logo alinea.id logo alinea.id

Terlilit utang, Duniatex tetap pertahankan 45.000 karyawan

Duniatex Group tengah menyiapkan rencana restrukturisasi keuangan untuk menyelesaikan persoalan utang.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Sabtu, 10 Agst 2019 15:33 WIB
Terlilit utang, Duniatex tetap pertahankan 45.000 karyawan

Duniatex Group, perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, memilih untuk mempertahankan nasib karyawannya yang berjumlah 45.000 orang di tengah persoalan keuangan yang dihadapi salah satu anak usahanya.

Manajer Humas Duniatex Group, Donalia S. Erlina memastikan Duniatex Group masih melakukan operasional seperti biasanya, meskipun mengalami persoalan keuangan.

"Kami ingin meluruskan berita-berita terkait persoalan keuangan dihadapi Duniatex bahwasanya sampai saat ini perusahaan dan produksi masih berjalan seperti biasa tidak mengalami gangguan," kata Donalia di Jakarta, Sabtu (10/8).

Donalia yang juga didampingi Fransiscus Alip, konsultan keuangan dari AJ Capital Advisory, menjelaskan saat ini pihaknya terus berupaya membenahi keuangan perusahaan agar mendapatkan solusi penyelesaian terbaik.

Pada kesempatan itu, Alip mengungkapkan persoalan keuangan yang dihadapi Duniatex Group disebabkan keterlambatan pembayaran bunga dan utang pokok kredit anak usaha PT Delta Dunia Sandang Tekstil (DDST) sebesar US$13,4 juta yang berasal dari sindikasi bank yang dipimpin HSBC dan BNP Paribas.

"Kami ingin meluruskan pemberitaan di salah satu media yang menyebutkan kalau kesulitan keuangan itu disebabkan pembayaran obligasi jatuh tempo. Padahal persoalan keuangan yang dihadapi Duniatex Group lebih terkait soal kredit sindikasi dari anak usaha," ujar Alip.

Alip menjelaskan soal obligasi PT Delta Merlin Dunia Textile (DMDT) senilai US$300 juta dengan kupon pertama jatuh tempo September 2019 dipastikan akan dibayar.

"Uang senilai US$12,9 juta sudah tersedia di rekening penampungan bunga (interest reserve account) dan akan dibayarkan sesuai tanggal yang ditetapkan," ujar Alip.

Sponsored

Alip berpandangan keterlambatan pembayaran utang kredit sindikasi ini disebabkan adanya penurunan kinerja DDST imbas dari kondisi industri yang dinamis akibat efek tidak langsung dari perang dagang AS-China.

Bahkan, saat ini, guna mengantisipasi kondisi pasar global dan menjaga tingkat profitabilitas, PT DDST telah melakukan sejumlah langkah efisiensi antara lain mengurangi kapasitas produksi, bahkan mengurangi waktu lembur karyawan.

“Namun, kami pastikan kondisi yang dihadapi oleh PT DDST, tidak berkorelasi dengan obligasi PT DMDT," ujar Alip.

Restrukturisasi keuangan

Alip pada kesempatan itu belum menyampaikan langkah restrukturisasi keuangan apa yang bakal ditempuh untuk menghadapi persoalan tersebut. Namun, langkah yang akan dilakukan segera mungkin adalah memeriksa kinerja 25 pabrik yang dimiliki perusahaan.

Langkah selanjutnya mengunjungi bank-bank pendukung Duniatex Group untuk menjelaskan duduk persoalannya.

"Kasih saya waktu untuk mengumpulkan persoalan yang dihadapi. Nanti kita ketemu lagi semoga sudah ada hal lain yang dapat disampaikan tekait persoalan keuangan perusahaan," ujar Alip.

Sementara, Donalia menargetkan pada akhir Agustus atau awal September 2019, sudah ada langkah-langkah yang konkret dan terukur untuk menyelesaikan permasalahan yang ada sehingga perusahaan nasional ini dapat terus berkembang.

Sebagai langkah awal, kata Donalia, perusahaan menempuh upaya perbaikan pada arus kas terlebih dahulu kemudian dibarengi dengan mengurangi kapasitas produksi serta mengurangi biaya lembur (overtime) karyawan.

“Kami akan melakukan segala upaya agar perusahaan tekstil nasional ini dapat terus berkembang dan memberikan kesejahteraan bagi puluhan ribu masyarakat di Jawa Tengah, yang menggantungkan hidup di perusahaan kami. Kami mengharapkan dukungan dari semua pihak agar langkah-langkah penyelesaian yang kami lakukan dapat berjalan dengan baik,” kata Donalia.

Didirikan pada 1974, saat ini Duniatex Group telah menjadi salah satu perusahaan tekstil besar di Indonesia dan memiliki 25 pabrik yang bergerak dari hulu hingga hilir dengan produk yang dihasilkan berupa pemintalan benang, knitting, kain mentah, kain jadi, hingga printing.

Perusahaan ini beroperasi hampir di semua wilayah kabupaten Jawa Tengah serta banyak dari masyarakat yang menggantungkan terhadap kelangsungan dari perusahaan ini.

Produk tekstil Duniatex telah masuk ke pasar domestik bahkan mancanegara. Sementara jumlah tenaga kerja yang terserap di Duniatex Grup mencapai sekitar 45.000 karyawan yang sebagian besar berasal dari daerah sekitar pabrik di Jawa Tengah. (Ant)