sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Roti rumahan, jajanan sepanjang masa yang makin laris di marketplace

Marketplace jadi toko digital yang membantu roti rumahan terjual ke seluruh Indonesia. 

Nurul Nur Azizah
Nurul Nur Azizah Selasa, 22 Jun 2021 14:21 WIB
Roti rumahan, jajanan sepanjang masa yang makin laris di marketplace

Roti menjadi salah satu kudapan yang diminati banyak kalangan masyarakat. Mulai dari andalan sarapan, makanan pokok, hingga teman untuk mengganjal perut saat bepergian. 

Salah seorang penggemar roti, Erni (26), sering mengonsumsi aneka jenis roti. Ia kerap membeli roti tawar di ritel modern hingga home bakery tradisional.

“Roti sudah kayak pengganti makan kalau lagi malas makan nasi. Biasanya kan suka padat kerjaan, lalu ingin makan cepat, jadinya roti solusinya,” ujar Erni kepada Alinea.id, Senin (14/6). 

Tak hanya membeli secara langsung di toko roti, Erni juga belanja secara online. Baik yang dijajakan temannya lewat akun media sosialnya atau di marketplace.

“Biasanya saya memesan roti di marketplace sekalian beli keperluan rutin sehari-hari,” kata dia. 

Serupa dengan Erni, Setiawan (34) juga terbilang lekat dengan sajian roti di tengah keluarganya. Dia bersama keluarganya menyukai roti homemade bakery yang dibuat dengan bahan alami dan tidak memakai bahan pengawet.

“Saya paling suka roti dengan isi daging olahan kayak smoked beef. Roti memang memiliki jangka simpan yang pendek, tapi saya suka,” kata Setiawan kepada Alinea.id, Selasa (15/6). 

Peluang bisnis roti

Sponsored

Dikutip dari foodreview, perkembangan bisnis bakery di Indonesia mengalami pertumbuhan. Baik di skala usaha kecil, menengah, maupun besar. Ini terjadi bahkan pada industri pendukungnya seperti mesin, bahan penunjang dan bahan baku terigu. 

Operation Director PT Nippon Indosari Corpindo, Yusuf Hady memperkirakan pertumbuhan bisnis bakery bisa mencapai 7% hingga 10% setiap tahunnya. 

“Kami memprediksi bisnis bakery (roti dan kue) bernilai sekitar Rp14 triliun,” ujar Yusuf Hady dikutip foodreview

Dia menambahkan, pertumbuhan bisnis bakery ke depan sangat ditentukan oleh tingkat pendapatan per kapita bangsa dan infrastruktur. Jika meningkat, industri roti akan lebih memiliki prospek cerah dan efisien.

Prospek bisnis roti, menurut dia, tak lepas dari karakteristik roti yang telah menjadi makanan praktis kegemaran masyarakat. Selain itu, kuliner yang sudah ada di Indonesia sejak tahun 1930-an ini tidak membutuhkan proses memasak di rumah (ready to eat).

“Roti juga merupakan makanan yang cukup bagus, karena mempunyai keseimbangan dalam nilai gizi. Selain karbohidrat, terkandung pula protein,” tambah Yusuf. 

Berdasarkan data statistik konsumsi pangan 2020 yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian, rata-rata konsumsi per kapita roti manis pada 2020 mencapai 1.129 ons per minggu. Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata konsumsi per kapita varian lainnya seperti kue kering yang mencapai 438 ons per minggu.

Rata-rata konsumsi per kapita roti manis naik 2,26% pada 2020 dari 1.104 ons per minggu pada 2017.

Cuan bisnis roti di marketplace

Pakar kuliner William Wongso mengatakan roti rumahan menjadi tren yang tak lekang oleh zaman. Salah satu alasannya adalah proses membuat roti yang bisa diikuti oleh masyarakat secara otodidak.

Apalagi, proses pembuatan roti yang kini makin cepat dan mudah. Berbeda dengan roti jadul yang memakan waktu lama karena adonan harus didiamkan terlebih dahulu semalaman agar mengembang.

Namun, roti jadul memiliki keunggulan karena lebih tahan lama. Selain itu, rasanya juga lebih enak dan empuk. 

Rotihui varian srikaya. Dokumentasi Rotihui bakery.

“Roti jadul ini ada pasarnya. Apalagi yang mengangkat kekhasan daerah tertentu,” ujar William kepada Alinea.id, Selasa (16/6).

Salah satu bisnis roti jadul yang populer adalah Rotihui, dengan produk legendaris khas Pontianak. Usaha ini didirikan oleh Kimanto Effendi dan istrinya pada 2014 lalu.

Awalnya, bisnis Rotihui hanya skala garasi dan dijajakan dari toko ke toko. Saat itu, Kimanto melakukan promosi dan penjualan lewat media sosial. Penjualannya terbilang lumayan.

“Mula-mula berbisnis, kami juga terkendala masalah delivery produk,” ujar Owner Rotihui, Kimanto saat berbincang dengan Alinea.id, Senin (14/6). 

Jajanan tradisional khas Pontianak yang diangkat oleh Kimanto adalah roti ebi (udang kering). Hal itu dipilih agar mampu bersaing di tengah banyaknya kompetitor. 

 

 

“Pembeli bingung akan produk tersebut. Apa itu? Saya bilang, ini rotinya jadul, punya nilai historis, hanya ada di Pontianak saja. Dari zaman oma-opa sudah ada. Ternyata lumayan sambutannya,” kata dia. 

Tak hanya cita rasa yang dipertahankan dari roti jadul ini, bentuk yang ditampilkan oleh Rotihui juga masih orisinal yaitu bulat sederhana. Dengan begitu, nuansa tradisionalnya tidak hilang. 

Seiring waktu, paparnya, variasi Rotihui semakin berkembang. Pasutri ini mulai merambah ke aneka varian rasa yang banyak digemari oleh berbagai kalangan. Misalnya, rasa cokelat dan keju hingga roti gurih berisikan daging. 

“Sekarang sudah ada 12 varian rasa,” imbuhnya. 

 

 

Rotihui memperluas akses penjualan dengan masuk ke platform online termasuk marketplace seperti Tokopedia pada tahun 2016. Tokopedia juga merupakan marketplace yang menjadi fokus penjualan Rotihui. 

Kala itu, tren pemesanan makanan online mulai populer dengan adanya fitur pesan-antar seperti GoFood. 

“Saya lihat, wah ini Tokopedia bagus ini. Akhirnya, saya masuk ke Tokopedia,” kata dia. 

Di tahun itu, Rotihui masih mengandalkan penjualan secara langsung (offline), namun sudah mulai merasakan manfaat dari lapak daring di Tokopedia. Beberapa faedahnya yaitu bisa mengatasi kendala keterbatasan marketing dan penetrasi pasar yang semakin luas. 

Kemudian, bisa bergabung dalam program Tokopedia, Tokopedia Nyam! dengan berbagai keuntungan, seperti tampil di halaman utama, mendapatkan Bebas Ongkir, kampanye khusus, dan berbagai promo eksklusif lainnya. 

Selain itu, masuk ke Tokopedia juga membuat ekosistem pengiriman dan pembayaran kian mudah dan efisien.

Seiring waktu, grafik penjualan secara online malah menjadi semakin besar. Bisa dikatakan, kanal digital justru selalu mengalami kenaikan. Tak terkecuali di masa pandemi dan musim Lebaran lalu.

Dia mencontohkan, pesanan secara online via Tokopedia meningkat sampai 30% selama pandemi. Ini menurutnya, tak lepas dari perubahan gaya hidup berbelanja masyarakat secara online.

Fitur-fitur yang disediakan oleh Tokopedia pun, kata dia, mendukung perkembangan bisnis. Misalnya saja, fitur promosi (ads) hingga pengiriman yang sudah bisa same day

“Untuk traffic ke Tokopedia itu kan tidak memungut komisi, jadi kami merasa margin-nya jauh lebih besar. Akhirnya kami coba-coba ads. Eskalasinya lumayan setiap hari," jelasnya.

Menggeliatnya bisnis roti bertekstur lembut ini, bisa memberikan omzet rata-rata tiap bulan sampai Rp120-an juta. 

Best seller-nya roti ebi, roti bakso ayam yang gurih sama kastengel dan nastar. Sebenarnya harganya premium memang lebih mahal, tapi demand-nya enggak kurang sih," ungkapnya. 

Kimanto mengakui kualitas produk dan pelayanan menjadi kunci kesuksesan bisnisnya. Dia bilang, roti manis-gurih ini memang 'fresh from the oven' dan tanpa bahan pengawet. Selain itu, Rotihui ini juga telah memegang sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). 

“Konsumen kami rata-rata muslim, banyak dari kantor pemerintahan. Jadi jaminannya produk kami harus halal,” sambungnya. 

Ilustrasi Alinea.id/Bagus Priyo.
 

Berita Lainnya