sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Rupiah & IHSG jeblok, Ancang-ancang kerek BI Rate

Bank Indonesia mengambil ancang-ancang menaikkan BI Rate seiring tekanan rupiah dan Indeks harga saham gabungan (IHSG).

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Kamis, 26 Apr 2018 23:39 WIB
Rupiah & IHSG jeblok, Ancang-ancang kerek BI Rate

Bank Indonesia mengambil ancang-ancang menaikkan BI Rate seiring tekanan rupiah dan Indeks harga saham gabungan (IHSG).

Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo menjelaskan kemungkinan untuk melakukan penyesuaian suku bunga acuan atau BI-7 days reverse repo rate. Penyesuaian itu dilakukan jika tekanan terhadap nilai tukar rupiah terus berlanjut.

"Kita mau meyakinkan bahwa kalau kita perlu melakukan penyesuaian BI 7-days reverse repo rate itu apabila kondisi ekonomi, termasuk nilai tukar itu depresiasinya bisa mempunyai dampak buruk kepada stabilitas keuangan," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (26/4).

Kendati demikian, sambungnya, bank sentral bakal mengambil keputusan itu secara hati-hati, dengan kajian yang mendalam. Kondisi itu juga bergantung pada dampak yang ditimbulkan terhadap target angka inflasi.

Tercatat, BI telah menahan suku bunga acuan sejak 8 bulan terakhir, tepatnya dimulai pada 22 September 2017 pada level 4,25%. Penahanan suku bunga acuan dilakukan lantaran angka inflasi masih sesuai target.

Sementara dari bank sentral AS Federal Reserve, Agus memerkirakan The Fed bakal menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) pada tahun ini sebanyak 3 kali. Namun, terjadi risiko kemungkinan The Fed untuk mengerek FFR 4 kali, atau lebih.

Kondisi keuangan AS diproyeksi membaik memungkinkan Pemerintahan Donald Trump menerbitkan surat utang untuk membiayai defisit fiskal. Hal itu berakibat pada peningkatan angka inflasi di Negeri Paman Sam.

Saat angka inflasi meningkat, sambungnya, The Fed pasti bakal mengerek suku bunga acuan lebih dari 3 kali. Namun, BI masih meyakini FFR bakal naik 3 kali.

Sponsored

"Mungkin pada Mei masih akan dikaji apakah kondisinya di AS masih sama atau tidak," tuturnya.

Secara terpisah, Direktur Utama BEI Tito Sulistio menilai langkah bank sentral untuk mengerek BI 7-days reverse repo rate sudah diperkirakan oleh pelaku pasar. Investor dinilai telah memperhitungkan kenaikan BI 7-days reverse repo rate ke dalam portofolio.

"Investor sudah price in, saya anggap ekonomi kita sudah price in. Sekarang faktonya bukan fundamental," kata dia di Gedung BEI.

Pada perdagangan Kamis (26/4), IHSG ditutup anjlok 2,81% ke level 5.909,19 terendah sejak akhir tahun lalu. Bahkan, IHSG sempat terkoreksi 3% meninggalkan level psikologis 6.000 pada level 5.894,15.

Koreksi IHSG terjadi seiring dengan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kurs tengah Bank Indonesia mematok nilai tukar rupiah jeblok pada level Rp13.930 per dollar AS, jauh lebih lemah dari hari sebelumnya Rp13.888 per dollar AS.

Berita Lainnya