sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Joker: Humor gelap dan perlawanan di Gotham City

Film Joker mengisahkan seorang badut Arthur Fleck yang dihadapkan dengan realita keji di Gotham City.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Sabtu, 05 Okt 2019 17:05 WIB
Joker: Humor gelap dan perlawanan di Gotham City

Warner Bros merilis film Joker dengan karakter Arthur Fleck sebagai otak di balik teror dan kekacauan Gotham City. Arthur Fleck, diperankan Joaquin Phoenix, berprofesi sebagai badut di agen Haha. Arthur menderita penyakit mental yang membuatnya tertawa terbahak-bahak tak menentu tanpa niatan apapun. 

Suatu hari, saat perjalanan pulang usai dipecat dari pekerjaannya sebagai badut, Arthur Fleck menyaksikan pelecehan tiga lelaki kaya terhadap seorang wanita di gerbong kereta bawah tanah. 

Tiba-tiba sakit tertawa terbahak-bahaknya kambuh, tiga lelaki tersebut terpancing lantaran tersinggung merasa dihina. Kemudian mereka mengeroyok Arthur Fleck beramai-ramai.

Namun, tak seperti sebelum-sebelumnya, Arthur yang geram mengeluarkan pistol dan balik membantai mereka. Arthur kemudian diburu polisi lantaran membunuh tiga anak orang kaya terhormat di Wayne Corp. Meski bermaksud membela diri, Arthur malah dikecam sebagai pelaku pembunuhan dari gerakan anti-orang kaya.

Walhasil, topeng dan dandanan badut menjadi ikon protes warga kota Gotham terhadap kesewenang-wenangan orang kaya dan pemerintahan yang bobrok. Unjuk rasa semakin anarkis dan aksi-aksi vandalisme pun menarget berbagai infrastruktur kota. Tak terkecuali, badan kereta bawah tanah.

Puncak kekacauan terjadi saat Arthur Fleck memprovokasi massa lewat saluran televisi. Sebelumnya, Arthur Fleck diundang dalam acara Murray Franklin Show dan meminta diperkenalkan sebagai Joker. 

Sang pembawa acara melempar lelucon garing dengan mengolok-olok penampilannya. Joker membalasnya dengan lelucon gelap yang dipandang sang pembawa acara sebagai hal tabu untuk disampaikan.

Joker membolak-balikkan logika fakta dan lelucon yang harus disikapi dengan tidak serius. Akan tetapi, tertawa dan selera lelucon merupakan hal subjektif. Joker lebih suka melawak dengan membicarakan pengalamannya membunuh.

Sponsored

“Komedi sangat subjektif. Sama seperti bagaimana kau memutuskan untuk lucu dan tertawa. Semua orang jahat dan membuatku semakin gila. Orang menganggap jahat juga sangat subjektif karena tidak ada yang tahu dan tidak ada yang mengerti orang lain,” ujar Joker.

Kemudian, dengan santai Joker membunuh pembawa acara yang berujung memancing kerusuhan di seluruh penjuru kota Gotham.
 
Teror sebagai perlawanan

Sebagai penjahat atau villain yang unik dalam film superhero, pesona buruk Joker justru menggelitik rasa penasaran penonton..

Sutradara Todd Philips sangat tepat memilih aktor nominator Oscar, Joaquin Phoenix sebagai pemeran Arthur Fleck.

Dalam berbagai film Batman The Dark Knight, Joker merupakan narasi yang mengeksplorasi kembali teror dan ketakutan yang disebabkan peristiwa traumatis. 

Lee Baxter dalam Batman: The Dark Knight: The Joker’s Pursuit of Justice in an Unjust World di buku Fear Within Melting Boundaries (2011) menulis, bekas luka di mulut Joker yang dilapisi make up badut memunculkan trauma masa lalu dalam skala pribadi dan nasional. Mulut Joker yang terluka mencerminkan kekacauan, teror, dan kecemasan karena ulah terorisme.

“Joker berulang kali mencari keadilan dengan menggarisbawahi ketidakadilan yang dilakukan setiap hari. Dengan terus-menerus mengulangi trauma aslinya, tetapi tidak pernah secara kritis terlibat dengannya, tindakan Joker berfungsi sebagai narasi subversif yang menekankan pengawetan mitos kepolosan Amerika,” tulis Lee Baxter.

Dalam film Joker, kekacauan dan teror bukan ditafsirkan sebagai kejahatan, melainkan gerakan protes terhadap kesenjangan multi-dimensional akibat media dan aparat penegak hukum hanya berpihak pada penguasa korup dan lingkaran orang kaya.

Arthur Fleck mengajak penonton menyelami dunia dibalik kecongkakan panggung pahlawan. Membalikkan sudut pandang dari berbagai serial film DC, Arthur Fleck memperlihatkan situasi mencekam masyarakat pinggiran di perkotaan metropolitan. Arthur Fleck menggambarkan perjalanan hidup warga kelas tiga di kota Gotham yang terbelenggu oligarki.

Silih berganti masalah menimpanya, Arthur Fleck tetap gigih berjuang menghadapinya. Akan tetapi, perlahan semua berubah setelah ia bertubi-tubi menelan pahitnya kebenaran dan mencicipi pengkhianatan. 

Dari lingkaran pertemanannya yang munafik, hingga pembawa acara idolanya yang mempermalukan aksi stand up comedynya. Dan bahkan, dari ibunya - seorang pengidap delusi akut dengan kepribadian narsis yang ternyata gemar menyiksa anak adopsinya, meski Arthur Fleck senantiasa memperlakukannya dengan baik.
 
“Hal buruk dari sakit jiwa adalah orang lain berharap kau tidak sakit jiwa,” tulis Arthur Fleck dalam lembaran jurnalnya. Coretan yang mewakili perasaan tertekan akibat diskriminasi dan penghakiman sewenang-wenang orang lain. 

starstarstarstarstar5

Film Joker membedah sudut pandang lain narasi seorang kriminal, teror dan kekacauan.