logo alinea.id logo alinea.id

Film Bohemian Rhapsody: Perayaan gagal atas Freddy Mercury

Megah dan meriah, tapi gagal mendedah problem terdalam seorang legenda roker.

Purnama Ayu Rizky
Purnama Ayu Rizky Selasa, 30 Okt 2018 12:09 WIB
Film Bohemian Rhapsody: Perayaan gagal atas Freddy Mercury

Freddy Mercury adalah awal dan akhir Queen, dan rahasia Freddy cuma satu: gigi ekstra. Saat film belum berumur 15 menit, Freddy (Rami Malek, aktor terbaik Emmy untuk perannya di “Mr.Robot”) sudah memberi kata kunci, “Saya lahir dengan tambahan empat gigi seri,” ujarnya pada Roger Taylor (Ben Hardy) dan Brian May (Gwilym Lee). Sebuah musabab yang membuatnya konon bisa menyanyi dengan modulasi (teknik) yang menakjubkan, baik di langgam bariton (rendah) atau tenor (tinggi).

Queen sendiri belum lahir waktu mereka bertemu di belakang sebuah bar di pinggiran Inggris. Freddy belum mashur dan masih belajar musik di Ealing College of Art, London. Roger dan Brian pun baru bermusik di sebuah band bernama “Smile”, yang sekadar manggung dari bar ke bar. Pertemuan mereka dengan Freddy malam itu terjadi usai keduanya bernyanyi di depan kalangan anak-anak muda.

Kebetulan Smile baru saja ditinggal vokalisnya, Tim Staffell. Freddy yang memang sudah lama mengagumi Smile, menawarkan diri jadi vokalis pengganti. Namun, melihat penampilan Freddy yang flamboyan dengan kuku tangan bercat hitam, dan gigi mancung, membuat mereka ragu. Mereka bahkan sempat mengolok-olok gigi Freddy. Baru setelah penggemar Jimi Hendrix dan Liza Minnelli ini mulai membuka mulut, bingo! keajaiban terjadi.

Singkat cerita, Brian dan May yang sudah kesengsem dengan suara Freddy membentuk band baru bernama Queen. Kemampuan bermusik dan kreativitas pemilik nama asli Farrokh Bulsara itu, membuat Queen segera mencuri tempat di hati para pendengar. Dengan segera lagu-lagu mereka merambat ke udara lewat radio-radio. Album dan tur pun bertubi-tubi membuat mereka sibuk. Akhirnya, band yang lahir di belakang bar itu dikenal oleh massa di seluruh dunia.

Salah satu scene di Bohemian Rhapsody./ IMDB

Menjadi terkenal, kaya, dan dikagumi orang-orang di seluruh jagat membuat Freddy terlena. Ia mulai sering berganti pasangan, tak hanya laki-laki tapi juga perempuan. Ia pun senang berpesta juga mengonsumsi narkoba. Dalam biografinya berjudul “Mercury: The Definitive Biography” (1997) yang ditulis Lesley-Ann Jones, orientasi homoseksual pria kelahiran Zanzibar ini sudah tampak sejak ia bermukim di India.

Gita Choksi, teman sekolahnya di St Petrus sering dikaitkan dengan Freddy yang dulunya dikenal pemalu. Janet Smith, seorang guru di sekolah perempuan, juga mengingat Freddy sebagai anak laki-laki kurus yang pemalu. Ia gemar memanggil semua orang dengan sapaan ‘sayang’—sebuah kebiasaan yang tak lazim dilakukan saat itu. Saat orang-orang menyebutnya sebagai gay, Freddy pun jarang marah.

Dalam film ini, penemuan soal orientasi seksual Freddy mulai banyak dikulik sejak ia aktif main musik bersama Queen. Sederet laki-laki mengisi hidup Freddy, mulai Paul Prenter hingga Jim Hutton. Namun, meski berhubungan dengan banyak lelaki, Freddy tetap mencintai Mary Austin, pacar perempuannya yang belakangan sempat ia lamar. Saking cintanya pada Mary, ia membuat lagu tribut untuknya bertajuk “Love of My Life”. Sebuah lagu yang membuat siapa saja mendengar, barangkali akan meleleh.

Sponsored

Bagian pengakuan atas orientasi seksual Freddy memang mendapat porsi agak dominan dalam film. Ia bercerita secara detail soal awal mula Freddy menyadari jika ia adalah seorang homoseksual, bagaimana ia berkencan dengan para teman pria, serta pengakuannya pada Mary. Sampai akhirnya Freddy berkomitmen dengan Jim Hutton—pria yang menurut buku biografinya, ditemui di sebuah bar, tapi di film justru ditemui di rumah Freddy. Buat yang tak baca bukunya, tentu bagian kecil ini tak akan mengganggu.

Serba-serbi fim Bohemian Rhapsody

Momen saat Freddy—karena gaya hidupnya—mengidap HIV/AIDS menjadi titik balik sendiri, baginya, juga buat Queen. Dalam satu bagian film ia terpaksa “mengasingkan” diri dari teman-temannya di Queen. Apalagi, saat itu ia mulai melakukan proyek solo untuk dua kontrak album. Saat itulah, saya melihat Freddy, pria yang mampu membakar penonton dengan kelincahan di atas panggung, jadi sosok paling rapuh.

Replika panggung dibuat mirip, Rami menakjubkan

Saya melihat, sutradara yang belakangan dipecat di akhir produksi Bryan Singer, begitu berambisi menjadikan biopik ini sebagai karya yang besar. Replika panggung saat mereka konser di depan 72.000 penonton Stadion Wembley dalam acara Live Aid untuk anak-anak kelaparan Afrika, 13 Juli 1985, mirip sesuai aslinya.

Tak hanya itu, Rami Malek juga tampil menakjubkan. Tak sia-sia upayanya mengikuti episode kelas dari pengarah gaya agar bisa meniru Freddy secara presisi. Cara dia berjalan, berkata, melakukan gerak bibir saat bernyanyi, beraksi di atas panggung, bahkan mukanya benar-benar bak pinang dibelah dua. Tak heran, jika sejumlah media asing seperti New York Times dan Guardian memuji akting Rami. Ia bahkan digadang-gadang menjadi kandidat kuat peraih piala Oscar tahun depan.

Rami adalah magnet di film ini. Meskipun tak bisa dipungkiri akting teman-temannya juga ambil bagian, mulai gitaris Brian May, drummer Roger Taylor, bassis John Deacon. Juga Mary Austen dan orang-orang yang turut membidani produksi dan manajerial album Queen, seperti John Reid, yang juga manajer Elton John serta Jim Beach.

Jika kamu adalah penggemar garis keras musik Queen, rasa-rasanya alunan 21 lagu di film ini akan memanjakanmu dari awal sampai akhir. Proses kreatif penciptaan lagu-lagu Queen yang meledak di pasaran, seperti "Bohemian Rhapsody" yang rumit hingga “Love of My Live” yang haru pun bakal dibuka lebar. Bahkan, sutradaranya berbaik hati memberi suguhan pada penonton adegan setengah komplit konser di Wembley, yang disebut-sebut jadi penampilan terbaik Queen.

Panggung yang replikanya dibuat mirip, kualitas suara yang juara, hingga aksi panggung Rami sukses menghadirkan kembali ruang nostalgia ke depan layar. Saya yang sudah duluan merinding, tak akan menyangka jika itu cuma ada di film.

Panggung yang replikanya dibuat mirip, kualitas suara yang juara, hingga aksi panggung Rami sukses menghadirkan kembali ruang nostalgia ke depan layar.

Meski suara dan aksi panggung dibuat sempurna, bukan berarti film ini tanpa cela. Rotten Tomatoes sejauh ini hanya memberi nilai 55% pada film yang digarap sejak 2010 itu. Sementara kritikus New Yorker Anthony Lane menilai, film ini menghentak dari segi eksekusi musik tapi tidak dari sisi narasinya.

Semua cerita yang hadir di film sebenarnya hal-hal yang sudah diketahui di permukaan. Singkatnya, film ini hanya berkutat di persoalan “apa” dan “siapa” tapi lupa dengan pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa”. Soal Freddy gay dan AIDS, saya sudah tahu, tapi bagaimana ia bertahan serta pergulatan batinnya, tak pernah tuntas dibayar. Dari potongan cerita yang saya kumpulkan, Freddy menghadapi AIDS dengan ditemani Mary dan Jim Hutton saja. Namun, soal Freddy yang harus berjibaku menghadapi penyakit mematikan ini, termasuk saat ia tertatih-tatih menjalani aneka tur dan rekaman album luput dijelaskan.

Bagian saat Freddy mengaku pada Mary, mestinya juga bisa dikulik lagi. Mengapa Freddy di satu sisi mengaku gay, tapi mendesak Mary untuk tetap tinggal? Lalu, apa yang jadi alasan Mary tetap memberi perhatian pada Freddy, meski dia hidup dan mengandung dari pria lain? Tak ada penjelasan.

Sebagai sebuah biopik yang kehadirannya ditunggu oleh fans Queen sejak delapan tahun lalu, naskah skenario yang dihadirkan memang terasa begitu dangkal. Penantian bertahun-tahun untuk film ini jadi terasa tak berarti. Pilihan untuk lebih besar menonjolkan bagian konser di Wembley membuat film ini tak ubahnya medley lagu Queen saja.

Ya, konser di Wembley memang sangat menakjubkan. Kita bisa mendengar lagu-lagu jagoan, seperti “Radio Ga Ga”, “Hammer to Fall”, “Crazy Little Thing Called Love”, “We Will Rock You”, “We Are the Champions”. Namun, kita hampir tak akan bisa  menemui narasi yang mendalam soal sosok gaek di balik Queen.

“Queen tidak mengikuti formula,” kata anggota Queen sekitar tahun 1975. Tapi entah mengapa saya merasa film ini yang tak mengikuti formula. Film yang mulanya menggandeng Sacha Baron Cohen sebagai Freddy tersebut sangat di luar ekspektasi.

Film hanya disederhanakan sebatas fase hidup Freddy yang hitam putih, dikelilingi orang baik, juga orang jahat yang mengambil keuntungan darinya. Apakah hidup Freddy sesederhana itu? Saya kira tidak. Telegraph menulis, mungkin formula film ini hanya satu, “Ayo segera selesaikan biopik ini,” alih-alih menggali cerita lebih dalam.

Singkatnya, film ini hanya berupaya merayakan gemerlap Freddy sebagai roker. Namun, ia alpa menceritakan Freddy sebagai manusia yang punya banyak pergulatan.

3

Tak lebih dari sekadar medley lagu-lagu Queen. Naskah terasa dangkal.