterbitkan ini terdiri dari empat seri. Rinciannya, Seri A dengan tenor 370 hari dengan nilai Rp1,11 triliun, Seri B tenor 3 tahun dengan nilai Rp1,33 triliun.

Seri C dengan tenor 5 tahun senilai Rp67 miliar. Seri D dengan tenor 10 tahun senilai Rp75 miliar.

Sedangkan sukuk ijarah yang diterbitkan perseroan terdiri dari empat seri yaitu: sukuk ijarah Seri A dengan tenor 370 hari senilai Rp310 miliar, Seri B dengan tenor 3 tahun senilai Rp60 miliar, Seri C dengan tenor 5 tahun senilai Rp404 miliar, dan Seri D dengan tenor 10 tahun senilai Rp20 miliar.

Turina menjelaskan obligasi mereka mengalami oversubscribe sebanyak 1,7 kali dari kebutuhan mereka yang semula hanya Rp2 triliun. Melihat hasil penawaran obligasi tersebut, perusahaan akan mengkaji right issue untuk pendanaan perseroan pada semester II-2019.

"Rasanya dengan obligasi yang oversubscribed ini juga akan kami lihat kemungkinannya di semester II. Tapi kebutuhan sekarang hanya Rp2 triliun," tutur Turina.