sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

BI suntik likuiditas perbankan Rp14,16 triliun hingga 4 Februari 2021

Sepanjang 2020 BI menginjeksi perbankan sebesar Rp726,6 triliun.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Selasa, 09 Feb 2021 17:14 WIB
BI suntik likuiditas perbankan Rp14,16 triliun hingga 4 Februari 2021
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan, hingga 5 Februari 2021, pihaknya telah menyalurkan likuiditas ke perbankan sebesar Rp14,16 triliun, untuk menjaga pelonggaran likuiditas di perbankan.

Apa yang dilakukan oleh BI tersebut adalah melanjutkan kebijakan quantitative easing (QE) BI untuk tetap menjaga pelonggaran likuiditas di perbankan, setelah sepanjang 2020 BI menginjeksi perbankan sebesar Rp726,6 triliun.

"Kami telah melakukan QE sebesar Rp740,7 triliun, atau 4,8% dari PDB. Salah satu yang terbesar di antara emerging market. Di mana pada 2020 sebesar Rp726,6 triliun, atau 4,71%. Sampai dengan 4 Februari 2021, QE adalah Rp14,16 triliun," katanya dalam video conference, Selasa (9/2).

Injeksi likuiditas tersebut, terlihat dari angka alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang berada di level 31,67%, serta bunga Pasar Uang Antar-Bank (PUAB) overnight sekitar 3,04% pada 2020.

"Ini menjadi fokus bagaimana KSSK secara bersama menjaga likuiditas longgar, suku bunga turun, dan terutama juga mendorong demand kredit, sehingga bisa mendukung dunia usaha dan mendorong pemulihan ekonomi," ujarnya.

Dia menuturkan, BI akan terus memperkuat koordinasi dan sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait, untuk terlibat aktif dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional agar dapat berjalan dengan cepat.

BI juga masih akan membeli surat berharga negara (SBN) di pasar perdana sebagai komitmen burden sharing atau berbagi beban antara BI dan pemerintah.

Pada 2020, pihaknya telah membeli SBN dengan nilai total sebesar Rp473,4 triliun di pasar perdana sesuai SKB I dan II. Dia merinci, total Rp75,9 triliun dibeli sesuai SKB I dan sebesar Rp397,6 triliun sesuai SKB II untuk public goods

Sponsored

Dan, pada 2021 pihaknya juga telah melakukan pembelian SBN di pasar perdana sebesar Rp35,7 triliun hingga 4 Februari 2021, untuk melanjutkan skema burden sharing dengan pemerintah.

"Ini koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang erat, tidak hanya kebijakannya, tapi juga bersama-sama untuk bisa mempercepat stimulus fiskalnya untuk mendorong demand sektor riil dan pembiayaannya BI ikut berpartisipasi," ucapnya.

Berita Lainnya