close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Anggota tentara populer Houthi yang baru direkrut mengibarkan bendera Palestina saat mereka berbaris dalam parade di Sana'a, Yaman, 02 Desember 2023.EFE/EPA/Yahya Arhab
icon caption
Anggota tentara populer Houthi yang baru direkrut mengibarkan bendera Palestina saat mereka berbaris dalam parade di Sana'a, Yaman, 02 Desember 2023.EFE/EPA/Yahya Arhab
Dunia
Senin, 04 Desember 2023 13:35

Houthi bakal kirim pasukan ke Gaza, apakah bakal diikuti jihadis lain?

Potensi WNI menjadi jihadis ke Palestina sangatlah kecil. Mengingat pemerintah sangat mendukung kemerdekaan Palestina.
swipe

Pemberontak Syiah Houthi di Yaman, mengadakan parade di Sana'a pada Sabtu (2/12) pada waktu setempat, yang diikuti ribuan pejuang, yang mereka katakan adalah rekrutan yang akan dikirim ke Gaza untuk berperang melawan Israel dan kelompok Islam Palestina Hamas.

Para anggota baru, yang mengenakan pakaian tradisional Yaman, jaket lengan panjang, dan keffiyeh Palestina, berbaris menuju Lapangan Sabeen di selatan ibu kota Yaman sambil membawa senjata api. Sementara para pemimpin gerakan Houthi yang didukung Iran menyaksikan dari podium.

“Mereka melukai hati kami dengan membunuh anak-anak di Gaza,” kata Saleh Aqlan, 67, yang menjadi sukarelawan untuk melawan Israel meskipun usianya sudah lanjut kepada EFE. “Bagaimana kami bisa tidur sementara muslim ini dibunuh di depan mata kami?” tambah Aqlan.

Houthi merupakan sebuah gerakan syiah pro-Iran yang kuat, mengangkat senjata melawan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional pada 2014 dan sekarang menguasai Sanaa dan sebagian besar wilayah Yaman utara dan barat.

Juru bicara militernya, Yahya Sarea, juga memperingatkan bahwa para pemberontak “tidak akan ragu untuk memperluas operasi militer mereka terhadap entitas Israel dengan memasukkan sasaran yang mungkin tidak mereka perkirakan baik itu di darat atau di laut.

Lantas apakah dukungan pejuang Houthi itu bakal menginspirasi jahadis dari seluruh dunia, khususnya Indonesia ke Palestina? Pengamat politik Timur Tengah dan dunia islam Hasibullah Satrawi, meragukan itu. Karena menurutnya, ada perbedaan antara Houthi dan Yaman. Yaman merupakan negara konflik yang hampir tidak memiliki negara definitif. Sedangkan Houthi merupakan pasukan pemberontak yang menguasai sejumlah wilayah di Yaman.

"Dengan situasi seperti itu, maka yang dilakukan Houthi tidak bisa menjadi model di negara lain. Termasuk para jihadis," kata dia saat dihubungi Alinea.id, Senin (4/12).

Sehingga negara lain, seperti Arab Saudi pun tampaknya tidak bakal memberikan jalan kepada pejuang Houthi untuk melewati perbatasannya agar bisa masuk ke Israel atau Palestina. Sebab jika itu dilakukan, dapat dipastikan kalau Arab Saudi bakal melanggar aturan internasional. Mengingat Houthi tidak bisa mereprentasikan sebagai sebuah negara. Selain itu, Arab Saudi kerap berkonflik dengan Houthi yang dianggap pro-Iran.

Makanya, dia berharap agar masyarakat Indonesia rasional dalam memandang konflik antara Israel dan Hamas, yang kini melibatkan Houthi. Jangan sampai melebar ke mana-mana atau bahkan sampai berangkat ke Palestina untuk menjadi jihadis. Namun, dia meyakini kalau potensi WNI menjadi jihadis sangatlah kecil. Mengingat pemerintah sangat mendukung kemerdekaan Palestina.

Indonesia sejak awal telah mendukung kemerdekaan Palestina. Hal itu sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, yang menyatakan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

"Menurut saya, kemarahan rakyat di negara-negara Arab soal Palestina mungkin hampir sama dengan negara lain di dunia. Tetapi apakah ada milisi atau jihadis yang berangkat? Ini sangat tergantung dengan sikap resmi negaranya. Kalau pemerintah dianggap berpihak ke Gaza, dapat dipastikan bisa meredam gejolak emosi rakyatnya. Jadi, sikap negara bisa menentukan saluran aspirasi rakyatnya. Kalau ditutup, mungkin saja mereka bakal berangkat ke Palestina," papar dia.

Sementara pengamat terorisme di Timur Tengah Mush'ab Muqoddas Eka Purnomo menyebutkan, Houthi adalah penganut Islam aliran syiah. Sementara syiah selama ini dikenal memiliki mahzab berbeda dari aliran Islam pada umumnya. Sehingga, kecil kemungkinan kalau hal itu bakal memacu datangnya jihadis dari seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Apalagi selama ini diketahui, kalau kelompok garis keras di Timur Tengah seperti ISIS atau Al-Qaeda sebenarnya merupakan kelompok sektarianisme. Sehingga, mereka tidak melihat urgensi ikut bergabung dengan Houthi buat membantu Hamas.  

"Mereka ini kelompok sektarian. Ini bukan hanya masalah keyakinan agama, tetapi juga ideologi. Jadi kalau ISIS atau Al-Qaedah membantu syiah, pasti malah bakal mengecilkan nama ISIS atau Al-Qaedah karena mereka hanya bakal dianggap sebagai follower," ucap dia. 

img
Hermansah
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan