sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Indef perkirakan pertumbuhan ekonomi masih negatif di kuartal IV-2020

Perkiraan itu datang dari proses pemulihan ekonomi Indonesia berjalan lambat pada kuartal III-2020 dibandingkan dengan negara mitra dagang.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Minggu, 08 Nov 2020 16:25 WIB
Indef perkirakan pertumbuhan ekonomi masih negatif di kuartal IV-2020
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2020 masih menyentuh zona negatif, yaitu -2%. Hal ini, akibat masih tingginya penyebaran Covid-19 ditambah dengan tidak optimalnya kebijakan pemerintah.

Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad mengatakan, perkiraan tersebut datang dari proses pemulihan ekonomi Indonesia yang berjalan cukup lambat pada kuartal III-2020 dibandingkan dengan negara mitra dagang.

Tercatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perbaikan 34,4%, dari -5,32% pada kuartal II-2020 menjadi -3,49% pada kuartal III-2020.

"Perbaikan ekonomi kita jauh lebih lambat dibanding negara mitra dagang kita. Bandingkan dengan Tiongkok yang membaik 53,1%, AS yang membaik 67,8%, Singapura membaik 47,4%, Korea Selatan membaik 51,9%, dan Vietnam menjadi juaranya dengan perbaikan 55,0%," kata Tauhid pada konferensi pers Indef, Minggu (8/11).

Selain lambatnya pemulihan ekonomi, Indonesia juga menghadapi lonjakan angka pengangguran. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus 2020 pengangguran naik menjadi 9,77 juta orang atau naik 7,07% secara tahunan (yoy) dibandingkan Agustus 2019 sebanyak 7,10 juta orang.

Dia pun melihat dengan kondisi tersebut, sulit bagi perekonomian Indonesia tumbuh positif di triwulan IV-2020. Menurutnya, hal ini bisa berubah jika ada upaya serius dari berbagai pihak, termasuk pemerintah.

"Berdasarkan situasi tersebut, kami melihat pada triwulan IV-2020, dengan situasi pandemi masih tinggi, penyerapan anggaran PEN yang tidak optimal, dan berbagai situasi di triwulan III-2020, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal IV -2% yoy," ujarnya.

Tauhid menyarankan pemrintah untuk melakukan percepatan belanja pemerintah, baik belanja modal maupun PEN. Kemudian, mengubah skema bantuan sosial (bansos) dengan fokus 20% ke masyarakat kelompok terbawah, dengan penambahan besaran bantuan hingga Rp1,5 juta per rumah tangga dan skema bantuan tunai.

Sponsored

Setelah itu, menurutnya, perlu ada terobosan penciptaan lapangan kerja dengan fokus pembangunan infrastruktur padat tenaga kerja, industri padat tenaga kerja, hingga stimulus umkm non-restrukturisasi.

Selanjutnya, pemerintah perlu meningkatkan konsumsi masyarakat kelas menengah perlu dibarengi upaya kampanye dan protokol kesehatan pada pusat perbelanjaan, hotel, pariwisata, dan restoran. Upaya terakhir, adalah memperbaiki pola penanganan pandemi, dengan fokus pada penyadaran masyarakat menghadapi gelombang kedua pandemi.

Berita Lainnya