logo alinea.id logo alinea.id

Dihajar AS, Huawei akui babak belur

Pendiri Huawei akhirnya mengakui bahwa dampak kebijakan AS melampaui prediksinya.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 17 Jun 2019 17:57 WIB
Dihajar AS, Huawei akui babak belur

Pendiri dan CEO Huawei Technologies Co Ltd Ren Zhengfei mengatakan dampak dari larangan Amerika Serikat terhadap perusahaannya lebih parah dari yang diprediksi. Dia memperingatkan bahwa pendapatan akan turun menjadi sekitar US$100 miliar tahun ini.

Ini adalah kali pertama Huawei mengkuantifikasi dampak kebijakan AS terhadap perusahaan setelah sebelumnya Ren lebih sering menyuarakan pernyataan-pernyataan optimistis.

"Huawei tidak menyangka bahwa tekad AS untuk 'meretakkan' perusahaan begitu kuat dan meluas," kata Ren di kantor pusat Huawei di Shenzhen pada Senin (17/6).

AS telah memasukkan Huawei dalam daftar hitam yang secara efektif melarang perusahaan-perusahaan AS berbisnis dengan perusahaan China, menuduh bahwa produk-produk Huawei dapat memungkinkan China melakukan spionase.

Larangan tersebut telah memaksa sejumlah perusahaan, termasuk Alphabet Inc. dan perancang chip Inggris ARM untuk membatasi atau menghentikan hubungan mereka dengan Huawei.

Penjualan ponsel Huawei di pasar internasional, menurut Ren, akan turun  40%. Namun, pria berusia 74 tahun itu tidak menjelaskan lebih rinci.

Bloomberg pada Minggu (16/6) melaporkan bahwa raksasa teknologi itu tengah bersiap mengurangi penjualan 40% hingga 60% di pasar internasional.

Pada 2018, Huawei membukukan pendapatan US$104,16 miliar dan beberapa bulan lalu mereka memperkirakan pendapatan tahun ini naik menjadi US$125 miliar.

Sponsored

"Kami tidak menyangka mereka akan menyerang kami dalam banyak aspek," tutur Ren sebelum menyatakan harapannya agar kebangkitan perusahaan dapat terjadi pada 2021.

"Kami tidak mendapat pasokan komponen, tidak dapat berpartisipasi dalam banyak organisasi internasional, tidak dapat bekerja sama dengan banyak universitas, tidak dapat menggunakan apapun yang mengandung komponen AS dan bahkan tidak dapat menjalin koneksi dengan jaringan yang menggunakan komponen tersebut."

Namun, kata Ren, bagaimanapun Huawei tidak akan memangkas pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan serta tidak akan melakukan PHK skala besar.

Upaya diam-diam 

Pemasok chip asal AS, termasuk Qualcomm dan Intel, dilaporkan diam-diam mendesak Pemerintah AS untuk menghapus larangan penjualan ke Huawei bahkan di saat perusahaan itu sendiri menghindari lobi ke pemerintah. Demikian menurut sumber yang akrab dengan situasi ini.

Seorang sumber menuturkan bahwa para eksekutif dari produsen chip, Intel dan Xilinx Inc dilaporkan menghadiri pertemuan dengan Kementerian Perdagangan AS pada akhir Mei untuk membahas respons atas penempatan Huawei dalam daftar hitam.

Empat sumber menyebutkan bahwa Qualcomm juga telah menekan Kementerian Perdagangan AS terkait isu ini.

Menurut tiga sumber, para produsen berpendapat bahwa unit Huawei yang menjual produk seperti ponsel dan server komputer menggunakan suku cadang yang tersedia secara umum dan tidak mungkin menghadirkan masalah keamanan yang sama dengan perangkat jaringan 5G.

"Ini bukan tentang membantu Huawei. Ini tentang mencegah kerusakan pada perusahaan-perusahaan AS," sebut salah satu sumber.

Dari US$70 miliar yang dikeluarkan Huawei untuk membeli komponen pada 2018, sekitar US$11 miliar masuk ke kantong sejumlah perusahaan AS, termasuk di antaranya Qualcomm, Intel dan Micron Technology Inc.

Asosiasi Industri Semikonduktor (SIA) mengakui pihaknya telah mengatur konsultasi perusahaan dengan pemerintah AS.

"Untuk teknologi yang tidak terkait dengan keamanan nasional, maka tidak boleh berada dalam cakupan perintah. Dan kami telah menyampaikan perspektif ini kepada pemerintah," ungkap Jimmy Goodrich, wakil presiden kebijakan global di SIA.

Larangan terhadap Huawei muncul setelah gagalnya perundingan untuk mengakhiri perang dagang antara China dan AS, didorong oleh tuduhan AS atas spionase, pencurian kekayaan intelektual, dan transfer teknologi paksa oleh perusahaan-perusahaan China.

Dalam sebuah wawancara di Meksiko, Andrew Williamson, wakil presiden urusan publik Huawei, menegaskan perusahaan tidak meminta siapa pun secara khusus untuk melobi atas nama mereka.

"Mereka melakukannya dengan keinginan mereka sendiri karena, bagi banyak dari mereka, Huawei adalah salah satu pelanggan utama," katanya, seraya menambahkan produsen chip tahu bahwa memutus hubungan dengan Huawei dapat memicu bencana bagi mereka.

Sumber : Reuters