sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Trump: Pemakzulan bawa bahaya besar bagi AS

Trump anggap upaya pemakzulan DPR AS benar-benar konyol.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 13 Jan 2021 13:02 WIB
Trump: Pemakzulan bawa bahaya besar bagi AS

Presiden Donald Trump pada Selasa (12/1) menolak disebut bertanggung jawab atas kerusuhan di Capitol pekan lalu. Dia memperingatkan bahwa upaya pemakzulannya justru akan membawa bahaya besar bagi Amerika Serikat.

Trump juga mengklaim bahwa komentarnya yang dinilai menghasut pendukungnya untuk menyerbu gedung kongres tidak berbahaya.

"Orang-orang menilai bahwa apa yang saya katakan benar-benar tidak berbahaya," ujarnya.

Kerusuhan itu terjadi setelah dia mendesak para pendukungnya di rapat umum untuk membatalkan kemenangan Joe Biden di Electoral College. Dalam pernyataannya, Trump kembali menggunakan jenis bahasa yang menurut para kritikus memicu amarah massa, menyebut pemakzulan yang direncanakan oleh DPR yang dipimpin Demokrat sebagai kelanjutan dari witch hunt terbesar dalam politik.

"Ini konyol, benar-benar konyol," kata Trump dalam pernyataan pertamanya kepada media sejak kerusuhan yang menewaskan seorang petugas polisi Capitol dan menewaskan sedikitnya empat orang lainnya.

Presiden Trump menuturkan bahwa upaya pemakzulan tersebut menimbulkan amarah publik dan merupakan hal yang buruk.

"Untuk Ketua DPR Nancy Pelosi dan pemimpin Senat Demokrat, Chuck Schumer, yang melanjutkan jalan ini, saya pikir itu hanya akan menyebabkan bahaya besar bagi negara kita," ujarnya.

"Saya tidak menginginkan kekerasan," imbuhnya.

Sponsored

Namun, Trump tidak secara eksplisit mengutuk tindakan para pendukungnya yang menyerbu Capitol yang memprotes dan mencegah kongres terkait keputusan memenangkan Biden pada Pilpres 2020. Tidak lama setelah pernyataan Trump, Schumer kembali menegaskan bahwa upaya pemakzulan adalah yang perlu dilakukan.

"Donald Trump seharusnya sudah diberhentikan dari jabatannya. Apa yang kita lihat dalam pernyataannya hari ini adalah buktinya," ungkap dia.

Trump telah diblokir dari banyak platform media sosial sejak pekan lalu karena komentarnya terkait protes di Capitol yang berujung pada kericuhan.

"Ini sangat, sangat buruk bagi negara kita," kata dia, mengomentari pemblokirannya dari media sosial.

"Tindakan ini dapat menimbulkan banyak masalah dan banyak bahaya. Sungguh kesalahan besar," lanjutnya.

Ketika ditanya apakah dia akan mengundurkan diri sebelum akhir masa jabatannya minggu depan, Trump tidak menjawab. Trump kemudian mengulangi tanggapannya terkait penyerbuan di Capitol pada Selasa malam, saat dia berpidato di Alamo, Texas. Namun, sekali lagi, dia mengaku tidak bertanggung jawab karena menghasut massa, dan tidak mengecam kekerasan tersebut.

"Jutaan warga AS menyaksikan ketika massa menyerbu Capitol dan menghancurkan gedung pemerintahan. Seperti yang telah saya katakan secara konsisten sepanjang pemerintahan saya, kami percaya dalam menghormati sejarah dan tradisi AS, bukan menghancurkannya. Kami tunduk pada aturan hukum, bukan kekerasan atau kerusuhan," ujar Trump.

Kerusuhan di Capitol telah mengganggu sesi gabungan kongres yang mengonfirmasi kemenangan Biden. Kemenangannya kemudian dikonfirmasi keesokan harinya dalam persidangan yang diawasi oleh Wakil Presiden Mike Pence.

Tiga anggota Kabinet Trump mengundurkan diri setelah kerusuhan tersebut yakni Menteri Perhubungan Elaine Chao, Menteri Pendidikan Betsy DeVos, dan Chad Wolf, yang telah bertindak sebagai sekretaris di Kementerian Keamanan Dalam Negeri.

Jaksa Agung Distrik Columbia pada Senin (11/1) menyatakan bahwa dia akan menyelidiki apakah akan menuntut Trump, putranya Donald Trump Jr., dan pengacara pribadi presiden Rudy Giuliani secara pidana karena telah menghasut kerusuhan dengan pernyataan di rapat umum Gedung Putih tepat sebelum pendukung Trump menyerbu Capitol.

Pemakzulan Trump tersebut dinilai secara langsung timbul dari upayanya yang berusaha mencegah Biden menjadi Presiden AS dan bukan pertama kalinya. Sebelumnya, anggota dari Partai Demokrat pernah melakukan upaya memakzulkan Trump pada akhir 2019, ketika Trump terbukti menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy untuk mengumumkan bahwa negara tersebut sedang menyelidiki Biden dan putranya Hunter atas dugaan pelanggaran hukum. (CNBC)

Berita Lainnya