sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

AS peringatkan Turki untuk tidak beli S-400 dari Rusia

S-400 yang merupakan pabrikan Rusia dapat melacak sejumlah besar target potensial, termasuk target tersembunyi seperti jet tempur F-35 AS.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 06 Mar 2019 16:20 WIB
AS peringatkan Turki untuk tidak beli S-400 dari Rusia
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 24749
Dirawat 16321
Meninggal 1496
Sembuh 6240

Amerika Serikat memperingatkan Turki agar tidak mewujudkan rencana pembelian sistem pertahanan rudal Rusia yang canggih, yang diyakini Pentagon dapat mengancam jet tempur F-35 mereka.

"Kami telah dengan jelas memperingatkan Turki bahwa potensi akuisisi S-400 akan menghasilkan penilaian ulang partisipasi Turki dalam program F-35, dan risiko transfer senjata potensial lainnya di masa depan ke Turki," kata wakil juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Robert Palladino pada Selasa (5/3).

AS, sebelumnya telah setuju untuk menjual 100 jet tempur F-35 generasi kelima terbaru ke Turki. Sejauh ini mereka telah mengirimkan dua pesawat. Namun, Kongres AS tahun lalu memerintahkan penundaan pengiriman F-35 di masa depan.

Negara-negara NATO, khususnya AS, memandang pembelian peralatan pabrikan Rusia penuh dengan kecurigaan. Sementara itu, Ankara mengatakan mereka membutuhkan pertahanan rudal alternatif untuk menghadapi ancaman regional.

S-400 buatan Rusia adalah upgrade besar-besaran dari S-300. Karena kemampuannya, sejumlah negara seperti China, Arab Saudi, Turki, India, Qatar telah mengatakan keinginan untuk membeli S-400.

Namun, mereka yang menyatakan niat itu telah diancam dengan semacam pembalasan diplomatik dari AS atau negara-negara NATO lainnya.

Sistem rudal S-400 buatan Rusia, yang dilengkapi dengan delapan peluncur dan 32 rudal, mampu menargetkan pesawat tempur siluman seperti F-35.

Keuntungan lain yang dimiliki S-400 adalah mobilitas tinggi, yang berarti dapat diatur, dieksekusi, dan dipindahkan dalam beberapa menit.

Sponsored


Sumber : Al Jazeera

Berita Lainnya