logo alinea.id logo alinea.id

Kontroversi fiksi ala Rocky Gerung, Sukmawati, & Prabowo

Karya fiksi alias cerita rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan, tampaknya tengah naik daun.

Sukirno
Sukirno Kamis, 12 Apr 2018 04:50 WIB
Kontroversi fiksi ala Rocky Gerung, Sukmawati, & Prabowo

Karya fiksi alias cerita rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan, tampaknya tengah naik daun.

Setidaknya ada tiga tokoh yang menjadi buah bibir lantaran tersangkut-paut dengan kata-kata fiksi, maupun karya fiksi. Ketiga tokoh tersebut adalah Rocky Gerung, Sukmawati Soekarnoputri, hingga Prabowo Subianto.

Terakhir kali, Dosen Filsafat Universitas Indonesia Rocky Gerung dilaporkan ke polisi. Dia diadukan karena ucapannya saat menjadi narasumber dalam sebuah program televisi swasta TVOne.

Dalam program yang dipandu oleh wartawan senior Karni Ilyas, Rocky Gerung menyebut kitab suci adalah hal yang fiksi. Pernyataan itu kemudian menimbulkan kontroversi di lini masa, hingga berujung pelaporan kepada pihak berwajib.

Pelaporan itu dilakukan oleh Ketua Cyber Indonesia, Permadi Arya. Dia datang didampingi Sekjen Cyber Indonesia, Jack Boyd Lapian. Permadi mengaku ada setidaknya tiga agama yang melaporkan Rocky yakni dari golongan Islam, Kristiani, dan Buddha.

Jika ditelisik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fiksi memiliki arti rekaan, khayalan, dan tidak berdasarkan pada kenyataan. Sementara kitab suci berdasarkan penjelasan KBBI merujuk pada Alquran, Injil, dan panduan hidup yang dimiliki umat beragama di Indonesia.

Bahkan, pernyataan itu membuat Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, turut berkicau di akun Twitter miliknya yang telah terverifikasi. Menurutnya, silakan saja Rocky Gerung berpendapat bahwa kitab suci adalah karya fiksi.

"Tapi bagi saya, kitab suci bukan fiksi, jauh bedanya. Fiksi itu produk angan-angan atau khayalan manusia. Sedangkan, kitab suci adalah wahyu dan pesan Tuhan. Saya meyakini, kitab suci adalah wahyu Tuhan yang ditanamkan di hati dan dipatrikan di otak orang yang beriman," kata Mahfud melalui akun Twitternya @mohmahfudmd pada Rabu (11/4).

Sponsored

Tidak hanya Rocky Gerung sebenarnya yang terkena kontroversi akibat penggunaan kata maupun karya fiksi. Sebelumnya, Sukmawati Soekarnoputri juga terkena kontroversi yang sama, fiksi.

Dia dipolisikan lantaran membaca puisi karyanya sendiri yang dianggap melecehkan Islam. Puisi berjudul "Ibu Indonesia" karya Putri Presiden pertama RI Soekarno itu menuai protes yang luas.

Sukmawatipun meminta maaf usai tudingan penistaan agama yang termuat dalam puisinya itu. Meski sampai terisak, proses hukum atas dirinya terus berjalan.

Pada kesempatan lain, Ketua Umum Partai Gerindera yang kini menjadi calon presiden Prabowo Subianto juga memanen kontroversi akibat karya fiksi. Prabowo menyebut Indonesia bubar pada 2030 yang dinukil dari novel fiksi berjudul Ghost Fleet P.W. Singer dan August Cole.

Pidato kakak kandung pengusaha Hashim Djojohadikusumo itu diunggah di laman facebook milik Gerindra pada 19 Maret 2018, sekitar pukul 11 siang. Kutipan video itu berdurasi 1,17 menit.

Bukan hanya viral di media sosial, pidato Prabowo pun menjadi pro dan kontra di Tanah Air. Sejumlah tokoh mendukung, tetapi tak sedikit pula yang mempersoalkan pidato itu.

Professor Burhan Nurgiyantoro, ahli pendidikan Bahasa dan sastra dari Universitas Negeri Yogyakarta menuliskan, fiksi adalah sebuah prosa naratif yang bersifat imajiner.

Mesekipun imajiner, sambungnya, sebuah karya fiksi tetaplah masuk akal dan mengandung kebenaran yang dapat mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.

Riwayat Stasiun Gambir, dahulu jadi tumpuan

Riwayat Stasiun Gambir, dahulu jadi tumpuan

Senin, 14 Okt 2019 21:28 WIB
Denny Siregar: Saya bekerja tanpa komando

Denny Siregar: Saya bekerja tanpa komando

Sabtu, 12 Okt 2019 07:57 WIB