sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kisah sukses UMKM kopi, omzet melejit di marketplace

UMKM penjual kopi mengalami lonjakan omzet di masa pandemi berkat penjualan melalui marketplace.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Rabu, 09 Mar 2022 14:15 WIB
Kisah sukses UMKM kopi, omzet melejit di marketplace

Sejak pandemi Covid-19 menyerang Indonesia pada 2020 silam, ribuan kedai kopi di tanah air mengalami sepi pembeli. Seperti halnya restoran, kedai kopi pun terkena imbas larangan ‘makan di tempat’ demi memutus rantai penyebaran virus SARS-Cov-2. 

Anto (39) pun terpaksa menyetop aktivitas nongkrong di warung kopi pada awal pandemi melanda Indonesia. Bapak tiga anak ini tak lagi mampir ke kedai kopi milik temannya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur sepulang kerja, karena tutup. 

Untungnya, kondisi ini tak berlangsung selamanya. Sejak era pembatasan sosial mengalami pelonggaran, kedai kopi milik teman Anto kembali beroperasi. Sejak awal 2021, Anto pun bisa kembali menyesap kopi di kedai itu bersama dengan teman-temannya.

“Kongko di warung kopi itu untuk melepas penat setelah kerja,” ujarnya saat berbincang dengan Alinea.id, Senin (28/2).

Ia juga mengaku sangat menggemari kopi specialty Indonesia jenis Arabica karena lebih ramah di lambungnya. “Kalau Robusta perut saya enggak kuat,” celetuknya.

Biji kopi lokal pilihan. Dokumentasi Coffeenatics.

Anto menjadi satu dari sekian banyak masyarakat Indonesia yang keranjingan ‘ngopi’. Belakangan, pamor kopi specialty sebagai kopi dengan kualitas atau grade terbaik pun makin meningkat. Budaya minum kopi ini juga menjadi bagian dari gaya hidup generasi milenial dan generasi Z.

Hal ini terlihat dari pertumbuhan jumlah kedai kopi seantero tanah air. Berdasarkan riset independen Toffin dan MIX MarComm SWA, jumlah kedai kopi di Indonesia hingga Agustus 2019 mencapai lebih dari 2.950 gerai, meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan pada 2016, yang hanya 1.000 gerai. 

Sponsored

Tercatat, market value yang dihasilkan mencapai Rp4,8 triliun. Namun demikian, angka riil jumlah kedai kopi dalam riset yang dilakukan Toffin ini bisa lebih besar karena sensus kedai kopi hanya mencakup gerai-gerai berjaringan di kota-kota besar. Tidak termasuk kedai-kedai kopi independen modern maupun tradisional di berbagai daerah. 

Namun demikian, kondisi pandemi Covid-19 dipastikan memengaruhi industri kopi tanah air. Pendiri Asosiasi Kopi Spesial Indonesia atau Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) Tuti Hasanah Mochtar mengakui di masa awal pandemi industri kopi sangat terpukul.

“Kalau lihat data secara tidak formal, tahun 2020 untuk industri kopi sangat terpukul tapi 2021 sudah mulai bangkit meski enggak senormal 2019,” kata dia kepada Alinea.id, Jumat (25/2). 

Menurutnya, pada awal masa pandemi industri kopi mengalami penurunan penjualan hingga lebih dari 50%. “Karena awal-awal pandemi orang masih belum tahu, masih kaget dengan adanya pandemi, 2021 sudah naik tapi belum normal,” tambahnya.

Barista yang sudah berkecimpung lebih dari 20 tahun di dunia kopi ini juga melihat pada tahun 2021 masih banyak orang yang berminat membuka usaha coffee shop. Ini terlihat dari penjualan mesin kopi yang masih tumbuh. 

“Sebenarnya coffee shop masih menarik untuk sebagai usaha,” ujarnya yang kerap menjadi juri kejuaraan barista di tingkat internasional ini.

Karenanya, dia pun yakin pada 2022 industri kopi nasional akan kembali melejit. Terlebih saat ini pemerintah telah bersiap memasuki era endemi dan keluar dari zona pandemi. Pun dengan banyaknya masyarakat Indonesia yang sudah divaksin Covid-19. Dus, nongkrong di kedai kopi akan kembali tren seperti pada era sebelum pandemi.

Sementara itu, dari sisi produksi kopi Indonesia juga sudah meningkat, meskipun stok dari panen sebelumnya pun masih ada. Masih banyaknya stok kopi, kata Tuti, tak lepas juga dari kondisi pandemi yang menyebabkan ekspor kopi terganggu pembatasan di tiap negara tujuan ekspor.

“Ekspor kopi paling banyak ke negara di Eropa. Namun, komoditas kopi kita diekspor ulang karena Eropa memiliki pasar komoditas. Indonesia banyak ekspor ke sana, tapi konsumsi kopi di Eropa enggak begitu besar, karena ekspor ke pasar komoditas,” bebernya.

Adapun Sumatera adalah asal kopi yang paling dikenal di kancah dunia menyusul sebuah gerai ternama internasional yang terlebih dahulu mempromosikan kopi Sumatera. “Tapi bukan berarti kopi lain enggak dikenal ya,” cetusnya.

Kategori paling laris

Tuti pun menyambut baik meluasnya pemasaran kopi secara digital di era pandemi melalui marketplace. Hal ini terjadi ketika pembatasan sosial diberlakukan sangat ketat di awal pandemi.

“Kopi di marketplace pada era pandemi lumayan banyak yang beli, karena konsumen enggak bisa ngopi di kafe jadi beli dari rumah,” tambahnya. 

Kopi specialty juga menjadi salah satu produk yang laris di marketplace Tokopedia. Perusahaan teknologi lokal dengan marketplace terdepan besutan William Tanuwijaya ini mencatat UMKM yang menjual kopi mengalami peningkatan transaksi pada saat pandemi.

“Kategori makanan dan minuman, kesehatan, rumah tangga, otomotif, dan perawatan diri menjadi beberapa kategori di Tokopedia dengan peningkatan transaksi paling tinggi di Sumatera Utara pada 2021 dibandingkan dengan 2020,” kata Senior Lead Regional Growth Expansion (RGX) Tokopedia, Ivander Wijaya.

Program turunan inisiatif Hyperlocal seperti Kumpulan Toko Pilihan (KTP), Digitalisasi Pasar, Sekolah Kilat Seller, Tokopedia Nyam dan masih banyak lainnya, merupakan upaya Tokopedia untuk mendekatkan pembeli dengan penjual terdekat. Dokumentasi.

Hal ini sejalan dengan inisiatif Hyperlocal yang digencarkan Tokopedia. Program ini juga membawa dampak positif di berbagai daerah, termasuk Sumatera Utara dan Medan. Adapun program turunan inisiatif Hyperlocal adalah Kumpulan Toko Pilihan (KTP), Digitalisasi Pasar, Sekolah Kilat Seller, Tokopedia Nyam dan masih banyak lainnya.

Ivander menambahkan beragam program itu merupakan upaya Tokopedia untuk mendekatkan pembeli dengan penjual terdekat. Usaha ini cukup berimbas positif bagi salah satu usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) asal Sumatera Utara yang hadir sebagai penyedia kopi specialty dan alat-alat kopi, Coffeenatics.

“UMKM lokal di berbagai daerah, seperti Coffeenatics, kini bisa punya kesempatan yang sama untuk terus bangkit dan bertumbuh. Jadi mereka tidak perlu lagi pindah ke ibu kota untuk menjadi juara,” sebutnya.

Lewat secangkir Kopi

Berangkat dari keinginan untuk memperkenalkan berbagai jenis biji kopi lokal, Harris Hartanto Tan dan rekannya Norita Chai membuka kafe Coffeenatics di Medan yang menghadirkan specialty coffee pada tahun 2015. 

Harris mengisahkan ide bisnis ini terinspirasi dari coffee culture atau budaya kopi pada salah satu kota di Australia, Melbourne. Meski bukan negara penghasil kopi, tapi kopi sangat diapresiasi di negeri Kangguru. 

“Sebaliknya, Indonesia kan negara penghasil kopi dengan budaya minum kopi yang sangat kuat, kami kembali ke Medan dengan misi membangun apresiasi terhadap kopi berkualitas seperti yang kami lihat dan rasakan di Australia, dan mulai mengembangkan Coffeenatics,” ujar Harris  kepada Alinea.id, Jumat (4/3).

Pada Agustus 2017, Coffeenatics memperlebar sayap pemasaran dengan bergabung dalam ekosistem Tokopedia. Namun demikian, dalam menjalankan bisnis ini, Harris dan Norita mengaku bukan tanpa tantangan. Apalagi, sesuai dengan misi mereka untuk mempererat budaya kopi dan membuat masyarakat di Indonesia lebih mengapresiasi semua jenis kopi, pihaknya hanya menjual specialty coffee.

“Komitmen kami menjual biji kopi yang kualitasnya lebih tinggi langsung berpengaruh terhadap modal dan harga jual yang lebih tinggi pula. Jadi, tantangan sebenarnya ada di pemasaran produk kami sendiri,” ungkapnya.

Harris Hartanto Tan dan rekannya Norita Chai membuka kafe Coffeenatics di Medan yang menghadirkan specialty coffee pada tahun 2015. Dokumentasi Coffeenatics.

Coffeenatics tak patah arang untuk terus berinovasi. Sejauh ini, Harris dan Norita telah melakukan berbagai inovasi dari sisi internal dengan meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja serta dari sisi eksternal. Termasuk, melakukan penjualan melalui Tokopedia demi menemukan pasar dan pelanggan baru. 

“Semuanya didukung oleh teknologi,” sebutnya. 

Harris menyebutkan setiap konsumen Coffeenatics di Tokopedia mempunyai preferensinya masing-masing. Namun belakangan, produk Coffee Capsule atau Kopi Kapsul Coffeenatics digandrungi oleh pembeli dari luar pulau Sumatera, khususnya Jabodetabek.

Selain itu, produk seperti Kopi Drip Sachet atau Biji Kopi Specialty Arabica Coffeenatics juga laris manis di kalangan konsumen pribadi. “Semua produk yang kami jual sudah melalui proses kurasi dan juga adalah produk yang kami pakai sendiri,” ujarnya. 

Tidak hanya digemari oleh konsumen pribadi, beberapa produk Coffeenatics juga populer di kalangan pengusaha. Sebut saja produk sirup, susu alternatif, serta peralatan kopi yang bisa membantu mengembangkan usaha dan meningkat efisiensi.

Makin melejit

Di awal 2020 seiring terjadinya pandemi, Coffeenatics makin fokus berjualan secara online di Tokopedia. Sederet program yang dihadirkan Tokopedia juga rutin diikuti, di antaranya Waktu Indonesia Belanja (WIB), Kumpulan Toko Pilihan (KTP), #SatuDalamKopi hingga kegiatan offline yang di-online-kan Tokopedia, seperti Jakarta Coffee Week 2020.

Menurutnya, sejak fokus berjualan secara online di Tokopedia, perlahan-lahan pendapatan Coffeenatics mulai meningkat. Salah satunya, naik hingga hampir tiga kali lipat setelah mengikuti Waktu Indonesia Belanja (WIB). 

“Berbagai flash sale juga rajin kami ikuti, bahkan kami pernah sampai kehabisan stok barang,” cetusnya.

Tidak hanya mendorong peningkatan jumlah transaksi, lanjutnya, kampanye penjualan di Tokopedia  juga berdampak terhadap makin banyaknya masyarakat yang melihat produk Coffeenatics. Hal ini pada akhirnya membuat Coffeenatics dapat menjangkau konsumen baru.

Setelah mengikuti berbagai program tersebut, omzet Coffeenatics pun terkerek cukup tinggi. Misalnya, pihaknya mencatat untuk masa-masa penjualan tertinggi ada di sekitar bulan Oktober, di mana di bulan tersebut ada Hari Kopi Sedunia. 

“Bahkan di bulan Oktober 2020 kami mencapai peningkatan transaksi hingga 10 kali lipat dibandingkan bulan-bulan lainnya. Dan akhirnya untuk pencapaian tahun pertama pandemi 2020 ke tahun kedua pandemi 2021, kami meraih kenaikan penjualan sebanyak 350%,” sebutnya.

Tokopedia yang sudah menjangkau 99% dari seluruh kecamatan di Indonesia juga memengaruhi jangkauan penjualan Coffeenatics yang semakin luas. 

“Kami mendapatkan customer yang paling jauh yaitu dari Papua. Kami masih ingat pelanggan dari Papua ini karena pelanggan ini membeli mesin tamping di mana produk ini masih relatif baru masuk ke Tokopedia Coffeenatics,” kisahnya bangga.

Tidak berhenti pada sisi penjualan, Coffeenatics juga turut mendorong tumbuh kembang petani kopi lokal melalui program adopsi ladang yang telah dilaksanakan di beberapa wilayah, termasuk Aceh, Simalungun, Karo hingga Kintamani di Bali. Bahkan, Coffeenatics juga turut mendukung pelestarian habitat primata owa hitam atau siamang melalui penjualan kopi ‘Siamang Forest’.

“Harapannya kami bisa mendorong para petani kopi lokal menjadi semakin sejahtera agar bisa terus berkembang di negeri sendiri. Kami mengajak lebih banyak masyarakat untuk berani berbisnis, sekaligus menjadi penyedia kopi berkualitas yang dapat mengharumkan nama Indonesia,” ujar Harris.

Ke depannya, Coffeenatics akan terus berinovasi dan memanfaatkan fitur-fitur Tokopedia seperti Broadcast Chat, TopAds, Voucher Cashback, Voucher Ongkir, ataupun Voucher untuk Follower baru demi menggaet lebih banyak pelanggan.

Ilustrasi Alinea.id/Firgie Saputra.

Berita Lainnya