sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kiprah si 'newbie' memajang tanaman hias lokal di kancah global

Sebagai pemain baru, ekspor tanaman hias Indonesia masih tergolong sangat kecil dibandingkan dengan negara tropis lainnya.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Rabu, 05 Okt 2022 18:53 WIB
Kiprah si 'newbie' memajang tanaman hias lokal di kancah global

Sudah dua tahun lebih, Sari (38) menyukai tanaman hias. Teras dan halaman belakang rumahnya di bilangan Tangerang Selatan pun hampir serupa ‘hutan’ mini dengan berbagai jenis tanaman dalam keluarga Araceae (Aroid). Tanaman hias mulai dari Philodendron, Monstera, Aglaonema, Scindapsus, Homalomena, terlihat lebat dan kokoh dalam pot-pot berturus.

Ibu tiga anak ini memang termasuk penggemar Aroid ‘angkatan pandemi’ atau baru mulai mengoleksi berbagai jenis tanaman hias sejak era pandemi. Keindahan dan keunikan setiap jenis Aroid mengalihkan Sari dari kejenuhan rutinitas bekerja dari rumah (work from home). 

“Saya memang tergolong newbie. Tapi sekarang benar-benar jatuh cinta, enggak bisa enggak beli tanaman,” ujarnya saat berbincang dengan Alinea.id, Jumat (5/9).

Pada awal pandemi, karyawan swasta ini hanya membeli tanaman apapun yang ia lihat cantik dengan harga sesuai bujet. Namun lambat laun tanaman-tanaman ini sangat cepat pertumbuhannya sehingga justru membuat taman kurang estetik. Sejak itu, ia menyetop pembelian tanaman untuk pemula yang relatif berharga murah.

“Sekarang mau fokus sama tanaman yang agak mahal tapi benar-benar istimewa dan punya nilai jual tinggi. Mereka juga termasuk slow grower, makanya harganya lebih mahal,” sebutnya.

Misalnya, belakangan ia mulai mengoleksi tanaman varigata atau bercorak putih/kuning seperti Monstera borsigiana varigata, Florida Beauty, Philodendron Strawberry Shake, dan lainnya. “Harganya sempat jutaan, tapi sekarang udah turun drastis. Harusnya ini waktunya beli,” selorohnya.

Tanaman hias Philodendron plowmanii. Dokumentasi istimewa.

Redi Fajar Kurniawan pun mengakui tanaman hias sangat booming pada era pandemi. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Tren ini mengglobal seiring dengan banyaknya negara yang memberlakukan pembatasan sosial. 

Sponsored

“Tanaman dalam pot atau house plant 5 tahun belakangan semakin meningkat trennya pertama karena karakter natural yakni kita ingin merawat atau memelihara sesuatu entah tanaman atau binatang,” kata Owner RAV House PT Ravindo Sukses Mulia ini dalam Webinar Alinea Forum: “Peluang Besar Ekspor Tanaman Hias”, Jumat (30/9).

Ditambah lagi adanya WFH yang membuat tren tanaman hias kian moncer. “Dengan merawat dan ngobrol dengan tanaman sedikit banyak bisa lebih happy,” ujarnya yang juga penyuka tanaman hias.

National Gardening Association, kutipnya, juga mencatat pada 2015 ada 6 juta orang Amerika yang baru menyukai berkebun. Di mana 5 juta diantaranya adalah milenial dengan perputaran bisnis tanaman hias di negeri Paman Sam mencapai US$1,7 miliar.

“Ini tren mengglobal,” sebutnya.

Pilih ekspor

Hobi berkebun ini juga mengantarkan Redi pada bisnis jual beli tanaman yang dimulai 2018 silam. Bahkan, 80% penjualan RAV House adalah untuk ekspor. Bermula dari hobi yang kemudian membuatnya terjun langsung untuk propagasi (perbanyak) tanaman. Hasilnya, iseng-iseng ia jual di marketplace. 

Alhamdulillah ada request dari lokal tapi kita juga lihat potensi dan tren di global,” tambahnya.

Pembeli pertama dari luar adalah pelanggan dari Kanada melalui akun Instagram RAV House. Namun, Redi menginginkan agar ekspor yang dalam jumlah kecil itu harus tetap sesuai prosedur. 

“Karena kalau kirim tanpa comply ada potensi tanaman mahal di-blocked dan ada potensi market-nya bagus jadi enggak bisa kirim dengan jumlah besar,” ujarnya.

Karenanya, pria warga Bogor ini pun segera berkonsultasi dengan Badan Karantina Pertanian di kota hujan itu. Sejak 2018, RAV House terus mengekspor tanaman hias ke negara seperti Amerika Serikat, negara kawasan Asia bahkan hingga Eropa. Menurutnya, penjual tidak kesulitan meski produk yang dikirim masih bisa dihitung jari.

“Karena kalau ekspor tanaman itu harga tanaman beda dengan ongkos shipping-nya,” ujarnya.

RAV House pun kini berkembang dan memiliki enam nursery, 23 orang karyawan dan satu toko di Bandung. RAV House juga membangun satu laboratorium pemuliaan tanaman dan satu galeri.

Tidak hanya pasar ekspor, RAV House juga turut menggaet pasar lokal di masa pandemi yang mengalami peningkatan permintaan berlipat-lipat. Tak heran, hal ini membuat harga tanaman naik fantastis.

Demam tanaman hias di tanah air mulai terjadi pada pertengahan tahun 2020 hingga menjelang akhir 2021. Lalu memasuki tahun 2022 permintaan dari konsumen lokal mulai berkurang dan membuat harga tanaman turun.

“Menurut saya harga tanaman sekarang bukan turun sih, tapi terkoreksi. Harga ini jauh dibanding era Covid-19 tapi tetap harga lebih tinggi dibanding 2018. Kami lihat harga ini real market yang sesungguhnya,” bebernya.

Tanaman hias asli Indonesia. Tangkapan layar Webinar Alinea Forum: Peluang Besar Ekspor Tanaman Hias

Redi menambahkan tingginya demand tanaman hias di era 2020-2021 bahkan membuatnya harus bersaing dengan para petani. Pasalnya, petani juga membuka akses jualan langsung ke konsumen karena melihat banyaknya permintaan.

“Itu tren kemarin tapi konsumen Indonesia cepat bosan begitu suka, pengen beli yang banyak. Kalau customer luar (negeri) punya satu dirawat sampai benar-benar gede baru beli yang lain,” sebutnya.

Masih newbie

Karena itu, saat ini market lokal lebih turun dibanding pasar ekspor. Menurutnya, potensi ekspor tanaman hias dari Indonesia masih terbuka lebar. Saat ini, Indonesia jauh tertinggal dibanding negara di kawasan Asia Tenggara, atau bahkan negara di sekitar garis khatulistiwa lainnya yang telah dulu jadi pemain.

Redi memaparkan berdasarkan data Trademap.org, pasar florikultura atau tanaman berbunga dan tanaman hias di tingkat global sangat besar. Terbukti dari data ekspor tanaman hias sepanjang 2021 yang mencapai US$27,77 miliar. Dari lima puluh pemain eksportir, Indonesia berada di posisi hampir buncit yakni peringkat ke-47 dengan nilai ekspor US$24,16 juta.

Di posisi pertama ada Belanda dengan nilai ekspor mencapai US$14,04 miliar. Kedua adalah Kolombia dengan nilai yang sangat jauh berbeda yakni US$1,7 miliar. Jika dibandingkan negara di garis khatulistiwa atau sekitar lainnya selain Kolombia, RI juga tertinggal cukup jauh. Misalnya dengan Ekuador di posisi 8 dengan nilai ekspor US$964 juta, Kenya di posisi 6 dengan US$805 juta, dan Ethiopia di posisi 13 dengan US$290 juta.

Indonesia juga tertinggal jauh dengan negara tetangga yakni Thailand yang berada di posisi 23 dengan nilai US$122 juta, Malaysia di posisi 27 dengan nilai ekspor US$116 juta, dan Vietnam di posisi 29 dengan US$83,25 juta.

Memang, tidak hanya Redi dengan RAV House saja yang menjadi pemain baru. Bahkan, Indonesia pun tergolong baru dalam bisnis tanaman hias global. “Naiknya ekspor 3 tahun terakhir lebih karena peran aktif kita sebagai pencinta tanaman yang menangkap peluang itu dan pemerintah punya program,” sebutnya.

Tangkapan layar Webinar Alinea Forum:

Hal ini pun diamini oleh Sub Koordinator Benih Ekspor dan Antar Area Pusat Karantina Tumbuhan dan KHN Badan Karantina Pertanian, Aulia Nusantara. Dia menceritakan selama ini ekspor florikultura yang banyak dilakukan adalah produk bunga potong seperti Krisan, Anggrek, Saintpaulia, Euphorbia, Lilium, dan lainnya. 

Namun, pada tahun 2021 atau masa pandemi terjadi lonjakan drastis ekspor dari golongan tanaman hias yang utuh yakni seluruh pohon. Golongan tanaman hias (unspecified) ini mencapai frekuensi ekspor 5.305 dan volume 10.103.480 ton.

“Benih hortikultura ekspor didominasi oleh berbagai jenis tanaman hias dengan total nilai ekspor lebih dari Rp80 miliar,” katanya pada kesempatan yang sama. 

Jenis florikultura yang diekspor mulai dari krisan, saintpaulia, euphorbia, lilium, philodendron, lomandra dan lain-lain. Adapun negara tujuan utama yakni Amerika Serikat, Kanada, Belanda, Korea Selatan, Jepang, dan Australia. Sementara tempat pengeluaran ekspor yakni Pelabuhan Tanjung Priok, Bandara Soekarno Hatta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Medan, dan Pontianak.

Kinerja ekspor tanaman hias yang signifikan juga berlanjut di tahun 2022. Aulia menyebut ekspor produk tanaman hias (campuran) lebih dari 6 juta batang dengan frekuensi 500 kali. Negara tujuannya adalah Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris, Kanada, dan lain-lain. Ke depan, Barantan juga melihat potensi pasar lain seperti Afrika dan Timur Tengah.

“2022 memang ada sedikit penurunan dari frekuensi dan volume tapi tren itu masih ada,” sebutnya.

Persyaratan super ketat

Lagi-lagi, sama halnya seperti produk hortikultura lain, ekspor tanaman hias juga menghadapi tantangan berupa persyaratan super ketat dari negara tujuan. Masing-masing negara menerapkan standar tanaman hias yang berbeda dengan syarat yang juga disesuaikan dengan kepentingan masing-masing.

Hal ini, kata Aulia tidak lepas dari keinginan masing-masing negara melindungi wilayahnya dari Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) baik itu berupa serangga hidup, cendawan, nematoda, bakteri, virus dan sebagainya. Untuk bisa ekspor, tanaman hias harus bebas OPT dengan menunjukkan phytosanitary certificate atau phytosanitary certificate re-export untuk produk yang akan diekspor kembali.

“Perlu ada kewajiban perlakuan sebelum pengiriman (phytosanitary treatment). Tanaman juga harus berasal dari area atau tempat produksi bebas OPT (pest free area (PFA)/pest free places of production (PFPP)/pest free production site (PFPS),” paparnya.

Pengelolaan OPT, tambahnya, juga harus ditetapkan secara efektif di lapangan. Plus persyaratan lain seperti mengekspor tanpa adanya tanah/media tanam, tidak rusak/busuk, bebas bagian-bagian tanaman yang tidak dikehendaki, dan kemasan harus bersih dan baru disertai informasi yang ditentukan.

“Jika kita enggak memenuhi syarat negara tujuan ada notification of non compliance (NNC) jadi ini seperti teguran dari negara tujuan,” tambahnya.

Hal ini jamak terjadi pada tahun 2020 dan 2021 namun berkurang pada tahun 2022. Selain kesalahan prosedur, kerusakan tanaman hias juga terjadi akibat masalah shipping/pengiriman. Imbas lain jika RI tidak memenuhi persyaratan adalah ditolak dengan dikirim ulang, pemusnahan, dan perlakuan ulang misal disemprot insektisida kembali. Namun yang paling fatal adalah penutupan akses pasar seperti terjadi di Taiwan.

“2020 beberapa kali kita dapat notification of non compliance dari Taiwan selama Januari sampai sekarang. Beberapa tanaman aroid enggak boleh masuk Taiwan. Ini jadi PR kita,” ungkapnya.

Tangkapan layar Webinar Alinea Forum: Peluang Besar Ekspor Tanaman Hias, Jumat (30/9)

Selain Taiwan yang mem-banned tanaman hias Indonesia, ada pula Jepang dan Korea Selatan. Pasalnya, ada tanaman yang membawa nematoda yang akhirnya cukup berkembang mematikan di negara tujuan itu karena berinang pada tanaman. Sayangnya, tak seperti serangga, nematoda masuk dalam jaringan tumbuhan sehingga tidak terlihat secara kasat mata.

“Ada yang akhirnya boleh diekspor tapi tanpa akar, tapi beberapa tanaman ada yang susah kalau tanpa akar,” sebutnya.

Begitu juga dengan negara lain misalnya tanaman Anthurium, Calathea dilarang masuk ke Jepang, Musae (pisang-pisangan) dilarang masuk AS, dan Homalomena, Epripenum, dan Scindapsus dilarang masuk ke Korea Selatan. Beberapa negara juga tidak menerapkan impor permit yang mempermudah masuknya produk tanaman hias Indonesia.

“Uni eropa selama ini enggak ada masalah 2 tahun terakhir sampai sekarang lancar kesana,” sebutnya. 

Sementara itu, Redi Fajar Kurniawan pun menyoroti dengan beragamnya germ plants asli Indonesia menjadi potensi ekspor luar biasa. Sayangnya petani terkendala modal sehingga tidak bisa membangun nursery yang cukup luas untuk memenuhi permintaan global. 

“Di Ciapus tidak ada petani yang mempunyai lahan di atas 1.000 hektar dan maksimal hanya punya 10 tanaman dari satu jenis. Jadi kalau mencari tanaman yang sama tidak bisa dari satu petani dan akhirnya kualitas pun beragam,” sebutnya.

Padahal, ke depannya pemain ekspor tanaman hias sangat ketat dan bahkan didukung oleh pemerintahnya. Seperti Ekuador yang gencar melakukan touring ke setiap negara untuk promosi. Begitu pun Thailand yang setiap nursery-nya sudah memiliki laboratorium pemuliaan tanaman atau Vietnam yang membuka investasi asing untuk pengembangan ekspor tanaman hias.

Selain tantangan tersebut, Barantan masih menemukan adanya ketidakpahaman eksportir maupun stakeholder terkait persyaratan ekspor. Bahkan ada yang mengirim tanaman tanpa ada sertifikat.  Ada pula pengiriman media pembawa yang sudah jelas-jelas dilarang.

Karenanya, selaku pengawas di sisi hilir  Barantan akan terus melakukan bimbingan teknis demi memoles produk tanaman hias agar kian kinclong di kancah global.
“Wewenang kami hanya pengawasan di border saja, kalau perizinan lengkap dari Kementan dan Kementerian Lingkungan Hidup, kami terbitkan sertifikasi,” ujarnya.

Ilustrasi Alinea.id/Firgie Saputra.
 

Berita Lainnya
×
tekid