sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pengamat: Konsep subholding BUMN Erick Thohir lebih tepat sasaran

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengubah fokus dari konsep super holding menjadi subholding.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 10 Des 2019 17:56 WIB
Pengamat: Konsep subholding BUMN Erick Thohir lebih tepat sasaran
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Rencana Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yang mengubah fokus dari konsep super holding menjadi subholding mendapat tanggapan dari Ketua Lembaga Manajemen Universitas Indonesia (LM UI) Toto Pranoto.

Toto menilai langkah Erick yang fokus di subholding menjadi langkah yang lebih tepat dibanding ketika harus memaksakan konsep super holding.

"Kalau kita sudah punya sektoral holding yang kuat, subholding yang kuat, nanti pada saatnya kita baru butuh mendirikan super holding," ujar Toto di Jakarta, Selasa (10/12).

Toto mengatakan masalah pembentukan super holding tak selesai ketika Kementerian BUMN pergi ke notaris mengurus persoalan badan hukum. Tetapi, bagaimana mengintegrasikan holding-holding yang ada di bawah super holding.

"Karena seperti kita tahu, tak semua holding prestasinya baik, seperti holding perkebunan misalnya," tutur Toto.

Selain itu, lanjut Toto, Kementerian BUMN juga mesti memikirkan fokus super holding ke depannya akan seperti apa. Sebab, hingga saat ini, Toto belum melihat akan ke mana fokus pembentukan super holding ke depannnya.

"Apakah bisa super holding menjalankan fungsi mencari profit sambil melakukan kegiatan Public Service Obligation (PSO)," ujarnya.

Toto mengatakan Indonesia bisa mengambil contoh dari Khazanah Nasional Berhad milik Malaysia. Malaysia, kata Toto, memisahkan BUMN mereka menjadi dua bagian, antara yang menghasilkan profit dan yang mengerjakan PSO. BUMN Malaysia yang menghasilkan profitlah yang kemudian bergabung dengan Khazanah.

Sponsored

Contoh terbaik, kata Toto, adalah BUMN milik China. Sebab, apa yang dikerjakan oleh BUMN China hampir mirip dengan apa yang dikerjakan di Indonesia.

"BUMN China tak hanya melayani pasar domestik, tapi juga going global. Caranya, mereka buka kesempatan joint venture dengan perusahaan multinasional," kata Toto.

Namun, lanjut Toto, joint venture tersebut harus dibarengi dengan syarat berupa transfer pengetahuan dan teknologi. Lalu, dari sana akan ada inovasi dan produk baru. Setelah hal tersebut selesai dilakukan, holding di China menjadi lebih kuat dan mengakuisisi banyak perusahaan multinasional.

"Model semacam itu bisa diterapkan di Indonesia. Kalau perlu nanti BUMN Indonesia bisa mengakuisisi perusahaan luar yang sudah punya nama," tuturnya.
 

Berita Lainnya