logo alinea.id logo alinea.id

KTT Amazon hasilkan pakta yang diragukan

Pakta yang dihasilkan KTT Amazon di Leticia, Kolombia, disebut tidak memuat rincian dan arahan yang jelas.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Sabtu, 07 Sep 2019 09:48 WIB
KTT Amazon hasilkan pakta yang diragukan

Para pemimpin negara yang menjadi rumah bagi Hutan Amazon menandatangani sebuah pakta pada Jumat (6/9), yang bertujuan berbagi sumber daya dan mengambil langkah yang lebih besar untuk melindungi hutan hujan tropis terbesar di dunia itu.

Pembicaraan yang dipimpin oleh Presiden Kolombia Ivan Duque tersebut berlangsung di Leticia, wilayah Kolombia yang merupakan bagian dari Hutan Amazon.

Menurut pakta tersebut, negara-negara Amazon akan memperkuat tindakan terkoordinasi, membangun mekanisme kerja sama regional, meningkatkan upaya terkait dengan pemantauan tutupan hutan (forest cover) dan memperkuat kapasitas serta partisipasi masyarakat adat dan suku. Bagaimanapun, pakta tersebut tidak spesifik.

Di antara mereka yang hadir dalam pertemuan kemarin adalah Presiden Peru Martin Vizcarra, Presiden Ekuador Lenin Moreno, Presiden Bolivia Evo Moralems, Wakil Presiden Suriname Michael Adhin, Menteri Luar Negeri Brasil Ernesto Araujo dan Menteri Sumber Daya Alam Guyana Raphael Trotman. Presiden Brasil Jair Bolsonaro yang tidak datang karena alasan kesehatan memutuskan hadir lewat sambungan video. Adapun Venezuela tidak diundang.

Pertemuan tersebut dilatarbelakangi oleh meningkatnya kemarahan internasional atas gelombang kebakaran hutan di sejumlah negara Amazon. Para pecinta lingkungan menyalahkan kebijakan dan pelemahan pembatasan oleh pemerintahan Brasil atas meningkatnya deforestasi.

Bolsonaro dilaporkan ingin membuka hutan hujan untuk eksplorasi komersial.

"Kami memahami urgensi untuk melindungi kawasan ini, kami memahami bahwa ada ancaman di kawasan ini dan bahwa pada dasarnya (ancaman) sama di seluruh negara yang hadir pada hari ini," kata Duque.

"Tidak mengherankan bagi siapapun bahwa dalam beberapa dekade terakhir kami telah kehilangan ribuan hektar hutan hujan tropis karena ekspansi ilegal dari perbatasan pertanian serta ekstraksi mineral ilegal dan penanaman tanaman ilegal."

Sponsored

Duque meminta seluruh pemimpin yang hadir untuk bekerja sama memerangi deforestasi dan berbagi informasi tentang perlindungan Amazon.

"Ketika negara sahabat membutuhkan bantuan, kita harus melakukan yang terbaik untuk menolong dalam situasi darurat ini," ujar Duque.

Senada dengan Duque, Presiden Peru mengatakan, "Jika kita melihat kembali apa yang telah dilakukan selama 40 tahun terakhir, itu tidak memuaskan. Dan kita akan mengubah strategi."

Peru memiliki jumlah hutan hujan tropis terbesar keempat di dunia dan kedua di Amerika Latin, setelah Brasil.

Sementara itu, via video Bolsonaro menuturkan bahwa pakta tersebut menegaskan kedaulatan masing-masing negara.

Selain para kepala negara Amazon, dalam pertemuan itu hadir pula para pemimpin adat yang komunitasnya paling terkena dampak deforestasi dan kebakaran Amazon. 

Nelly Kuiru, koordinator Organisasi Masyarakat Adat Nasional Kolombia, menyatakan keraguannya atas komitmen para kepala negara untuk melindungi Hutan Amazon.

"Ini adalah momen kritis bagi Amazon dalam hal masalah lingkungan dan sosial dengan penduduk asli yang tinggal di wilayah ini," kata dia

"Saya pikir adalah penting bahwa para presiden meluangkan waktu untuk datang ke salah satu daerah Amazon, di Kolombia, dan menandatangani pakta itu. Tetapi saya ragu akan hal itu," tambahnya. "Saya ragu pakta itu akan terpenuhi, karena untuk membuat pakta, pertama-tama harus ada analisis tentang apa yang terjadi."

Sumber : Al Jazeera