sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Angka bunuh diri di Jepang turun di tengah pandemik Covid-19

Penurunan kali ini merupakan yang terbesar dalam lima tahun terakhir.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 14 Mei 2020 17:01 WIB
Angka bunuh diri di Jepang turun di tengah pandemik Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 29521
Dirawat 18308
Meninggal 1770
Sembuh 9443

Angka bunuh diri di Jepang menurun 20% pada April dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Penurunan ini merupakan yang terbesar dalam lima tahun terakhir.

Orang-orang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah bersama keluarga mereka, lebih sedikit orang yang bepergian ke tempat kerja, dan penundaan aktivitas sekolah dipandang sebagai faktor-faktor penyebab penurunan angka bunuh diri.

Pada April, tercatat 1.455 orang bunuh diri di Jepang, turun dari 1.819 kasus pada April 2019.

Angka bunuh diri di Jepang mulai menurun sejak tingkat bunuh diri mencapai puncak lebih dari 34.000 kasus pada 2003. Pada 2019, total kasus bunuh diri di negara tersebut melampaui 20.000.

Pandemik coronavirus jenis baru mencapai puncaknya di Jepang pada pertengahan April dengan lebih dari 500 kasus infeksi per harinya. Pemerintah setempat mengumumkan keadaan darurat pada 16 April meskipun penerapan pembatasannya tidak seketat negara-negara lain.

Larangan keluar rumah yang diberlakukan pemerintah memengaruhi kinerja organisasi pencegahan bunuh diri, sekitar 40% dari mereka tutup atau mengurangi jam kerja.

Di tengah penurunan angka bunuh diri selama beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan kasus bunuh diri di antara anak muda, dengan perundungan disebut sebagai penyebab utama.

Tahun akademik baru, yang seharusnya dimulai pada April, dinilai sebagai periode yang menegangkan bagi sebagian siswa. Namun, penundaan pembukaan sekolah karena pandemik Covid-19 dinilai telah menyelamatkan nyawa mereka yang menjadi korban perundungan di sekolah.

Sponsored

"Bersekolah adalah aktivitas penuh tekanan bagi beberapa anak muda, tetapi pada April ini tekanan itu tidak ada," kata ketua Japanese Association for Suicide Prevention, Yukio Saito. "Mereka merasa aman karena berada di rumah bersama keluarga."

Lebih lanjut, Saito mengatakan bahwa umumnya, pada saat krisis nasional dan bencana, orang dewasa tidak terdorong untuk melakukan bunuh diri. Dia merujuk pada penurunan angka bunuh diri pada 2011 ketika terjadi gempa akibat kecelakaan nuklir di Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant. (The Guardian)

Berita Lainnya