sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pemerintah didesak ambil sikap hadapi larangan ekspor gandum India

Harga gandum di pasar internasional telah naik 58,8% dalam satu tahun terakhir.

Immanuel Christian
Immanuel Christian Sabtu, 14 Mei 2022 18:20 WIB
Pemerintah didesak ambil sikap hadapi larangan ekspor gandum India

Pemerintah Indonesia didorong segera melakukan mitigasi berkelanjutan untuk mengatasi pelarangan ekspor gandum dari India. Larangan ekspor gandum itu diterbitkan pemerintah India pada Jumat (13/5) malam.

Direktur Celios, Bhima Yudistira mengatakan, tidak hanya pemerintah saja, tetapi pengusaha di sektor makanan, minuman, dan pelaku usaha ternak perlu berkoordinasi mencari jalan keluar bersama dengan pemerintah.

"Sekarang harus dihitung berapa stok gandum ditanah air, dan berapa alternatif negara penghasil gandum yang siap memasok dalam waktu dekat," katanya dalam keterangan resmi, Sabtu (14/5). 

Dia berpandangan, bukan tidak mungkin, pemerintah Indonesia bersama negara lain melakukan gugatan kepada India ke WTO. Pasalnya, kebijakan unilateral India merugikan konsumen dan industri di Indonesia.

Lebih lanjut dia menerangkan, India merupakan produsen gandum nomor dua terbesar di dunia setelah China dengan kapasitas produksi 107,5 juta ton. Sementara, Indonesia mengimpor gandum tiap tahun sebesar 11,7 juta ton atau setara US$3,45 miliar. Angka impor nya naik 31,6% dibanding tahun sebelumnya. 

“Jadi kalau India melakukan proteksionisme dengan larang ekspor gandum, sangat berisiko bagi stabilitas pangan didalam negeri. Dengan inflasi yang mulai naik, dikhawatirkan garis kemiskinan akan meningkat,” ucap Bhina.

Dibeberkan Bhima, ada empat dampak dari pelarangan ekspor Gandum di India. Pandangan itu merujuk pada kestabilan pangan dalam negeri dan kemiskinan.

Bhima menyebut, harga gandum di pasar internasional telah naik 58,8% dalam satu tahun terakhir. Imbas pada inflasi pangan akan menekan daya beli masyarakat, contohnya tepung terigu, mie instan sangat butuh gandum, dan Indonesia tidak bisa produksi gandum. 

Sponsored

“Hal itu lantaran banyak industri makanan minuman skala kecil yang harus putar otak untuk bertahan ditengah naiknya biaya produksi,” ujarnya.

Pelarangan ekspor gandum yang belum diketahui sampai kapan waktunya, kata Bhima, membuat kekurangan pasokan menjadi ancaman serius. Perang Ukraina-Rusia sudah membuat stok gandum turun signifikan, ditambah kebijakan India, tentu berimbas signifikan ke keberlanjutan usaha yang butuh gandum. 

Dampak ketiga, pengusaha harus segera mencari sumber alternatif gandum dan ini harusnya menjadi kesempatan bagi alternatif bahan baku selain gandum seperti tepung jagung, singkong, hingga sorgum yang banyak ditemukan di Indonesia. Keempat, pakan ternak yang sebagian menggunakan campuran gandum.

"Ketika harga gandum naik bisa sebabkan harga daging dan telur juga naik," ucap Bhima.

Berita Lainnya