sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Birds of Prey: Kisah patah hati Harley Quinn berbalut komedi

Ini merupakan film kedua Quinn usai Suicide Squad pada 2016.

Valerie Dante
Valerie Dante Sabtu, 08 Feb 2020 22:34 WIB
<i>Birds of Prey</i>: Kisah patah hati Harley Quinn berbalut komedi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 2092
Dirawat 1751
Meninggal 191
Sembuh 150

Birds of Prey menjadi film kedua Harley Quinn (Margot Robbie) setelah debutnya di Suicide Squad (2016). Film yang digarap Warner Bros Pictures ini, dibuka dengan kilas balik kisah menyedihkan Quinn yang baru dicampakkan kekasihnya, Joker.

Film yang disutradarai Cathy Yan tersebut, dinarasikan sendiri oleh Quinn, yang berupaya menjadi wanita mandiri melawan rasa sakit hati yang dideritanya. Seperti di Suicide Squad, karakter Quinn di Birds of Prey masih aneh, hiperaktif, dan impulsif. Dilengkapi rambut khasnya berwarna pink dan biru.

Tidak lama setelah kabar hubungannya dengan Joker kandas, Quinn menjadi target para penjahat yang berupaya membalas dendam. Karena kehilangan imunitas dari ancaman para kriminal. Bos mafia Kota Gotham, Roman "Black Mask" Sionis (Ewan McGregor), salah satunya.

Saat bersamaan, Black Mask mencoba menangkap seorang bocah perempuan, Cassandra Cain (Ella Jay Basco), yang tanpa sengaja mencuri berlian berharganya. Menghindari ancaman akan dikuliti hidup-hidup, Quinn menawarkan bantuan kepada Black Mask. Berjanji menemukan Cain dan mengembalikan berlian itu.

Harley Quinn dalam Birds of Prey. Foto IMDb

Melalui perburuan harta karun itulah Birds of Prey memperkenalkan dan menyatukan para tokoh utamanya. Helena "Huntress" Bertinelli (Mary Elizabeth Winstead), seorang pembunuh yang ingin balas dendam; Dinah "Black Canary" Lance, sopir Black Mask yang mengkhianati bosnya; dan Renne Montoya (Rosie Perez), detektif yang menyelidiki Black Mask sejak lama.

Keempat wanita ini sadar, mereka sama-sama diburu Black Mask. Mereka memutuskan bekerja sama untuk membunuh bos mafia itu dan menyelamatkan Cain.

Film yang mendapat skor 82% dari Rotten Tomatoes tersebut, penuh pertarungan dengan koreografi yang brutal dan disertai lagu-lagu pop catchy. Setiap adegan perkelahian terlihat sangat picturesque dengan slow-motion yang berlebihan.

Sponsored

Berbeda saat pertama karakter Quinn diperkenalkan di Suicide Squad, Robbie terlihat lebih nyaman dalam Birds of Prey. Dalam film ini, Quinn beberapa kali berinteraksi dengan penonton (breaking the fourth wall). Hal sama yang dilakukan Ryan Reynolds di Deadpool (2016).

Namun, alur Birds of Prey yang nonlinear sangat membingungkan. Dari awal hingga pertengahan film, Quinn menceritakan kisahnya dengan alur yang berantakan. Entah tiba-tiba maju tiga bulan atau mundur empat menit. Film ini gagal menjahit alur dengan rapi. Sehingga, lebih mudah ditelan penonton.

Film adaptasi komik DC tersebut pun tak mengandung konflik yang terlalu membekas. Selain Quinn, karakter-karakter lain tergolong baru dan asing. Seharusnya, Birds of Prey dapat lebih banyak menyisihkan waktu untuk menceritakan latar belakang Huntress, Montoya, dan Black Canary.

 

 

starstarstarstarstar3

Plot dan latar belakang karakter yang tipis, berlindung di balik adegan laga yang menghibur

 

Sanksi bagi kaum Covidiot

Sanksi bagi kaum Covidiot

Sabtu, 04 Apr 2020 13:20 WIB
Kalut Covid-19 di tangan Luhut

Kalut Covid-19 di tangan Luhut

Jumat, 03 Apr 2020 13:12 WIB
Berita Lainnya