sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dalih keamanan, Malaysia usir 500 ‘Orang Laut’

Sebuah video yang diposting oleh Borneo Komrad di media sosial menunjukkan berbagai bangunan terbakar di lepas pantai.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Minggu, 09 Jun 2024 12:33 WIB
Dalih keamanan, Malaysia usir 500 ‘Orang Laut’

Lebih dari 500 orang dari komunitas orang laut di sepanjang pantai negara bagian Sabah telah diusir dari rumah mereka pekan ini. Pengusiran sebagai bagian dari tindakan keras pemerintah Malaysia terhadap migran tidak berdokumen, kata aktivis setempat.

Suku Bajau Laut adalah komunitas pengembara laut yang sebagian besar tidak memiliki kewarganegaraan, tinggal di lepas pantai di rumah perahu kayu atau gubuk yang dibangun di atas panggung di distrik Semporna, Sabah, di bagian timur laut pulau Kalimantan.

Lahir tanpa dokumen identitas, sebagian besar tidak memiliki akses terhadap fasilitas dasar seperti pendidikan, keuangan atau layanan kesehatan. Mereka seringkali hidup dalam ketakutan akan dideportasi atau ditahan oleh otoritas imigrasi, yang tidak membedakan antara penduduk tanpa kewarganegaraan dan migran tidak berdokumen.

Menurut Bangkok Post, diperkirakan 1 juta migran tidak berdokumen dan penduduk tanpa kewarganegaraan diyakini tinggal di Sabah, yang merupakan sepertiga dari populasi negara bagian tersebut.

Malaysia dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan penegakan hukum terhadap migrasi ilegal, dengan menahan sekitar 45.000 orang tidak berdokumen sejak Mei 2020, kata Human Rights Watch pada bulan Maret tahun ini.

Sejak Selasa, petugas penegak hukum telah membakar dan menghancurkan rumah-rumah milik suku Bajau Laut di tujuh pulau di Semporna, kata Mukmin Nantang, pendiri kelompok advokasi sosial Borneo Komrad yang berbasis di Sabah.

Para pejabat tersebut tidak teridentifikasi namun diyakini merupakan bagian dari satuan tugas penegakan hukum, kata Mukmin. Seraya menambahkan bahwa beberapa komunitas telah menerima pemberitahuan sebelumnya mengenai operasi tersebut dari Sabah Parks, sebuah badan konservasi yang dikelola oleh pemerintah negara bagian.

“Beberapa rumah dirobohkan oleh kapal besar, ada pula yang dibakar,” katanya kepada Reuters melalui telepon.

Sponsored

Sebuah video yang diposting oleh Borneo Komrad di media sosial menunjukkan berbagai bangunan terbakar di lepas pantai. Sementara video lainnya menunjukkan sejumlah pria, beberapa di antaranya berseragam, menghancurkan gubuk kayu di pantai dengan tongkat besar sebelum membakarnya. Reuters tidak dapat memverifikasi secara independen keaslian video tersebut.

Sabah Parks dan Kementerian Dalam Negeri, yang membawahi departemen kepolisian dan imigrasi, tidak menanggapi permintaan komentar.

Malaysia tidak menyimpan statistik resmi mengenai populasi Bajau Laut, yang telah menjelajahi lautan di timur laut Kalimantan dan Filipina selatan selama berabad-abad.

“Suku Bajau Laut sudah tinggal di wilayah tersebut sejak sebelum ada perbatasan resmi. Tindakan yang diambil terhadap mereka sungguh kejam,” kata Mukmin.

Ahmad Kamil dari kelompok bantuan Surau Al Falah Taman Sempaul Semporna, membenarkan bahwa beberapa komunitas telah diberitahu sebelum penggusuran. Namun mereka tidak dapat memahami pemberitahuan tersebut atau tidak dapat mematuhinya.

“Orang Bajau Laut tidak memahami hukum setempat. Lagipula, ke mana lagi mereka bisa pergi?” ujarnya.

Otoritas Malaysia membela keputusan mereka untuk mengusir ratusan orang laut dari rumah mereka di lepas pantai negara bagian Sabah. Dikatakan bahwa hal itu bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan memerangi kejahatan lintas batas.

Lebih dari 500 orang dari Bajau Laut, sebuah komunitas pelaut yang sebagian besar tidak memiliki kewarganegaraan dan tinggal di rumah perahu reyot atau gubuk pantai yang dibangun di atas panggung, melihat rumah mereka dibongkar atau dibakar oleh petugas penegak hukum pada pekan ini, kata para aktivis setempat.

Berita Lainnya
×
tekid