sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tiket pesawat mahal, okupansi hotel Jakarta dan Bali merosot

Colliers International mencatat tingkat keterisian (okupansi) hotel di Jakarta dan Bali mengalami penurunan pada Februari 2019.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Selasa, 02 Apr 2019 16:28 WIB
Tiket pesawat mahal, okupansi hotel Jakarta dan Bali merosot

Colliers International mencatat tingkat keterisian (okupansi) hotel di Jakarta dan Bali mengalami penurunan pada Februari 2019. Hal ini disebabkan menurunnya kunjungan akibat kenaikan tiket pesawat. 

Senior Associate Director Colliers International Ferry Salanto mengatakan, berdasarkan data STR Global, tingkat okupansi di Jakarta pada Februari 2019 sebesar 57,8%. Angka ini menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy) dengan okupansi 59,2%. 

Kendati demikian, okupansi hotel Jakarta meningkat secara bulanan (month to month/mtm) dari posisi Januari 2019 sebesar 54,7%. 

Hal yang sama terjadi dengan tingkat okupansi di Bali pada 2019. STR Global mencatat posisi okupansi pada Februari 2019 turun menjadi 64% dari Februari 2018 yang sebesar 67,2%. Namun, secara bulananan, okupansi meningkat dari yang sebelumnya (Januari 2019) sebesar 60,7%. 

Ferry menuturkan, pertumbuhan okupansi hotel di Bali pada Februari dilihat secara mtm, ditopang dari kunjungan wisatawan asing. Terutama wisman yang berasal dari China untuk menikmati liburan tahun baru China atau Imlek. 

Sementara, kontribusi wisatawan domestik cenderung turun, lantaran adanya kenaikan tarif pesawat hingga dua kali lipat. 

"Tiket domestik itu akan mempengaruhi wisatawan domestik, karena bagaimana pun wistawan domestik menjadi penggerak utama wisata di Bali," ujarnya di Jakarta, Selasa (2/4). 

Ferry mengatakan pengelola hotel di Bali juga mengeluhkan hal yang sama, kenaikan tiket pesawat berdampak signifikan terhadap penurunan okupansi hotel. 

Sponsored

Oleh karena itu, Ferry menilai jika harga tiket tidak segera diturunkan, maka okupansi hotel dan pariwisata Bali terus anjlok. Sebab, hingga saat ini wisatawan domestik masih berkontribusi paling besar pada okupansi hotel dan pariwisata Bali. 

Di samping adanya kenaikan harga tiket pesawat, penurunan okupansi hotel dipengaruhi karena adanya law season. 

Ajang pemilihan umum (pemilu) 2019 juga tidak memberikan dampak signifikan pada okupansi hotel. Pasalnya, saat ini partai politik tidak banyak menyelenggarakan kegiatannya di hotel. 

"Pengelola hotel mengungkapkan kecenderungan pertemuan anggota partai politik tidak harus diselenggarakan di hotel, apalagi  jika pertemuan itu dalam skala kecil," tuturnya.