sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Daya rusak banjir bandang

Menilik data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dari 2015 hingga 2024 terjadi 7.916 bencana banjir.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Jumat, 17 Mei 2024 13:56 WIB
Daya rusak banjir bandang

Sabtu (11/5) malam, sejumlah wilayah di Sumatera Barat diterjang banjir bandang. Setidaknya ada lima kabupaten/kota yang terdampak, antara lain Kabupaten Agam, Tanah Datar, Padang Pariaman, Kota Padang, dan Padang Panjang. Dikutip dari Antara, hingga Kamis (15/5) jumlah korban meninggal sebanyak 61 orang. Lalu, keluarga yang terdampak mencapai ribuan orang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap, penyebab banjir bandang di Sumatera Barat adalah intensitas hujan yang sangat desar dan berdurasi panjang bercampur lahar dingin Gunung Marapi. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers virtual, seperti dikutip dari Antara, berdasarkan analisa per 8 Mei 2024 sudah ditemukan potensi hujan intensitas sedang hingga sangat deras bisa mengguyur di daerah Sumatera Barat.

“Potensi hujan yang demikian itu teramati dapat berlangsung secara lebih intensif karena ada fenomena sirkulasi sinklonik atau pembentukan awan dan belokan angin lokal,” kata dia, seperti dikutip dari Antara.

Sedangkan lahar gunung, ia menerangkan, material itu berasal dari sisa erupsi Gunung Marapi, yang masih mengendap di lereng bagian puncak. Lalu terbawa air.

Banjir bandang sangat merusak. Di daerah terdampak di Sumatera Barat, jalan-jalan berubah menjadi sungai, rumah-rumah luluh lantak, sawah tersapu, dan mobil-mobil tersapu.

Menilik data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dari 2015 hingga 2024 terjadi 7.916 bencana banjir. Tahun 2024, sudah kejadian 196 bencana banjir. Selama 2015-2024, Banjir, walau tak disebutkan spesifik kejadian banjir bandang, masuk dalam urutan kedua bencana yang sering terjadi, di bawah kekeringan (8.068 kejadian). Pada 2024, banjir pun masuk urutan kedua bencana paling sering, di bawah tanah longsor (215 kejadian).

Situs Earth.org menyebut, banjir bandang merupakan naiknya permukaan air secara cepat akibat curah hujan yang tinggi di daerah dataran rendah. Peristiwa ini sangat berbahaya dan sering kali dapat menyebabkan kematian karena kekuatan destruktif dan kecepatannya yang luar biasa. Kerap kali tak memberikan cukup waktu bagi orang-orang untuk melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi atau berlindung.

“Banjir bandang cenderung lebih sering terjadi di daerah dengan iklim kering dan medan berbatu lantaran kurangnya tanah atau tumbuh-tumbuhan, yang berfungsi sebagai pertahanan atau penghalang terhadap hujan lebat yang mengalir melalui daratan,” tulis Earth.org.

Sponsored

CBS News menulis, perubahan iklim pun memengaruhi terjadinya banjir bandang. Atmosfer yang lebih hangat, menampung lebih banyak air dan menyebabkan curah hujan lebih tinggi, sehingga membuang air dengan cepat, bukan secara bertahap sepanjang musim.

“Untuk setiap peningkatan suhu global sebesar 1,8 derajat fahrenheit, atmosfer dapat menampung 7% lebih banyak air. Dan suhu bumi rata-rata meningkat hampir dua derajat sejak tahun 1880,” tulis CBS News.

“Jadi ketika suhu global meningkat, banjir bandang menjadi lebih parah dan lebih sering terjadi.”

Earth.org menulis, di Eropa Barat, hujan lebat di wilayah itu—yang menyebabkan banjir bandang yang menewaskan hampir 200 orang—kini menjadi 3%-19% lebih deras karena pemanasan global akibat aktivitas manusia. Bagi negara-negara yang rentan terhadap musim hujan, terutama di Asia, perubahan iklim akan menyebabkan banjir yang lebih besar dan memperpanjang musim hujan.

“Musim hujan yang khas di Asia berlangsung dari Juni hingga September. Dampak perubahan iklim berpotensi mengakibatkan datang atau perginya musim hujan lebih awal, mengganggu produksi pertanian dan tanaman pangan, serta meningkatkan curah hujan ekstrem di wilayah tersebut karena semakin banyaknya gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer,” tulis Earth.org.

Dinukil dari CBS News, banjir bandang sangat berbahaya karena air bisa bergerak lebih cepat dibandingkan banjir pesisir atau sungai. Air yang mengalir cepat itu rata-rata berukuran enam inci, cukup kuat untuk menyapu orang dewasa. Sedangkan air berukuran 12 inci bisa membawa mobil dan 18 inci hingga 24 inci dapat menyapu truk.

“Air banjir dapat membawa puing-puing dan kontaminan berbahaya, seperti limbah mentah, limbah pertanian, atau bahan kimia. Mereka dapat mematikan jaringan listrik yang masih aktif dan menyebarkan penyakit dengan mencemari sumber air,” tulis CBS News.

Peristiwa banjir bandang bakal lebih destruktif jika dibarengi banjir lahar dingin dari erupsi gunung berapi. Hal ini menjadi riskan, mengingat Indonesia terletak di cincin api Pasifik, dengan 127 gunung berapi aktif.

Aliran lahar dingin bisa mengubur semua benda yang dilintasi. Menurut United States Geological Survey, seperti dikutip dari Independent, aliran lahar dingin lebih merusak dan mematikan ketimbang aliran lava biasa.

“Selain menghancurkan jembatan dan jalan, lahar juga dapat menjebak orang-orang di daerah yang rentan terhadap aktivitas gunung berapi berbahaya, terutama jika lahar meninggalkan endapan baru yang terlalu dalam, terlalu lunak, atau terlalu panas untuk diseberangi,” tulis United States Geological Survey, seperti dilansir dari Independent.

Lahar dingin bisa terbentuk dengan atau tanpa letusan. Hujan deras atau hujan salju dapat mengikis dan mengangkut sedimen vulkanik yang lepas dan membentuk lumpur, di mana pepohonan tak menghalangi alirannya.

Salah satu solusi jangka pendek untuk meminimalisir korban bencana banjir bandang, sebut Earth.org, memprioritaskan investasi dalam strategi mitigasi. Misalnya, membangun infrastrutur yang tangguh dan dirancang tahan terhadap daya rusak banjir bandang. Earth.org menulis, strategi terkelola, yang mengacu pada perpindahan orang dan infrastruktur yang terkoordinir dari wilayah berisiko tinggi merupakan solusi yang perlu jadi pertimbangan.

“Namun, pada akhirnya cara paling efektif untuk memitigasi perubahan iklim dan memperburuk bencana banjir adalah dengan mengurangi emisi gas rumah kaca global,” tulis Earth.org.

Berita Lainnya
×
tekid