close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Tentara Ukraina menembakkan mortir ke arah pasukan Rusia. Foto REUTERS-Oleksandr Ratushniak
icon caption
Tentara Ukraina menembakkan mortir ke arah pasukan Rusia. Foto REUTERS-Oleksandr Ratushniak
Dunia
Senin, 11 Maret 2024 15:11

Ukraina tepis seruan Paus Fransiskus agar berunding dengan Rusia

Pimpinan Gereja Katolik Ritus Timur di Ukraina yang beranggotakan 5 juta orang, Uskup Agung Sviatoslav Shevchuk, juga menepis komentar Paus.
swipe

Ukraina menolak seruan Paus Fransiskus untuk merundingkan diakhirinya perang dengan Rusia, pada hari Minggu (10/3) .

Presiden Volodymyr Zelenskiy mengatakan Paus terlibat dalam “mediasi virtual”. Sementara Menteri Luar Negeri Ukraina bersikukuh Kiev takkan pernah menyerah.

Paus menyatakan ketika keadaan memburuk, Ukraina harus mengangkat “bendera putih” dan bernegosiasi. Ucapan Paus diyakini pertama kalinya menggunakan istilah seperti "bendera putih" atau "kalah" dalam membahas perang di Ukraina. Sebelumnya ia merujuk pada perlunya perundingan.

Zelenskiy tidak merujuk langsung pada Paus Fransiskus atau komentarnya, namun menyebutkan tokoh-tokoh agama membantu di Ukraina.

“Mereka mendukung kami dengan doa, diskusi, dan perbuatan. Ini jelas gereja yang memiliki umat,” kata Zelenskiy dalam pidato video malamnya.

Menlu Dmytro Kuleba, menulis di platform pesan X, mengatakan bahwa orang kuat dalam perselisihan apa pun "berdiri di pihak yang baik daripada berupaya menempatkan mereka pada pijakan yang sama dan menyebutnya sebagai 'negosiasi'".

“Bendera kami berwarna kuning dan biru,” tulis Kuleba dalam bahasa Inggris, mengacu pada bendera nasional Ukraina. “Ini adalah bendera yang kita gunakan untuk hidup, mati, dan menang. Kita tidak akan pernah mengibarkan bendera lain.”

Kuleba juga menunjuk pada tudingan bahwa Paus Pius XII gagal bertindak melawan Nazi di Jerman pada Perang Dunia Kedua.

“Saya mendesak (Vatikan) untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu dan mendukung Ukraina dan rakyatnya dalam perjuangan yang adil untuk hidup mereka,” tulisnya disitir Reuters.

Hal ini mengacu pada argumen lama bahwa Pius tidak mengambil tindakan meskipun ada bukti yang muncul selama perang mengenai Holocaust. Sebuah surat yang dipublikasikan tahun lalu dari arsip Vatikan tampaknya menunjukkan bahwa Pius telah mengetahui rincian tindakan Nazi untuk memusnahkan orang-orang Yahudi sejak tahun 1942.

Para pendukung Pius mengatakan dia bekerja di balik layar guna membantu orang-orang Yahudi dan tidak bersuara untuk mencegah memburuknya situasi umat Katolik di Eropa yang diduduki Nazi. Para pengkritiknya mengatakan dia tidak punya keberanian buat mengungkapkan informasi yang dia peroleh meskipun ada permintaan dari kekuatan Sekutu yang memerangi Jerman.

Pimpinan Gereja Katolik Ritus Timur di Ukraina yang beranggotakan 5 juta orang, Uskup Agung Sviatoslav Shevchuk, juga menepis komentar Paus.

"Ukraina terluka, namun tidak ditaklukkan! Ukraina kelelahan, namun tetap bertahan dan akan bertahan!" situs web gereja mengutip ucapan Shevchuk di New York.

“Percayalah, tidak ada seorang pun yang berpikir untuk menyerah,” tegasnya.

Zelenskiy menyerukan penarikan seluruh pasukan Rusia dan pemulihan perbatasan Ukraina pasca-Soviet. Kremlin mengesampingkan keterlibatan dalam pembicaraan dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Kiev.

Paus telah beberapa kali mengecewakan para pejabat Ukraina dalam perang tersebut. Termasuk seruannya tahun lalu kepada pemuda Rusia untuk merasa bangga sebagai pewaris tsar seperti Peter Agung, yang dijadikan contoh oleh Presiden Vladimir Putin untuk membenarkan tindakannya di Ukraina.

Para pejabat Eropa yang mendukung Ukraina dalam upaya mengusir pasukan Rusia mengecam komentar terbaru Paus.

“Bagaimana kalau, demi keseimbangan, mendorong Putin agar berani menarik pasukannya dari Ukraina?” Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski menulis di X.

Presiden Latvia Edgars Rinkevics, juga menulis di X, mengatakan:

“Seseorang tidak boleh menyerah saat menghadapi kejahatan, seseorang harus melawan dan mengalahkannya, sehingga justru kejahatanlah yang mengibarkan bendera putih dan menyerah.”

Terpisah, Amerika Serikat meminta bantuan Tiongkok dan India untuk mencegah Rusia melakukan serangan nuklir pada tahun 2022, kata seorang pejabat AS kepada CNN – ketika Paus memicu kemarahan karena mengatakan Ukraina harus berani “mengibarkan bendera putih”.

“Salah satu hal yang kami lakukan adalah tidak hanya mengirim pesan kepada mereka secara langsung tetapi juga mendesak, menekan, dan mendorong negara-negara lain, yang mungkin lebih mereka perhatikan, untuk melakukan hal yang sama,” kata pejabat itu, menurut laporan tersebut dikutip The Independent.(reuters,independent)

img
Arpan Rachman
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan