sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Vape lebih aman bagi kesehatan dinilai cuma bualan

Pengawasan terhadap produk rokok elektronik di Indonesia sangat lemah. Padahal FDA AS telah melarang penjualan rokok elektronik.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Kamis, 26 Sep 2019 16:17 WIB
Vape lebih aman bagi kesehatan dinilai cuma bualan

Pro kontra soal bahaya atau tidak penggunaan vape masih terus berlangsung. Sebelumnya,  Ketua dan pendiri Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Aryo Andriyanto mengklaim, konsumsi vape efektif untuk mendorong kecenderungan perokok untuk berhenti merokok.

Di samping itu, pengguna vape (vapers) pun mengaku merasa lebih sehat daripada mengonsumsi rokok konvensional.

Terhadap pandangan tersebut, dokter spesialis paru dr. Feni Fitriani Taufik  menilai hal itu bualan promosi semata. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) justru mendukung imbauan WHO yang melarang rokok elektronik digunakan perokok sebagai alat berhenti merokok.

“Tidak ada penelitian yang konsisten menyebut bahwa rokok elektronik efektif untuk membantu berhenti merokok. Rokok elektronik  tidak direkomendasikan sebagai alat untuk berhenti merokok,” tutur Feni.

Dia juga membantah hal itu dengan membandingkan rokok elektronik dengan fenomena “jaket warsito”. Jaket atau rompi antikanker yang digagas oleh Dr Warsito Purwo Taruno pada 2010 silam menyedot perhatian publik karena diakui mujarab mengatasi kanker. 

Doktor peraih BJ Habibie Technology Award tersebut mencetuskan rompi antikanker yang memanfaatkan Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT).

“Bukan berarti karena banyak yang memberikan testimoni, itu menjadi bukti. Untuk mengklaim bahan (vape) itu aman, tidak mungkin menggeneralisir hanya dari pengalaman satu-dua orang,” ucap dr Feni.

Dibandingkan dengan di Amerika Serikat, Feni memandang pengawasan terhadap produk rokok elektronik di Indonesia sangat lemah. Food and Drugs Association (FDA) sebagai badan pengawas obat dan makanan di AS juga telah melarang penjualan rokok elektronik dengan rasa yang menarik bagi anak-anak dan remaja. Namun, sejak populer di Indonesia pada 2013, produk rokok elektronik masih bebas diperjual-belikan.