logo alinea.id logo alinea.id

Penembakan massal di AS: Uruguay hingga Jepang rilis peringatan

31 orang tewas dalam dua tragedi penembakan massal yang terjadi di Amerika Serikat pada akhir pekan lalu.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 07 Agst 2019 10:33 WIB
Penembakan massal di AS: Uruguay hingga Jepang rilis peringatan

Venezuela, Uruguay dan Jepang mengeluarkan peringatan kepada warga mereka pascatragedi dua penembakan massal di Amerika Serikat pada akhir pekan lalu yang menewaskan total 31 orang.

Kementerian Luar Negeri Uruguay mengeluarkan peringatan perjalanan (travel advisory) pada Senin (5/8). Mereka mendesak warganya untuk waspada ketika mengunjungi AS karena adanya peningkatan kekerasan dan kejahatan yang dipicu oleh rasialisme dan diskriminasi.

Kemlu Uruguay mencatat bahwa kejahatan rasialisme telah menewaskan lebih dari 250 orang di AS selama tujuh bulan pertama 2019.

Peringatan Uruguay secara khusus menyarankan warganya untuk menghindari tempat-tempat dengan kerumunan seperti taman hiburan, mal, festival seni, kegiatan keagamaan, festival kuliner, acara olahraga dan protes massa.

Uruguay pun menyarankan warganya untuk tidak berkunjung ke Detroit, Baltimore dan Albuquerque, tiga kota AS yang tercantum dalam daftar 20 kota paling berbahaya di dunia menurut CEOWORLD Magazine pada 2019.

Juga di Amerika Latin, pemerintah Venezuela merilis peringatan perjalanan yang mendesak warganya untuk menunda perjalanan ke AS.

Peringatan dari Venezuela menyebutkan bahwa sebelum bepergian ke AS, warganya perlu mempertimbangkan adanya kekerasan senjata api baru-baru ini dan kejahatan rasial di negara itu.

"Tindakan kekerasan yang meningkat ini berasal dari diskriminasi rasial dan kebencian terhadap migran," demikian bunyi peringatan perjalanan yang terbit pada Senin.

Sponsored

Menurut peringatan itu, salah satu alasan utama terjadinya kekerasan di AS adalah karena kepemilikan senjata api oleh warga yang didukung pemerintah federal.

Peringatan dari dua negara Amerika Latin itu muncul setelah penembakan massal terjadi di El Paso, Texas, pada Sabtu (3/8). Kurang dari 13 jam kemudian, penembakan massal lainnya terjadi di Dayton, Ohio.

Sebelum melakukan aksinya, pelaku penembakan El Paso, Patrick Crusius (21), mengunggah sebuah manifesto ke situs 8chan. Dia menyatakan bahwa pembantaian itu merupakan respons atas invasi warga Amerika Latin di Texas.

Selain Uruguay dan Venezuela, Konsul Jepang di Detroit menerbitkan peringatan pada Minggu (4/8) yang menyatakan bahwa warganya perlu mewaspadai potensi terjadinya penembakan di AS.

Los Angeles Times melaporkan bahwa sejumlah negara lain juga pernah mengeluarkan peringatan perjalanan di masa lalu karena kekerasan senjata. Mereka adalah Prancis, Selandia Baru dan Jerman.

Pada April, Kementerian Luar Negeri AS mengeluarkan travel advisory level empat, melarang warganya pergi ke Venezuela. Menurut Kemlu AS, peringatan itu dikeluarkan karena kejahatan, kerusuhan dan penahanan sewenang-wenang pihak berwenang Venezuela terhadap warga AS.

Venezuela sendiri menduduki peringkat pertama sebagai negara paling berbahaya di dunia menurut survei Gallup pada 2018.

Sedangkan sejak Jumat (2/8), Kemlu AS mengeluarkan travel advisory level dua, meminta warganya untuk waspada jika hendak bepergian ke Uruguay. Kemlu AS merujuk adanya kejahatan kekerasan yang terjadi di negara itu. (CNN dan USA Today)