sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

PM baru Israel dilantik, akhiri 12 tahun kekuasaan Netanyahu

Kemenangan Bennet mengakhiri cengkeraman kekuasaan 12 tahun oleh mantan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 14 Jun 2021 17:12 WIB
PM baru Israel dilantik, akhiri 12 tahun kekuasaan Netanyahu

Naftali Bennett dilantik sebagai perdana menteri baru Israel pada Minggu (13/6), setelah memenangkan mosi tidak percaya dengan margin tersempit, hanya 60 suara berbanding 59. 

Kemenangannya mengakhiri cengkeraman kekuasaan 12 tahun oleh mantan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, pemimpin dengan masa jabatan terlama di negara itu. 

Setelah melalui empat pemilu dalam dua tahun, pemerintahan baru Bennett memecahkan kebuntuan politik yang panjang dan membentuk koalisi paling beragam dalam sejarah politik Israel, termasuk partai Arab pertama yang menjabat dalam pemerintahan.

Dalam pidatonya sebelum pemungutan suara parlemen Israel, Knesset, Bennett merayakan keragaman dan memperingatkan akan ancaman polarisasi di dalam negeri.

"Dua kali dalam sejarah, kita telah kehilangan rumah kita justru karena para pemimpin generasi tidak dapat duduk bersama dan berkompromi," kata Bennet. "Saya bangga dengan kemampuan untuk duduk bersama dengan orang-orang dengan pandangan yang sangat berbeda dari saya sendiri."

Bennett menjadi perdana menteri sebagai pemimpin Yamina, partai sayap kanan dengan hanya tujuh kursi di Knesset, menjadikannya satu-satunya perdana menteri dalam sejarah negara itu dengan faksi sekecil itu. 

Sebaliknya, partai Likud yang dipimpin Netanyahu memenangkan 30 kursi dalam pemilu pada Maret. Namun, sekali lagi, Netanyahu tidak dapat menyatukan koalisi pemerintahan dengan mayoritas dari 120 anggota Knesset.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden pada Minggu memberikan ucapan selamat kepada Bennett dalam pernyataan pertamanya tentang situasi politik di Israel. 

Sponsored

Lebih lanjut, Biden mengatakan bahwa dia berharap dapat bekerja sama dengan perdana menteri baru.

Menurut pernyataan resmi Gedung Putih, Biden juga berbicara dengan Bennett melalui sambungan telepon.

"Kedua pemimpin sepakat bahwa mereka dan tim mereka akan berkonsultasi secara dekat tentang semua hal yang berkaitan dengan keamanan regional, termasuk Iran," jelas pernyataan Gedung Putih.

Lebih lanjut, Gedung Putih menyatakan bahwa Biden menyampaikan, pemerintahannya bermaksud untuk bekerja sama dengan pemerintah Israel dalam upaya memajukan perdamaian, keamanan, dan kemakmuran bagi Israel dan Palestina.

Sebuah pernyataan dari kantor Bennett mengatakan bahwa kedua pemimpin menekankan pentingnya aliansi antara Israel dan AS, serta komitmen mereka untuk memperkuat hubungan antara kedua negara, dan menjaga keamanan Israel.

Dalam panggilan dengan Biden, Bennett juga menyatakan ucapan terima kasih atas dukungan Biden untuk Israel selama operasi baru-baru ini di Gaza.

Selama debat menjelang pengambilan sumpah, Netanyahu menyerang koalisi yang menggulingkannya, menyebutnya sebagai pemerintahan yang "lemah" dan "berbahaya".

Setelah menggembar-gemborkan prestasinya selama bertahun-tahun menjabat, Netanyahu menyerang para pesaingnya.

"Kalian menyebut diri kalian sebagai penjaga demokrasi, tetapi kalian sangat takut pada demokrasi sehingga kalian siap untuk meloloskan undang-undang fasis terhadap pencalonan saya demi mempertahankan rezim kalian," katanya.

Dia merujuk pada spekulasi bahwa pemerintahan baru akan memberlakukan batasan masa jabatan atau menetapkan ilegal bagi seseorang yang telah didakwa untuk menjabat sebagai perdana menteri.

Sumber : CNN

Berita Lainnya