sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Komentar soal aturan selibat, eks paus ingkar janji

Benediktus telah bersumpah akan menghindari sorotan publik dan tidak ikut campur dalam tugas penerusnya.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 14 Jan 2020 13:28 WIB
Komentar soal aturan selibat, eks paus ingkar janji
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 271339
Dirawat 61628
Meninggal 10308
Sembuh 199403

Mantan Paus Benediktus XVI atau yang bernama asli Joseph Alois Ratzinger menjadi sorotan dunia setelah dia bersuara menentang rencana Paus Fransiskus mengizinkan pria yang sudah menikah menjadi pastor.

Intervensi Benediktus bertolak belakang dari janjinya pada 2013, ketika dia menjadi paus pertama dalam 700 tahun terakhir yang mengundurkan diri. Pada saat itu, dia bersumpah akan menghindari sorotan publik dan tidak ikut campur dalam tugas penerusnya.

Pada Oktober, dokumen dari majelis uskup Katolik Roma atau sinode di Amazon mengusulkan agar pria yang sudah menikah dapat ditahbiskan demi mengatasi kekurangan pastor di wilayah-wilayah terpencil di kawasan itu.

Paus Fransiskus menyatakan akan mempertimbangkan permintaan sinode tersebut. Keputusan akhirnya diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa bulan mendatang.

Jika disetujui, aturan baru itu akan memungkinkan umat Katolik di daerah-daerah terpencil di Amerika Selatan untuk menghadiri misa dan menerima sakramen secara lebih teratur. Aturan tersebut hanya akan berlaku di wilayah Amazon dan bagi pria yang sudah ditahbiskan sebagai diakon.

Dalam bukunya yang akan terbit pada 20 Februari, Benediktus menegaskan bahwa aturan selibat klerikal tetap harus dijalani oleh Vatikan. Buku bertajuk "From the Depths of our Hearts: Priesthood, Celibacy, and the Crisis of the Catholic Church" itu ditulis bersama kardinal konservatif, Robert Sarah.

"Imamat Yesus Kristus menyebabkan kita masuk dalam kehidupan yang membuat kita bersatu dengan Dia dan meninggalkan semua milik kita. Bagi para klerus, ini adalah dasar perlunya selibat," tulis dia dalam cuplikan bukunya yang diterbitkan surat kabar Prancis, Le Figaro, pada Minggu (12/1).

Benediktus mengatakan, aturan selibat telah menjadi tradisi yang dijalani Gereja Katolik Roma sejak 1.000 tahun lalu. Bagi dia, aturan itu membawa makna yang besar karena memungkinkan pastor berkonsentrasi pada "panggilan"nya.

Sponsored

"Pernikahan menuntut seorang pria untuk berbakti kepada keluarganya dan melayani Tuhan juga membutuhkan penyerahan diri total," jelas Benediktus. "Oleh sebab itu, tidak mungkin untuk menjalani dua panggilan itu secara bersamaan."

Benediktus mendesak agar Gereja Katolik Roma tidak terpengaruh oleh permohonan, sandiwara, serta kebohongan yang ingin mendevaluasi aturan selibat klerikal.

Selama tujuh tahun terakhir, Benediktus telah beberapa kali berkomentar tentang sejumlah isu terkait Gereja Katolik Roma. Namun, ini pertama kalinya pria berusia 92 tahun itu mengintervensi masalah yang secara aktif sedang dibahas dan menjadi pertimbangan Paus Fransiskus.

"Ini pertama kalinya Benediktus mengambil langkah semacam ini," jelas pengamat Vatikan, Joshua McElwee.

Dia menyatakan, ada kekhawatiran bahwa pernyataan Benediktus, yang memiliki banyak pengikut di kalangan Katolik konservatif, dapat mengganggu pembuatan keputusan Fransiskus.

Usulan penghapusan aturan selibat klerikal di Amazon dilihat banyak pihak sebagai langkah awal dalam mencabut pembatasan bagi aturan pernikahan bagi golongan rohaniwan Katolik di seluruh dunia.

Sejumlah pihak menilai bahwa intervensi Benediktus dapat membawa implikasi besar, mengingat bahwa kaum Katolik konservatif dan tradisional telah lama menentang Fransiskus. Beberapa dari mereka bahkan tidak mengakui pengunduran diri Benediktus.

"Dalam beberapa kesempatan, Paus Fransiskus dengan jelas menekankan bahwa dia menganggap aturan selibat klerikal sangat penting. Dia tidak ingin menghapuskannya sepenuhnya. Dia hanya mempertimbangkan permintaan tersebut karena itu datang dari para pastor di lapangan yang mengkhawatirkan kebutuhan umatnya," kata McElwee.

Massimo Faggioli, sejarawan dan teolog yang menulis untuk surat kabar Katolik La Croix, mengkritik langkah Benediktus.

"Ini bukan tentang selibat klerikal. Ini tentang kebebasan Paus Fransiskus dan proses sinode," twit dia.

Menurut Faggioli, Benediktus telah melakukan pelanggaran serius mengingat sebelumnya dia bersumpah akan menghormati dan mematuhi keputusan penggantinya. (The Guardian, Reuters, dan Associated Press)

Berita Lainnya
×
img