sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Serangan tetap terjadi di tengah gencatan senjata di Gaza

Gencatan senjata antara Israel dan kelompok militan Jihad Islam Palestina mulai berlaku pada Kamis (14/11).

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 15 Nov 2019 12:34 WIB
Serangan tetap terjadi di tengah gencatan senjata di Gaza
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 59394
Dirawat 29740
Meninggal 2987
Sembuh 26667

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada Jumat (15/11) mengatakan pihaknya telah meluncurkan serangan udara baru, menargetkan militan Jihad Islam Palestina di Jalur Gaza.

Menurut IDF, militan dari kelompok tersebut sebelumnya telah menembakkan sejumlah roket ke Israel meski gencatan senjata telah mulai berlaku pada Kamis (14/11).

"IDF saat ini menyerang target teror, Jihad Islam, di Jalur Gaza. Serangan baru ini terjadi setelah tanpa pandang bulu, roket ditembakkan dari Gaza dan menyasar warga sipil Israel," twit IDF pada Jumat.

Gencatan senjata disepakati antara Israel dan Jihad Islam setelah pertempuran yang berlangsung sejak dua hari terakhir di Gaza. Pertempuran tersebut dimulai setelah serangan udara Israel menewaskan komandan dari kelompok itu, Baha Abu Al-Atta, pada Selasa (12/11).

Setelah pembunuhan Atta, Israel dihujani lebih dari 350 roket yang ditembakkan dari Gaza. 

Israel menyebut bahw Atta bertanggung jawab atas tembakan roket dan sejumlah serangan lainnya serta merencanakan lebih banyak kekerasan. Mereka mengibaratkannya sebagai bom yang berdetak.

Pengumuman oleh IDF menunjukkan bahwa gencatan senjata, yang ditengahi oleh Mesir, mandek.

Sponsored

Pejabat kesehatan Gaza mencatat bahwa pertempuran antara kedua pihak telah menewaskan 34 warga Palestina, hampir setengah dari mereka merupakan warga sipil, termasuk delapan anak-anak dan tiga wanita.

Di Israel, setidaknya 63 warga menerima perawatan akibat cedera yang mereka alami setelah ratusan roket yang diluncurkan dari Gaza melumpuhkan mayoritas wilayah selatan negara itu.

Juru bicara Jihad Islam Musab al-Braim mengatakan bahwa kelompoknya telah meraih konsesi dengan Israel.

"Kesepakatan itu mencakup pengajuan kami agar Israel menghentikan pembunuhan, khususnya terhadap para pemrotes dalam demonstrasi 'March of Return' dan untuk memulai prosedur yang membatalkan pengepungan," kata dia.

Demonstrasi 'March of Return' merupakan serangkaian protes mingguan yang dimulai pada Maret 2018. Unjuk rasa itu menyerukan diakhirinya pengepungan darat dan udara militer Israel yang melumpuhkan Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan, sejak aksi protes itu dimulai, 313 pedemo Palestina telah tewas dan ribuan lainnya terluka akibat tembakan militer Israel. Delapan orang Israel disebut tewas dalam periode yang sama.

Menurut petinggi Jihad Islam lainnya, konsesi itu menetapkan bahwa faksi-faksi Palestina harus memastikan kembalinya kondisi yang kondusif di Gaza dan menjaga perdamaian selama demonstrasi berlangsung. Sementara itu, Israel diminta untuk menghentikan sikap permusuhan dan memastikan untuk tetap mengimplementasikan gencatan senjata selama unjuk rasa oleh Palestina.

Situasi tetap tegang

Setelah pengumuman gencatan senjata, Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz mengatakan pemerintahnya akan menuruti kesepakatan itu hanya jika faksi-faksi Palestina di Gaza menghentikan serangan mereka.

"Ketenangan akan dijawab dengan ketenangan," kata Katz kepada media pada Kamis. "Israel tidak akan ragu untuk menyerang pihak yang berusaha mengganggu kami, baik dari Gaza maupun dari tempat lainnya."

Gaza telah berada di bawah blokade bersama Israel-Mesir selama lebih dari satu dekade, membatasi kebebasan bergerak dua juta penduduknya serta pasokan barang, jasa dan kebutuhan medis.

Utusan PBB Nickolay Mladenov tiba di Kairo pada Rabu sore. Dia dilaporkan mengadakan pembicaraan yang bertujuan untuk menghentikan pertempuran. Dalam sebuah twit, dia mengatakan bahwa situasi di Gaza masih rapuh.

"Seluruh pihak harus sekuat mungkin menahan diri dan melakukan bagian mereka untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah," kata dia.

PBB dan Mesir telah berperan besar dalam menengahi gencatan-gencatan sebelumnya antara Israel dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya yang berbasis di Gaza.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu menuturkan bahwa Jihad Islam harus menghentikan serangan roketnya atau akan menghadapi lebih banyak balasan. 

Sumber : Al Jazeera

Berita Lainnya