sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Entang Wiharso dan perjalanan seninya dua tahun terakhir

Pelaksanaan Pilpres AS pada November juga menjadi inspirasinya dalam menggarap karya seni.

Herzha Gustiansyah S
Herzha Gustiansyah S Senin, 07 Des 2020 20:07 WIB
Entang Wiharso dan perjalanan seninya dua tahun terakhir
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Seniman Entang Wiharso menggelar bincang virtual dan presentasi visualnya dengan dukungan Can’s Gallery Indonesia dan dimoderatori oleh kurator Bambang Asrini Widjanarko kepada para apresian di Tanah Air. 

Bincang Virtual itu memaparkan pembahasan karya-karya terakhir Entang Wiharso selama dua tahun, yakni 2019-2020 di dalamnya termasuk Promising Land Chapter 2 yang sebenarnya berelasi dengan karya-karyanya sejak 2009-2017.

Secara substansi, Promising Land Chapter 2 memuat lansekap fisik, yakni meriset kontur tanah, topografi, karakter dan jenis populasi pun tipikal objek dan artefak fisik serta sarana-prasana sebuah tempat secara optikal di Amerika Serikat.

Lansekap psikogeografis merujuk pada tafsir Entang tentang sebuah tempat khusus dan pengalaman personalnya berkelindan dengan tempat secara lebih luas. Semacam upaya menggambarkan ingatan komunal masyarakat Amerika Serikat dengan kode-kode visual dan menjadi perwakilan psikis masyarakat itu.

Entang juga menafsirkan lansekap fenomena, yakni sekumpulan peristiwa sejarah dengan usahanya menyingkap, terutama peristiwa khusus yang besar dan penting yang terjadi di Amerika pada masa lalu dan yang terkini. Kemudian ia kaitkan pengalaman sangat personalnya.

Entang Wiharso menamatkan studinya di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta, yang ia memang mengintimasi dua budaya. Dia memilih menikahi warga Amerika Serikat, Christine Cocca yang juga lulusan Seni grafis, S2 manajemen seni Carnegie Mellon University dan banyak mengkurasi dan menuli seni di media.

Sejak 1997 hilir-mudik Yogjakarta-Amerika Serikat, maka tak heran keluarganya memeluk fenomena bikultural dan birasial yang mewariskan keyakinan spiritual dan pandangan ideologi kolektif yang majemuk pula.

Topik identitas, politik dan pandemi

Sponsored

Program fellowship dari John Simon Gugenheim Memorial Foundation pada Juni 2019-Juni 2020 di New York, AS membuat Entang meneliti, dengan pengalaman identitas personalnya, mengamati serta memahami lebih mendalam bagaimana sebuah tempat atau geografi sebuah lokasi berelasi dengan sejarah, topografi fisik sampai peristiwa-peristiwa fenomenal berkonteks politik.

“Saya tahu bahwa begitu banyak konflik politik  tahun-tahun terakhir ini di Amerika, dari isu rasial, gerakan black lives matter sampai bahkan mungkin gejala xenophobia dengan sebutan kuasa “white supremacy" itu. Saya terkejut bagaimana teori konspirasi mendapat hati jutaan orang. Mereka tidak percaya fakta melainkan percaya pada fantasi dan narasi palsu,yang lebih memprihatinkan mereka antiscience. Ini saya kira pengaruh besar dari pimpinannya. Saya kira Amerika akan kembali kejalan yang semestinya di bawah kepemimpinan Joe Biden.” katanya. 

Hal itulah yang membuatnya mencoba menyusuri dan mempelajari masa lalu tentang sejarah Amerika, melihat jejak-jejak civil war, sejarah budaya dan seni, juga potensi traumatik tentang isu perbudakan masa lalu, sekaligus rekonsiliasi sampai terbentuknya negara demokrasi terbesar sejagat ini. Dirinya tertarik persoalan ini karena memengaruhi hidupnya sebagai pendatang.

Berita Lainnya