sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Menanti siklus kebangkitan pasar properti

Sejumlah indikasi perbaikan sudah terlihat seperti angka penjualan yang positif di segmen menengah dan perbaikan di kelas mewah.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Jumat, 06 Sep 2019 21:11 WIB
Menanti siklus kebangkitan pasar properti

Pasar properti mulai membaik usai Pemilihan Umum 2019 atau pada kuartal II-2019. Hal tersebut juga menandakan kebangkitan sektor industri yang sempat tidur selama dua tahun ke belakang ini.

Wakil Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Bidang Tata Ruang, Kawasan dan Properti Ramah Lingkungan Hari Ganie mengungkapkan penjualan hunian pada periode tersebut mengalami kenaikan cukup signifikan. Bukan hanya segmen menengah ke bawah, angka penjualan yang positif itu tercatat juga pada segmen menengah atas.

“Dari laporan pengembang di bawah DPP REI, penjualan properti sudah lebih baik. Transaksi bulanan meningkat. Data kami di pasar, penjualan rumah seharga Rp500 juta (per unit) bagus. Namun, di kota besar seperti Jakarta, penjualan rumah mewah sekitar Rp5 miliar juga sudah berjalan baik,” kata Ganie saat ditemui dalam konferensi pers Indonesia International Property Expo (IIPEX) 2019 di Jakarta, Kamis (5/9).

Ganie mengakui pasar hunian yang masih menggeliat berada di segmen menengah dan ke bawah dengan pembeli end user. Meski demikian, pengembang optimistis, pasar investor akan berangsur normal dalam waktu dekat.

Menurut Ganie, kebangkitan pasar properti khususnya untuk hunian ini juga berkat digulirkannya sejumlah kebijakan yang mendukung. Pertama, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia sebanyak dua kali.

Kedua, pelonggaran loan to value (LTV) ratio sehingga uang muka (down payment/DP) pembelian rumah lebih ringan. 

Ketiga, insentif Pajak Penghasilan Barang Mewah (PPnBM) untuk properti kelas atas. PPnBM sebesar 20% yang awalnya dikenakan pada hunian seharga minimum Rp20 miliar untuk rumah tapak dan minimum Rp10 miliar untuk apartemen kini dilonggarkan. PPnBM hanya dikenakan pada hunian di atas Rp30 miliar. 

Dengan kebijakan yang terakhir, Ganie mengatakan, permintaan hunian di segmen atas juga mulai membaik. Selanjutnya, mengalirnya permintaan di segmen ini akan menciptakan keseimbangan pasokan dan permintaan. Sehingga, pergerakan pasar di kelas atas juga akan mempengaruhi segmen menengah dan bawah.

Sponsored

Kenaikan harga rumah

Selain angka penjualan yang positif, tren harga properti residensial juga mengalami kenaikan. Berdasarkan data Rumah.com Property Index, pada kuartal II-2019 laju kenaikan harga properti masih belum terhenti sejak pemulihan menjelang pertengahan tahun lalu.

Index menunjukkan harga properti pada kuartal II-2019 berada pada titik 112,0 atau naik 2,17% secara kuartalan (quarter on quarter/q-o-q). Kenaikan ini lebih baik jika dibandingkan dengan kenaikan pada kuartal sebelumnya, yang hanya 0,8%.

Sementara itu, harga properti secara tahunan (year on year/yoy) berdasarkan Index adalah sebesar 6%. Kenaikan ini juga lebih baik jika dibandingkan kenaikan tahunan pada kuartal sebelumya sebesar 5%.

“Percepatan pertumbuhan harga properti pada kuartal kedua ini merupakan indikasi kepercayaan pasar terhadap situasi politik dan ekonomi nasional pascapengumuman resmi Komisi Pemilihan Umum mengenai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia periode 2019-2024,” kata Country Manager Rumah.com Marine Novita.

Uang muka masih jadi hambatan

Meski demikian, Gani mengakui konsumen khususnya generasi milenial yang ingin memiliki hunian masih menemukan sejumlah hambatan.  Hal yang paling memberatkan yakni besaran uang muka (DP). 

Gani menyebut, dari laporan Digital Economic Forum, uang muka menempati urutan tertinggi penyebab masyarakat menunda membeli properti. Masih berdasarkan laporan Digital Economic Forum, kendala lainnya adalah harga properti yang terlalu tinggi.

Meski demikian, Gani mengklaim pengembang tidak tinggal diam. Sejumlah terobosan dilakukan untuk memberikan keringanan kepada konsumen. Dia mencontohkan konsep hunian transit oriented development (TOD) yang sangat compact dan terjangkau. 

“Apalagi TOD juga terhubung dengan transportasi massal,” kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Marine mengatakan pengembang sudah memberikan suntikan kemudahan. Dia menyebut salah satunya dengan menurunkan besaran uang muka.

“Sekarang uang muka bisa hanya 10%, bahkan bisa 0%. Pembayaran uang mukanya pun bisa dicicil hingga 6-12 kali,” kata dia.

Lebih lanjut, Ganie berharap situasi politik, sosial, dan makro ekonomi Indonesia terus stabil agar daya beli masyarakat terjaga. Sementara, pengembang akan memastikan pasokan hunian yang terjangkau bagi konsumen di tiap kelasnya.