close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi orang marah. /Foto Pixabay
icon caption
Ilustrasi orang marah. /Foto Pixabay
Sosial dan Gaya Hidup
Sabtu, 13 April 2024 06:14

Kepala panas? Buanglah kemarahan kamu ke tong sampah 

Ini bukan sekadar tradisi atau pepatah. Membuang kertas berisi amarah kita ternyata efektif.
swipe

Meredakan amarah ternyata bisa dilakukan dengan cara sangat sederhana: menuliskan kemarahan-kemarahan kamu pada selembar kertas, merobek kertas itu, lalu membuangnya ke tong sampah. Di Jepang, metode meredakan amarah semacam itu mirip dengan tradisi Hakidashisara dan ternyata terbukti efektif. 

Hakidashisara ialah sebutan bagi festival tahunan di kuil Hiyoshi di Kiyosu, Prefektur Aichi, tak jauh dari Nagoya. Dalam festival itu, warga setempat menuliskan perasaan-perasaan negatif mereka pada sebuah piring kecil dan kemudian memecahkannya.

Efektivitas meredakan marah ala Hakidashisara dibuktikan tim peneliti dari Nagoya University dalam sebuah riset berbasis eksperimen, belum lama ini. Hasil riset itu kini telah diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports pada 9 April 2024. 

”Kami berharap metode kami akan menekan kemarahan pada skala tertentu. Kami kaget ketika mengetahui metode ini efektif meredakan kemarahan hampir menyeluruh,” kata pemimpin tim peneliti Nobuyuki Kawai seperti dikutip dari Japan Times. 

Dalam eksperimennya, Kawai dan kawan-kawan melibatkan ratusan pelajar dari universitas lokal. Peneliti meminta para peserta untuk menulis opini singkat tentang persoalan-persoalan sosial yang penting, seperti soal larangan merokok di tempat umum.

Para peserta riset kemudian diberitahu bahwa tulisan mereka akan dievaluasi mahasiswa doktoral di Nagoya University. Namun, para evaluator bukan mahasiswa sungguhan. 

Terlepas dari apa yang ditulis para peserta, para evaluator memberi nilai rendah pada para peserta dalam hal kecerdasan, minat, keramahan, logika, dan rasionalitas. Mereka menuliskan komentar berisi hinaan yang sama.

”Saya tidak percaya orang (peserta penelitian) yang berpendidikan akan berpikir seperti itu. Saya berharap orang ini belajar sesuatu selama di universitas,” tulis para evaluator. 

Para peneliti lantas meminta para peserta riset untuk merespons hasil evaluasi itu. Mereka diminta menuliskan pemikiran mereka dengan fokus pada hal-hal yang dianggap memicu emosi mereka.

Salah satu kelompok peserta diminta untuk membuang kertas yang mereka tulis ke tempat sampah atau menyimpannya di meja mereka. Kelompok lainnya diinstruksikan menghancurkan kertas evaluasi dengan mesin penghancur atau memasukkannya ke kotak plastik.

Para peserta kemudian diminta menilai kemarahan mereka setelah dihina dan setelah membuang atau menyimpan kertas tersebut. Seperti yang diharapkan, semua peserta melaporkan tingkat kemarahan yang lebih tinggi setelah menerima komentar yang menghina.

Namun, tingkat kemarahan para peserta yang membuang kertasnya ke tempat sampah atau merobeknya berangsur-angsur mereda dan hilang sama-sekali. Peserta yang menyimpan kertas hasil evaluasi tersebut hanya mengalami sedikit penurunan tingkat kemarahan.

"Kami menginterpretasikan bahwa aksi membuang sampah berisi tulisan kemarahan itu memproduksi perasaan serupa ketika eksistensi psikologis (kemarahan) sedang dibuang," tulis Kawai dan kawan-kawan dalam hasil risetnya. 

Berbiaya murah, Kawai mengatakan metode ini praktis bisa dilakukan siapa saja dan dalam situasi apa pun. ”Anda menuliskan sumber kemarahan, seperti mengambil memo lalu membuangnya ketika sedang marah dalam bisnis,” ujar Kawai. 

 

img
Christian D Simbolon
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan