sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kenapa ongkos pernikahan di Indonesia mesti mahal?

Foto-foto tentang pernikahan yang tampak indah di Instagram, membuat banyak calon pengantin berangan-angan memiliki pernikahan serupa.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Rabu, 15 Agst 2018 18:38 WIB
Kenapa ongkos pernikahan di Indonesia mesti mahal?

Pernikahan di Indonesia biasanya mengeluarkan biaya yang relatif banyak. Di beberapa tradisi adat, ritual pernikahan di Indonesia bahkan tidak selesai hanya dalam waktu sehari. Dalam tradisi adat Jawa saja misalnya, terdapat sembilan ritual yang harus dijalani calon pengantin sebelum menikah, seperti siraman dan midodareni. Lalu delapan ritual adat di hari pernikahan, mulai kacar-kucur, sungkeman, dulangan, dan lainnya.

Mengundang ratusan bahkan ribuan orang akhirnya menjadi sebuah keharusan bagi kedua calon mempelai. Dari survei yang dilakukan Bridestory, rata-rata pengeluaran untuk menghadirkan 301-500 orang tamu di daerah Jabodetabek berkisar antara Rp150 juta-Rp300 juta. Dari pengeluaran tersebut, 40%-60% dari total anggaran digunakan untuk membayar venue dan katering.

Pengeluaran tersebut bisa ditekan jika calon mempelai memilih menikah di daerah. Astri (24) yang akan menikah dalam waktu dekat ini misalnya, menggelar akad nikah dan resepsi di kampung halamannya, Pacitan, Jawa Timur.

Pernikahan bertema adat Jawa./Bridestory

“Di Pacitan nanti keluarga akan mengundang 1.000 orang ya, dengan biaya sekitar Rp150 juta,” ujar Astri. Resepsi pernikahannya sendiri akan digelar di dua tempat, pertama di Pacitan, dan kedua di Jakarta. Astri tak ikut campur mengurusi biaya resepsi di Jakarta. “Itu urusan keluarga laki-laki,” ujarnya.

Astri mengatakan, selain sokongan dana orang tuanya, ia dan pasangan telah menabung selama satu tahun untuk membiayai pernikahan mereka. Untuk membantu jalannya pernikahan mereka, Astri menggunakan jasa Wedding Organizer (WO) untuk menyiapkan acara di hari-H. “Dibantu WO, tapi enggak semuanya juga. Pernikahannya masih dibantu keluarga kok,” ucapnya.

Sementara Tia Perbiansyah (28) yang menggelar resepsi pernikahan di Jakarta mengatakan, biaya yang dikeluarkan ia dan mempelai pria menyentuh angka Rp200 juta. Padahal, Tia telah menekan pengeluarannya dengan mengonsep sendiri pernikahannya. Ia juga membuat sendiri barang-barang seperti buku tamu, suvenir, dan detail dekorasi.

“Mahal di katering, karena lumayan banyak tamu undangannya. Sewa gedungnya juga lumayan makan budget,” jelas Tia. Saat pernikahannya, Tia mengundang 500 orang tamu.

Sponsored

Sementara Nabila Rahma (23), menggelar akad nikahnya dengan sederhana. Ia mengakui beberapa persiapan pernikahannya dikerjakan sendiri. “Mulai dari baju, dekorasi, hand bouquet, juga dekorasi mahar sih aku garap sendiri. Dekorasi aku bikin tim dekor, isinya teman-temanku dari komunitas handmade,” ujar perempuan yang bermukim di Kota Malang tersebut.

Budget untuk dekorasi ndak begitu banyak. Soalnya aku pakai bahan bekas sebagian besar. Aku cuma keluar untuk beli bunga-bunga segar. Untuk bahan bekasnya aku udah nyicil-nyicil sih, hunting-nya satu bulanan,” jelas Nabila. Dengan baju dan barang-barang dekorasi yang dikerjakannya sendiri, Nabila mengaku hanya mengeluarkan Rp500.000 untuk akad.

Ia melakukan hal tersebut karena sengaja tak ingin membuang banyak uang untuk biaya pernikahan. “Hal itu sebenarnya bisa diakali. Syukur, punya teman-teman baik yang mau totalitas bantuin. Biasanya sih manten diam gitu ya ndak boleh capek-capek, tapi aku pas ngurus-ngurus itu rasanya senang aja,” imbuh Nabila.

Selebriti Sandra Dewi dan pasangannya digelar di Disneyland dengan menghabiskan biaya hingga miliaran rupiah./Bridestory

Namun, untuk resepsi keesokan harinya, Nabila harus berkompromi dengan keinginan orang tua. “Karena ndak memungkinkan orang tua pakai konsepku juga. Akunya pengin dekorasi yang serba Do It Yourself (DIY) dengan alasan menghemat budget, tapi orang tua yang enggak pengin anak e repot-repot lagi,” ujarnya.

Meskipun begitu, dalam beberapa hal Nabila masih menggunakan konsep DIY seperti pada undangan, suvenir, dan baju. “Resepsi adalah acara yang sebenernya harus banyak-banyak berdiskusi dengan keluarga. Karena ndak mungkin semua keinginanku bisa dieksekusi. Misal, menyesuaikan kebutuhan dan kalangan undangan orang tua,” jelasnya.

Senada, Devi Putri juga mengaku tengah menabung untuk persiapan pernikahan yang sederhana. Ia memang sempat dilanda dilema menghadapi pernikahan. “Maunya sih yang sederhana saja, tapi kan kalau menikahnya hanya di KUA saja, nanti jadi bahan omongan tetangga yang tidak-tidak,” ucapnya.

Omongan tersebut, kata Devi, adalah stigma-stigma tetangga yang menuduh, pernikahan diam-diam di KUA, lantaran hamil terlebih dahulu. Devi dan keluarganya mencoba menghindari omongan-omongan tetangga tersebut.

Industri pernikahan menjamur

Menjadikan pernikahan sebagai lahan mencari keuntungan, memang tidak bisa dihindari saat ini. Kebutuhan untuk menggunakan jasa wedding plannner atau organizer juga semakin meningkat di kota-kota besar di Indonesia. Dari survei yang dilakukan Bridestory tahun 2017 menunjukkan, sebanyak 36,5% responden menggunakan jasa WO pada hari-H, dan 21,3% lainnya menggunakan jasa WO untuk persiapan sekaligus pada hari-H.

Ceruk pasar bisnis pernikahan di Indonesia memang besar. Penduduk Indonesia yang umumnya menikah saat berusia 25 hingga 34 tahun, diperkirakan berjumlah sebanyak 41 juta orang. Sementara jumlah penduduk di bawah usia 25 tahun sebanyak 114 juta orang. Industri pernikahan akan tetap sibuk dalam tahun-tahun mendatang.

Anggaran pernikahan

Tingginya pengguna ponsel pintar dan penetrasi Internet di Indonesia, juga perlahan mengubah pola pikir masyarakat tentang pernikahan. Media sosial seperti Instagram bisa menjadi inspirasi sekaligus obsesi bagi calon mempelai. Foto-foto tentang pernikahan yang tampak indah, membuat banyak calon pengantin berangan-angan memiliki pernikahan seperti di Instagram.

Pernikahan yang dalam ajaran Islam misalnya, hanya membutuhkan kedua mempelai, saksi, wali, dan penghulu, menjadi kurang lengkap jika tak dirayakan dengan meriah saat ini. Hal tersebut pada akhirnya memicu lahirnya bisnis-bisnis lain yang mendukung acara pernikahan seperti foto prewedding, foto dan video hari pernikahan, tata rias dan rambut, serta dekorasi venue.

Pertumbuhan industri pernikahan tersebut bukannya tanpa kritik. Sharon Boden, dalam bukunya "Consumerism, Romance, and The Wedding Experience" mengatakan, industri pernikahan merupakan industri yang mempromosikan kesempurnaan.

“Industri pernikahan membuat definisi pernikahan ‘ideal’ yang hanya menuntun masyarakat berlomba-lomba untuk melakukan kegiatan konsumsi demi menyenangkan orang lain, atau agar terlihat seperti pernikahan selebritis,” tulis Boden.

Konsekuensi ekonomi yang ditanggung akibat hal tersebut, kata Boden, adalah stres. Komersialisasi pernikahan hanya akan membuat persaingan yang tak diperlukan antara keluarga. Boden menuturkan, industri pernikahan hanya menimbulkan ‘Veblen Effect’.

Veblen effect adalah perilaku pasar abnormal ketika konsumen membeli barang dengan harga lebih mahal, padahal terdapat barang sama dengan harga yang lebih murah. Hal tersebut disebabkan, konsumen percaya jika semakin tinggi harga, maka akan semakin berkualitas suatu barang, atau agar konsumen terlihat membeli barang yang mahal semata demi mengejar prestise.