sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kematian Covid-19 di India tembus 200.000 orang

India mencatat 3.293 kematian dalam 24 jam terakhir, pertama kalinya negara itu menyaksikan lebih dari 3.000 kematian dalam satu hari.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 28 Apr 2021 19:02 WIB
Kematian Covid-19 di India tembus 200.000 orang

Kasus Covid-19 melonjak di India, Negara tersebut melaporkan rekor 362.567 infeksi baru pada Rabu (28/4), termasuk angka kematian yang mencapai 200.000.

Pejabat India mengatakan 3.293 orang tewas dalam 24 jam terakhir, pertama kalinya negara itu menyaksikan lebih dari 3.000 kematian dalam satu hari.

India telah mencatat harian global lebih dari 300.000 kasus selama tujuh hari terakhir.

Meskipun jumlahnya mengejutkan, para ahli kesehatan percaya jumlah sebenarnya dari kasus Covid-19 dan kematian bisa jauh lebih tinggi.

Rumah sakit di seluruh negeri sedang berada di ambang kehancuran dengan orang-orang sekarat di luar pintu mereka atau di rumah karena kekurangan tempat tidur, obat-obatan, dan oksigen medis.

Krematorium pun bekerja lembur. Kayu dilaporkan langka di beberapa tempat dan sejumlah keluarga disuruh membawa kayu sendiri untuk dibakar.

Shuchin Bajaj, salah satu pendiri dan direktur jaringan rumah sakit Ujala Cygnus India, mengatakan situasi di India lebih buruk dari yang dapat dibayangkan.

"Saya mendapat lebih dari 500 telepon sehari dari orang-orang yang meminta tempat tidur, oksigen dan bantuan," kata Bajaj. 

Sponsored

India menghadapi kekurangan oksigen dan pasokan medis penting yang meluas, memperburuk krisis pandemi di dalam negeri.

Bajaj mengatakan, banyak faktor yang mendorong ledakan infeksi di India.

"Menurut saya jumlah penduduknya sangat besar dan fakta ada kota metropolitan besar, daerah padat, dan virusnya sudah bermutasi," jelasnya.

Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tarik Jasarevic mengatakan varian baru yang ditemukan di India mungkin memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi. 

"Tampaknya varian ini memiliki kapasitas dan potensi untuk lebih mudah melekat pada sel manusia. Itu akan jelas berarti lebih banyak orang yang terinfeksi dan akan menyebabkan lebih banyak rawat inap dan lebih banyak kematian," ungkapnya.

Para pakar kesehatan menilai, kelalaian masyarakat dan kepatuhan yang buruk terhadap tindakan pencegahan terkait Covid-19 juga berkontribusi pada penyebaran virus yang cepat.

Negara-negara Barat bergegas menyediakan pasokan vital yang dibutuhkan India untuk mengatasi krisis.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Selasa (27/4) mengatakan pemerintahannya akan segera mengirim vaksin ke India, setelah dia berbicara dengan Perdana Menteri India Narendra Modi. 

Dia menambahkan, AS juga akan mengirimkan suku cadang mekanis yang dibutuhkan untuk mesin yang harus dibuat India untuk vaksin.

Gedung Putih sebelumnya mengumumkan pada Senin (26/4) bahwa AS akan memberikan 60 juta dosis vaksin AstraZeneca kepada seluruh dunia.

Sementara itu, kiriman ventilator dan konsentrator oksigen dari Inggris tiba di New Delhi pada Selasa, menandai pengiriman pertama bantuan Barat yang telah mencapai India.

Selain AS dan Inggris, Jerman, Prancis, dan Uni Eropa telah menjanjikan dukungan kepada India untuk menangani krisis dengan lebih baik.

"Kami benar-benar perlu berdiri bersama India sekarang dan mencoba membantu sebanyak yang kami bisa," kata juru bicara WHO Jasarevic.

Sumber : Deutsche Welle

Berita Lainnya