sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Cinta buatan Indonesia, Wearing Klamby pilih marketplace lokal untuk kembangkan industri fesyen Indonesia

75% dari total omzet Wearing Klamby datang dari Tokopedia, jauh lebih tinggi dibandingkan website dan media sosial.

Qonita Azzahra
Qonita Azzahra Senin, 24 Mei 2021 12:01 WIB
Cinta buatan Indonesia, Wearing Klamby pilih marketplace lokal untuk kembangkan industri fesyen Indonesia

“Bisnis baju Lebaran enggak akan pernah mati meskipun ada pandemi,” begitulah kiranya celetuk kritikus mode Sonny Muchlison kepada Alinea.id, Kamis (20/5).

Bagaimana tidak? Bagi masyarakat Indonesia, mengenakan baju baru saat Hari Raya Idulfitri sudah menjadi tradisi tersendiri. Produk-produk dengan embel-embel ‘Islam’, ‘muslim’, atau ‘halal’ pun semakin digandrungi dewasa ini.

Itulah sebabnya, meski pendapatan masyarakat, baik dari kelas bawah, menengah, maupun atas tergerus karena pagebluk, penjualan fesyen muslim saat lebaran akan selalu tinggi. Termasuk di tahun 2021 yang masih diliputi pandemi Covid-19.

“Mereka (masyarakat) sudah punya anggaran sendiri buat beli baju lebaran. Jadi enggak masalah kalau pendapatannya turun sebagai dampak pandemi,” jelas Sonny.

Hal ini diamini oleh Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Fadjar Hutomo. Menurutnya, Ramadan dan hari raya Idulfitri menjadi momentum khusus untuk meningkatkan kinerja industri fesyen.

Sektor ini sempat terpuruk setahun terakhir gara-gara penyebaran virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China tersebut. Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economic Report 2020/2021, nilai belanja modest fashion turun 2,9% menjadi US$268 miliar atau setara Rp3,9 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski begitu, pihaknya yakin industri fesyen akan kembali bergeliat di tahun ini dan akan terus bertumbuh hingga 2024 nanti. 

“Ini adalah momentum keberkahan dan menjadi energi positif untuk bangkit memajukan ekonomi Indonesia," katanya, kepada Alinea.id, Kamis (20/5).

Sponsored

Fadjar bilang, salah satu cara agar pebisnis-pebisnis fesyen tetap bisa bertahan di tengah gempuran pandemi adalah dengan memperluas cakupan pasar mereka melalui platform penjualan digital atau e-commerce. Selain itu, bagi para pebisnis mode yang telah memiliki laman sendiri, disarankan untuk memperbaiki sistem laman penjualan mereka agar lebih mudah menjangkau pembeli dari luar negeri.

“Kita harus optimistis, berpikir out of the box, memanfaatkan platform online untuk bertahan," sarannya.

Pamor produk dalam negeri

Dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan, selama bulan puasa dan lebaran tahun ini terjadi kenaikan pembelian produk dalam negeri, salah satunya fesyen. Hal ini terlihat dari penjualan melalui e-commerce yang juga meningkat seiring adanya larangan mudik dan penerapan aturan pembatasan sosial.

“Ada kategori produk yang paling banyak dibeli seperti produk digital, fashion, kecantikan, perlengkapan rumah tangga, gadget, dan produk elektronik mengalami peningkatan,” ungkap Oke, Rabu (19/5).

Hal ini juga terlihat di platform Tokopedia. External Communications Senior Lead Tokopedia, Ekhel Chandra Wijaya mengatakan, saat periode Ramadan transaksi fesyen muslim meningkat hampir tiga kali lipat dibanding hari-hari biasa.

Selain itu, kampanye Parsel Ramadan juga turut berkontribusi mendongkrak penjualan produk-produk baju muslim. Bahkan, dengan adanya kampanye tersebut lebih dari 100.000 produk berbeda terjual dalam 1 jam lewat Tokopedia selama Ramadan.

“Data internal kami menyebutkan bahwa pengiriman same-day atau instant menjadi layanan andalan masyarakat saat berbelanja kebutuhan Ramadan," jelasnya kepada Alinea.id, Rabu (19/5).

Jenama Wearing Klamby adalah salah satu produsen fesyen lokal yang meraup untung dari penjualan baju melalui Tokopedia. Pemilik Wearing Klamby Ridho Jufri berkisah, bisnis ini mulanya hanya menjual produk mode mereka melalui laman dan akun Instagram toko.

Namun, setelah terkena dampak Covid-19 pada Oktober 2020 hingga Januari 2021 lalu, Ridho memutuskan untuk memperluas cakupan pasarnya dengan menggelar toko digital di Tokopedia. Ia memilih Tokopedia karena platform digital terbesar di Indonesia itu merupakan salah satu marketplace buatan anak bangsa.

Sama halnya dengan Wearing Klamby yang juga memproduksi baju-baju dan produk mode lain yang kental akan nuansa lokal. Selain itu, Tokopedia juga memberikan benefit lain kepada penjual-penjualnya.

“Setelah gabung dengan Tokopedia, kami dapat iklan bareng Gojek dan kami juga ikut kampanye ulang tahun Tokopedia lalu, yang mana meningkatkan awareness masyarakat ke kami,” katanya kepada Alinea.id, Rabu (19/5).

Ridho juga memasang iklan di Tokopedia serta memanfaatkan media sosial untuk promosi. Upaya-upaya itu praktis membuat penjualan produk-produk mereka, utamanya produk yang sudah lama tidak juga laku terjual atau slow moving item menjadi laris manis di periode Ramadan dan Lebaran 2021.

Selain itu, produk edisi spesial busana set muslim untuk keluarga juga habis terjual dalam waktu kurang dari 1 jam lewat Tokopedia.

“Setelah mengeluarkan tema tertentu, kami biasanya ada flash sale. Let’s say kami mengeluarkan 500 item untuk satu edisi, pas flash sale itu bisa terjual sekaligus banyak,” katanya.

Tentunya, capaian ini berbeda ketimbang dengan hari biasa. Saat hari biasa, paling tidak ada 50-80 item yang laku terjual dalam sehari.

“Dengan Tokopedia itu sangat membantu,” ungkap Ridho yang membangun bisnis bersama sang istri, Nadine Gaus.

Bahkan, menurut alumni Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, meski baru bergabung dengan Tokopedia pada 30 Maret lalu, pendapatan tokonya telah mengalami peningkatan pesat. Dia bilang, penjualan produk modenya di Tokopedia setidaknya dapat menyumbang 75% dari keseluruhan omzet Wearing Klamby. 

Modal berputar

Keberhasilan bisnis dijalani Ridho dan istrinya ini tidak serta merta didapatkan begitu saja. Jatuh bangun pun pernah dialami Wearing Klamby. Bahkan, pada enam bulan hingga satu tahun pertama, Wearing Klamby sempat terus-menerus diberikan suntikan dana dari bisnis reseller baju yang sebelumnya telah dilakoni Nadine Gaus.

Tidak hanya itu, setelah berjalan hampir dua tahun lamanya, yakni pada 2015, Wearing Klamby sempat jatuh. Itu terjadi karena kesalahan manajemen dalam pengelolaan keuangan. Demi membangkitkan kembali bisnisnya itu, Ridho harus rela menjual mobil yang dimilikinya untuk tambahan modal.

“Wearing Klamby mulai untung dari 2014, karena itu kami bisa beli mobil. Walaupun akhirnya pada 2015 kami jual lagi buat modal lagi. Lalu, bisnis mulai meningkat setelah kami menjual mobil,” ungkapnya.

Setelah kejatuhan itu, Ridho lebih berhati-hati untuk mengelola keuangan bisnisnya. Ia juga berkomitmen untuk terus belajar melihat peluang penjualan fesyen di Indonesia.

Menurutnya, meski saat ini semakin banyak merek-merek luar negeri yang masuk ke Tanah Air, namun produk lokal tidak kalah saing. Asalkan berkualitas bagus, ia pun percaya, produk fesyen lokal akan memiliki pasarnya sendiri.

“Kami juga akan mencoba untuk semakin berani memasarkan produk, karena kami sudah belajar dari Lebaran tahun ini. Meskipun ada pandemi, tapi demand fesyen muslim akan tetap ada,” tegas dia.

Ilustrasi Alinea.id/Bagus Priyo.
 

 

Berita Lainnya