sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tambang cuan klub sepak bola

Klub sepak bola didorong melantai di bursa saham untuk mendapatkan pendanaan disamping langkah akuisisi dan sponsorship.

Nurul Nur Azizah
Nurul Nur Azizah Selasa, 27 Apr 2021 16:31 WIB
Tambang cuan klub sepak bola

Sepanjang tahun 2020, beberapa klub sepak bola terpaksa 'menganggur'. Pandemi membuat sepak bola sepi turnamen. Namun bukan berarti, bisnis olahraga 'sejuta umat' ini benar-benar mati. 

Maret lalu, dunia sepak bola Tanah Air diramaikan dengan aksi akuisisi klub sepak bola. Dua diantaranya adalah Cilegon United FC dan Persis Solo. 

Pesohor Raffi Ahmad yang malang melintang dalam industri hiburan tetiba mengakuisisi klub sepak bola Liga Dua Indonesia, Cilegon United FC pada akhir Maret 2021. Berkongsi dengan dengan pengusaha Rudy Salim, Raffi disebut-sebut menggelentorkan dana Rp300 miliar.

Pasca diakuisisi, nama klub pun berubah jadi Rans Cilegon FC. Sebagai pentolan Rans Entertainment, Raffi berharap bisa mencari bibit unggul dengan membangun klub sepak bola sekaligus mendirikan sekolah bola. Dia bahkan mengaku telah melakukan seleksi pemain baik di Jawa maupun luar Jawa. 

Raffi mengaku telah menyebar orang ke seluruh wilayah Indonesia untuk melakukan seleksi secara tertutup dan terbuka. Tidak hanya mencari pemain berpengalaman, namun juga bibit-bibit muda yang potensial. 

"Kita mempersatukan berbagai usia, target kita menghasilkan yang terbaik," ujar Raffi Ahmad dalam konferensi pers daring, Jumat (23/4). 

Selain menyiapkan infrastruktur sumber daya manusia (SDM) atlet, suami Nagita Slavina ini juga menargetkan segera membuka lapangan training dan juga akademi pada Februari 2022.

Tak hanya itu, Rans Cilegon FC ini juga digadang-gadang menjadi klub sepakbola yang berbeda dibandingkan lainnya yakni dalam hal digitalisasi. Tak heran memang, mengingat Raffi juga dikenal sebagai influencer yang mempunyai platform media digital dengan puluhan juta pengikut.  

Sponsored

"Rans Cilegon (harapannya) bukan hanya hadir setahun dua tahun, tapi selamanya di Indonesia," imbuhnya. 

Raffi Ahmad memberikan keterangan terkait akuisisi Cilegon FC akhir Maret lalu. Tangkapan layar Channel Youtube Rans Entertainment.

Pengusaha Prestige Image Motorcars, Rudy Salim, menambahkan dengan pengelolaan perusahaan (GCG), kemampuan finansial serta exposure yang baik akan bisa membawa Cilegon FC semakin bersinar. Termasuk, meneruskan tradisi semangat klub yang dikagumi oleh pendukung Cilegon FC atau Volcano ini. 
       
"Kerja sama dengan Rans Entertainment, platform media tool dengan 95 juta pengikut ini, hasilnya banyak sponsor yang antre," ujar Rudy di kesempatan sama. 

Rans Cilegon FC, menurutnya, tidak perlu lagi risau mencari pendanaan dalam mengarungi Liga 2 musim 2021/2022. Sebab, sudah ada 40 sponsor yang siap mengucurkan dananya.

Sejauh ini, Rans Cilegon FC sudah mengumumkan secara resmi telah menjalin kerja sama dengan sponsor yakni Juragan 99, Raja Coin, dan SAS. 

“Tadinya kami mau sponsor eksklusif. Cuma permintaan teman-teman ternyata banyak yang datang," jelas Rudy.  

Kendati demikian, pihak Rans Cilegon FC menekankan tidak mau asal menjalin kesepakatan dengan sponsor. Klub yang dulunya bernama Cilegon United tersebut, juga melihat sponsor yang memang punya kesamaan niat dalam memajukan sepakbola Indonesia. 

Salah satu sponsor Rans Cilegon FC, pemilik Juragan 99 Gilang Widya Pramana, mengungkap alasannya tertarik menjadi sponsor. Ia ingin membantu pasukan dari pelatih Bambang Nurdiansyah tersebut agar bisa naik kelas ke Liga 1.

"Saya gila bola, tahun lalu saya mensponsori Bali United dan Arema FC. Khusus Arema FC, saya kasih bus. Tahun ini kami rencananya akan kasih bus mewah sekelas Eropa ke Rans Cilegon FC," ujar Gilang.

Membidik pendanaan publik

Klub sepakbola memang tidak hanya mengandalkan dana segar dari investor. Bali United misalnya. Klub ini menjadi yang pertama baik di Indonesia maupun di Asean yang berani melepas saham di lantai bursa. Pencatatan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) Bali United (BOLA) berlangsung pada 17 Juni 2019 di papan pengembangan.

Saham BOLA dibuka melejit hingga 69,14% menjadi Rp296 per saham pada pembukaan perdagangan pertama kali. Kala itu, harga ini bertahan hingga 10 menit awal perdagangannya. Dengan kata lain, saham Bali United terkena auto reject atas.

BOLA melepas 2 miliar saham atau setara dengan 33,33% saham pada harga penawaran perdana yang ditetapkan sebesar Rp175 per saham. Dengan demikian, PT Bali Bintang Sejahtera Tbk., perusahaan pengelola klub bola Bali United berhasil mengantongi dana segar senilai Rp350 miliar. 

Perseroan menyatakan dana hasil IPO digunakan untuk perbaikan stadion, anak usaha dan lainnya. Selain itu, IPO juga bertujuan untuk memudahkan pendukung serta fans Bali United yang mayoritas berdomisili di Bali untuk ikut investasi saham Bali United.

Laporan keuangan Bali United (BOLA) pada 2019 mencatat pendapatan sebesar Rp215,21 miliar. Jumlah ini melesat 86,81% dibandingkan pendapatan 2018 yang sebesar Rp115,20 miliar.

Sayangnya, akibat pandemi Covid-19, bisnis klub sepakbola yang sebelumnya bernama Persilam Samarinda ini terpukul seperti halnya industri lain. Imbasnya, sepanjang semester-I 2020, BOLA mencatatkan penurunan pendapatan 36,8% menjadi Rp45,84 miliar (year on year). 

Di masa itu pula, emiten ini mencatatkan rugi bersih senilai Rp12,51 miliar dari yang sebelumnya laba Rp4,52 miliar di semester-I 2019.

Langkah membidik pendanaan publik juga menjadi wacana bagi klub sepakbola Persis Solo yang diakuisisi oleh putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep. Meskipun, rencana itu tidak terealisasi dalam waktu dekat.

"IPO akan jadi misi, tapi tidak terburu-buru karena ada skala prioritas lain," ungkap Public Relation (PR) Persis Solo, Michelle Kuhnle, kepada Alinea.id, Minggu (25/4). 
 
Hal utama yang menjadi fokus bagi Persis Solo, menurut Michelle, adalah pembentukan tim. Di satu sisi, pihaknya mengaku tengah menggodok ide untuk presentasi kepada sponsor. 

"Supaya bisa kolaborasi brand dengan Persis," katanya.

 

Kaesang secara resmi telah menjabat sebagai Direktur Utama PT Persis Solo Saestu (PSS) setelah memborong sekitar 40% kepemilikan klub bola tersebut. 

Dia tak sendiri dalam menguasai saham yang homebasenya di Stadion Manahan Solo ini. Ada nama lain seperti Kevin Nugroho yang memiliki 30% saham yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT PSS, serta Erick Thohir menguasai 20% saham, dan 10% saham lainnya menjadi milik pendiri PT PSS dan klub internal.

Sebelumnya, Kaesang memang sempat menyatakan bahwa dirinya mempunyai mimpi besar agar Persis Solo bisa menjadi perusahaan terbuka (Tbk). Dia pun tidak sungkan menyebut klub sepak bola Bali United sebagai inspirasi bagaimana sebuah klub sepak bola di Indonesia melakukan IPO. 

“Sekarang kan kami melihat Bali United sebagai kakak, sebagai pembimbing. Soal melantai di bursa saham ya harus, harus itu,” kata Kaesang beberapa waktu lalu. 

Pemilik usaha Sang Pisang itu berharap penawaran perdana saham Persis Solo dapat terlaksana sebelum Persis berusia satu abad pada 2023 mendatang. “Kami ingin warga Solo juga dapat memiliki Persis,” ujar dia.

BEI dorong klub bola IPO

Direktur Penilaian Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna mengatakan hingga saat ini, belum ada klub-klub bola yang dalam proses pengurusan IPO di pasar modal. Kendati demikian, pihaknya menekankan, akan terus menjalin komunikasi untuk mendukung klub bola IPO.  

"Komunikasi terus kami bina untuk memberikan feedback terkait dengan preparation yang dibutuhkan untuk melakukan IPO dengan sukses," ujar Nyoman kepada Alinea.id, Senin (26/4). 

Nyoman menjelaskan, setelah Bali United melantai di bursa, beberapa klub sepak bola di Indonesia memang telah menunjukkan minat untuk dapat melakukan IPO dan memanfaatkan pasar modal sebagai sarana untuk bertransformasi dan bertumbuh. 

Terbukti dengan adanya satu klub sepak bola yang melakukan pendaftaran menjadi Perusahaan Tercatat di Bursa pada tahun 2020. Meskipun, akhirnya rencana ini gagal dieksekusi tahun lalu. 

"Kondisi ekonomi dan pasar modal yang dinamis memberikan impact diperlukannya preparation yang lebih komprehensif untuk masuk ke pasar modal," kata dia. 

Adapun soal rencana IPO dari Persis Solo juga menurutnya menjadi kabar yang menggembirakan yang disambut baik oleh BEI. 

"Kami dengan senang hati akan memberikan dukungan melalui diskusi dan sharing informasi mengenai IPO dan menjadi Perusahaan Tercatat di BEI," ujar Nyoman merespons kabar Kaesang berencana IPO. 

BEI Mencatat, per 26 Maret 2021 pihaknya telah memiliki 24 pipeline saham dan belum terdapat klub bola di dalamnya. Maka dari itu, BEI berharap Persis Solo dan klub-klub sepak bola lainnya di Indonesia dapat segera menjadi perusahaan publik dan tercatat di BEI.

Sebagai publicly listed company, menurut Nyoman, manfaat yang didapatkan perusahaan tidak hanya terbatas pada pendanaan segar saat IPO. Klub sepak bola yang sudah tercatat dapat menerbitkan sahamnya kembali kepada publik melalui rights issue.

"Melalui pasar modal klub sepak bola dapat memperoleh pendanaan yang berkelanjutan," katanya. 

Jika memiliki porsi kepemilikan publik lebih dari 40%, maka klub bola juga akan mendapat insentif penurunan tarif pajak PPh Badan sebesar 3%. Belum lagi, ketika perusahaan menjadi public listed company, exposure atas klub sepak bola tersebut tentu akan meningkat.

Tantangan klub sepakbola

Pengamat sepak bola Harry Ruswanto mengatakan kondisi klub sepakbola saat ini memang dituntut tetap mempertahankan profesionalisme. Meskipun banyak investor yang ancang-ancang ingin masuk serta membeli klub-klub liga di Indonesia. 

Bagi klub-klub sepakbola di Liga 1, Gendhar panggilan akrab Harry tersebut, menyebut potensi akuisisinya akan lebih kecil karena telah berada di 'zona nyaman'. Sponsor yang mendanai klubnya terbilang masih aman. 

Sementara itu, klub-klub di Liga 2-lah yang saat ini menurutnya relatif lebih kesulitan mendapatkan donor. Sehingga, langkah akuisisi menjadi salah satu pilihan bertahan. 

"Jadi, saat mereka kesulitan keuangan, datangnya investor untuk mengakuisisi klub menjadi pilihan, seperti yang saat ini terjadi pada Rans Cilegon, Persis Solo, dan Dewa United," ujar Gendhar kepada Alinea.id, Senin (26/4). 

Mantan Manajer Persebaya ini pun mengapresiasi upaya akusisi yang dilakukan oleh Rans Cilegon FC dan Dewa United. Menurutnya, langkah ini bisa memperbaiki manajemen persepakbolaan dan berpeluang menciptakan tambang cuan.  

"Patut diacungi dua jempol, walau masih prematur untuk dibilang sukses. Tapi cara manajemen meng-create tim dari saat proses seleksi dan launching, menunjukkan klub modern yang menggabungkan sisi bisnis dan entertainment," jelasnya.

Sementara menyoal potensi pendanaan klub sepakbola melalui IPO, menurut Gendhar hal tersebut masih ibarat 'jauh panggang dari api' alias belum menjadi solusi. Sebab, saat ini masih ada satu klub saja yang sudah terjun di pasar modal sedangkan klub lain masih berangan-angan.  

"Kenapa? Keterbukaan klub. Ini yang menjadi momok. Seperti yang saya sampaikan, pemilik klub sudah merasa nyaman dengan kondisi saat ini. Mereka masih merasa cukup dengan pendapatan sponsor," pungkasnya.

Ilustrasi Alinea.id/Bagus Priyo.

Berita Lainnya
×
tekid