sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kandidat capres AS Bernie Sanders: Saya bangga jadi Yahudi

Bernie Sanders adalah satu dari dua kandidat calon presiden Partai Demokrat AS yang berlatar Yahudi.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 15 Jan 2020 11:28 WIB
Kandidat capres AS Bernie Sanders: Saya bangga jadi Yahudi

Dalam wawancara dengan The New York Times, Senator Amerika Serikat yang masuk dalam bursa kandidat calon presiden Partai Demokrat, Bernie Sanders (78), mengatakan bahwa dia bangga terlahir sebagai seorang Yahudi. Sanders mengklaim dia tidak terlibat aktif dalam organisasi keagamaan. 

"Saya seorang Yahudi," kata Sanders ketika ditanya soal keyakinannya pada Tuhan. "Saya bangga menjadi Yahudi. Saya menjalani upacara bar mitzvah di Kings Highway Jewish Center ... Saya tidak terlibat aktif dalam organisasi keagamaan."

The Times mencatat bahwa jika Sanders terpilih maka dia akan menjadi presiden pertama yang berlatar Yahudi, dan juga satu dari sedikit yang secara terbuka mengungkap ketidakterlibatannya dalam organisasi keagamaan.

Sanders mengungkap bahwa dia percaya pada Tuhan dan kebebasan beragama, kontras dengan Donald Trump, yang disebutnya mempraktikkan diskriminasi dengan melarang imigran dari sejumlah negara mayoritas muslim masuk AS.

Dalam kampanye pemilihan pendahuluan presiden dari Partai Demokrat 2016, Sanders enggan bicara tentang warisan Yahudi-nya. Namun, pada 2020, beberapa juru kampanyenya menyoroti latar belakangnya sebagai Yahudi.

Sanders: PM Netanyahu rasialis

Saat debat kandidat calon presiden Partai Demokrat pada 19 Desember 2019, Sanders mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu rasialis. Dia menyerukan agar AS menjalankan kebijakan yang tidak hanya memberi ruang bagi keamanan Israel, namun juga perspektif pro-Palestina.

"Israel memiliki hak untuk hidup, tidak sekadar hidup tapi juga hidup dalam perdamaian dan rasa aman. Tapi kebijakan luar negeri AS seharusnya tidak hanya pro-Israel. Kita juga harus pro-Palestina," kata dia.

Sponsored

Dalam pemilihan pendahuluan presiden dari Partai Demokrat, Sanders bukan satu-satunya Yahudi. Ada sosok lain, yaitu mantan Wali Kota New York Michael Bloomberg.

Namun, berbagai survei menunjukkan Sanders unggul dibanding Bloomberg. Sebut saja jajak pendapat oleh Politico, di mana Sanders bertengger di peringkat dua setelah Joe Biden, sementara Bloomberg duduk di posisi lima.

Ayah Sanders adalah seorang imigran Yahudi dari Polandia, dan ibunya lahir di AS dari imigran Yahudi asal Polandia dan Rusia.

Lewat sebuah wawancara pada Juni 2015, Sanders sebetulnya telah mengungkapkan kebanggaannya sebagai seorang Yahudi. Dia menyatakan, terlahir sebagai Yahudi telah mengajarinya dengan sangat mendalam soal politik.

"Seorang pria bernama Adolf Hitler memenangi pemilihan pada 1932. Dia menang, dan 50 juta orang meninggal akibat pemilihan itu ... termasuk enam juta Yahudi. Jadi, yang saya pelajari sejak kecil adalah politik sebenarnya penting," tutur Sanders.

Dalam esainya yang bertajuk "How to Fight Antisemitism" yang dipublikasikan di Jewish Current pada November 2019, Sanders mengatakan bahwa ancaman antisemitisme bukanlah gagasan abstrak baginya.

"Itu sangat personal. Itu menghancurkan sebagian besar keluarga saya. Saya bukan seseorang yang menghabiskan banyak waktu berbicara tentang latar belakang pribadi karena saya percaya bahwa para pemimpin politik seharusnya memusatkan perhatian mereka pada visi dan agenda bagi orang lain dibanding diri mereka sendiri. Tapi, saya juga menghargai bahwa penting untuk bicara tentang bagaimana latar belakang kita menginformasikan gagasan-gagasan kita, prinsip-prinsip kita, dan nilai-nilai kita," terang Sanders.

Lewat esainya, Sanders menunjukkan bahwa dia memandang antisemitisme sebagai ancaman universal. Dia menyebut penentangan atas antisemitisme adalah nilai inti dari progresivisme.

"Seperti bentuk kefanatikan lainnya --rasisme, seksisme, homofobia-- antisemitisme digunakan oleh kelompok kanan untuk memecah belah satu dengan yang lain dan mencegah kita dari berjuang bersama untuk masa depan yang sama atas kesetaraan, perdamaian, kemakmuran, dan environmental justice," tulis dia.

Sanders juga mengurai rencana untuk memerangi antisemitisme jika dia berhasil menghuni Gedung Putih, yaitu mengarahkan kementerian kehakiman untuk memprioritaskan perang melawan kekerasan nasionalis kulit putih, menunjuk seorang utusan khusus untuk memonitor dan memerangi antisemitisme dan bergabung kembali dengan Dewan HAM PBB.

AS meninggalkan Dewan HAM PBB pada 2018 setelah badan tersebut dipandang bias terhadap Israel.

Terkait hubungan dengan kelompok Yahudi, Sanders pernah mengatakan bahwa dia tidak akan hadir jika diundang dalam konferensi American Israel Public Affairs Committee (AIPAC).

AIPAC adalah kelompok yang bertujuan melobi kongres dan badan eksekutif pemerintahan AS untuk menghasilkan kebijakan yang meningkatkan hubungan dekat antara AS dan Israel.

Di lain sisi, Sanders berpidato di J Street berkali-kali. J Street adalah kelompok pelobi liberal yang bertujuan mempromosikan kepemimpinan AS dalam mengakhiri konflik Arab-Israel dan Israel-Palestina secara damai dan diplomatis.

Sanders disebut menentang gerakan Boycott, Divestment and Sanctions (BDS). 

BDS adalah kampanye global yang menekan Israel dari segi ekonomi dan politik agar mau mematuhi sejumlah tujuan, termasuk mengakhiri pendudukan dan kolonisasi terhadap tanah Palestina, kesetaraan hak warga Arab-Palestina di Israel, dan menghormati hak pulang pengungsi Palestina.

Dia menuturkan bahwa antisemitisme adalah pendorong gerakan anti-Israel.

"Israel telah melakukan beberapa hal yang sangat buruk, demikian pula halnya dengan negara lain di dunia," kata Sanders kepada MSNBC pada Maret 2016. "Saya rasa orang-orang yang ingin menyerang Israel karena kebijakan mereka itu cukup adil. Tapi, tidak mengakui bahwa ada beberapa tingkat antisemitisme di dunia ... saya rasa itu sebuah kesalahan."

Pada Mei 2017, Sanders juga mengatakan bahwa dia tidak menghormati BDS sebagai sebuah taktik. Namun baru-baru ini, Sanders menentang RUU anti-BDS di kongres.

"Meski saya tidak mendukung kampanye BDS, tetapi kita harus membela hak konstitusional setiap warga AS untuk terlibat dalam kegiatan politik. Jelas bagi saya bahwa RUU ini akan melanggar Amendemen Pertama Konstitusi AS," kata dia kepada Jewish Telegraphic Agency.

Kemudian pada September, Sanders menunjuk Linda Sarsour, seorang aktivis berdarah Palestina-AS yang dikenal sebagai kritikus terkemuka Israel dan pendukung BDS, untuk berkampanye atas namanya. 

Sanders dan sikapnya soal konflik Israel-Palestina

Catatan publik Sanders tentang Israel kembali ke 1988 saat dia menjadi Wali Kota Burlington. Intifada Pertama telah dimulai satu tahun sebelumnya.

"Apa yang tengah terjadi di Timur Tengah saat ini jelas merupakan sebuah tragedi, tidak ada keraguan tentang itu. Pemandangan di mana tentara Israel mematahkan lengan dan kaki orang-orang Arab patut dicela. Gagasan Israel menutup kota-kota dan menyegel mereka tidak dapat diterima," kata dia saat itu.

Dia melanjutkan, "Krisis di sana telah berlangsung selama 30 tahun ... dan situasi yang terjadi adalah sejumlah pemimpin Arab masih menyerukan penghancuran negara Israel dan pembunuhan warga Israel."

Kini, setelah beberapa puluh tahun, Sanders tetap menjadi politikus yang menyatakan dukungan sekaligus kritikan terhadap kebijakan Israel.

Maret 2016, Sanders mengungkapkan, "Kita juga harus berteman, tidak hanya dengan Israel, tapi juga dengan rakyat Palestina ... Ketika kita bicara tentang Israel dan wilayah Palestina, penting untuk dipahami bahwa saat ini ada banyak sekali penderitaan pada rakyat Palestina dan itu tidak bisa diabaikan."

Sanders digambarkan ingin agar rakyat Israel dan Palestina saling mengenali rasa sakit satu sama lain.

"Pendirian Israel dipahami oleh rakyat Palestina sebagai pemicu pengusiran mereka. Sama seperti rakyat Palestina harus mengakui klaim Israel, para pendukung Israel harus memahami mengapa rakyat Palestina memandang pendirian Israel seperti itu," tulis Sanders dalam esainya di Jewish Currents.

Tidak hanya Israel, Sanders turut mengkritik para pemimpin Palestina.

"Walaupun saya sangat kritis terhadap pemerintahan sayap kanan Netanyahu, saya juga tidak terkesan dengan apa yang saya lihat dari kepimpinan Palestina. Mereka korup, dan tentu saja itu tidak efektif," ujar Sanders kepada The New Yorker pada April 2019.

Menyangkut penyelesaian konflik Israel-Palestina, dalam wawancaranya dengan Dewan Hubungan Luar Negeri pada Juli 2019, Sanders mengatakan bahwa terserah kedua belah pihak terkait dengan kesepakatan akhir.

"Tetapi AS memiliki peran besar untuk menengahi kesepakatan tersebut. Pemerintahan saya kelak juga bersedia memberi tekanan nyata pada kedua belah pihak, termasuk mengondisikan bantuan militer, untuk menciptakan konsekuensi bagi langkah-langkah yang merusak peluang perdamaian," jelas dia.

Pada November 2019 Sanders menegaskan sikapnya soal pemukiman Israel di wilayah Palestina. 

"Pemukiman Israel di wilayah pendudukan adalah ilegal. Ini jelas dari perspektif hukum internasional dan berbagai resolusi PBB. Sekali lagi, Trump telah mengisolasi AS dan melemahkan diplomasi," twit Sanders. (The Jerusalem Post dan The Times of Israel)

Berita Lainnya