sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Makanan ‘ekstrem’ hewan liar: Ganggu ekosistem, sebabkan penyakit

Pedagang makanan olahan dari hewan liar banyak terdapat di daerah Mangga Besar. Apakah benar berkhasiat?

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Minggu, 26 Jan 2020 07:00 WIB
Makanan ‘ekstrem’ hewan liar: Ganggu ekosistem, sebabkan penyakit
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 62142
Dirawat 30834
Meninggal 3089
Sembuh 28219

Menjelang malam, para pedagang kaki lima sibuk menata lapaknya di kanan-kiri Jalan Raya Mangga Besar, Jakarta Barat. Sekitar delapan lapak, dengan kain kuning berjejer sepanjang 700 meter di jalan itu, menyajikan olahan makanan dari hewan liar, seperti ular kobra, biawak, penyu, kelelawar, tokek, ular piton, hingga monyet.

Semakin malam, kawasan Mangga Besar semakin ramai. Beberapa orang pun menjajal kuliner aneka hewan liar itu. Awi, pedagang makanan olahan hewan liar asal Bogor menyebut, sate ular kobra paling banyak dicari orang. Sehari, ia pernah menjual hingga 20 ekor ular kobra.

“Khasiatnya menghaluskan kulit,” ujar Awi saat ditemui reporter Alinea.id di Jalan Raya Mangga Besar, Jakarta Barat, Kamis (23/1).

Ular kobra itu ia dapatkan dari daerah Serang, Balaraja, Cirebon, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Awi menuturkan, pelanggannya beragam. Namun, yang paling banyak etnis Tionghoa.

“Ada juga orang baru, yang penasaran,” ujarnya.

Pelanggan datang. Dengan sigap, Awi mengambil sebilah pisau dan seekor ular kobra dari kandangnya. Lalu, memenggal kepalanya, melepas kulitnya. Kulit itu ia sisihkan untuk dijual lagi sebagai bahan dompet.

Awi mengatakan, sebelum menyantap lima tusuk sate ular kobra seharga Rp100.000, pengunjung disajikan darah ular kobra yang dicampur arak dan madu. Biasanya, Awi dan pedagang makanan hewan liar ini melayani pembeli hingga pukul 01.00 WIB.

Di dekat kedai milik Awi, Kholifah dan putrinya, Rani, tengah mencari daging biawak. Menurut Kholifah, daging biawak itu akan dikonsumsi untuk mengobati penyakit gatal-gatal di tangan Rani.

Sponsored

“Sudah ke dokter, tetapi masih suka gatal. Biasanya beli di sekitar sini, biawak potongan yang siap goreng,” tutur Kholifah.

Kholifah mengaku, ia juga pernah mengonsumsi daging biawak setelah melahirkan Rani. Ia percaya, biawak ampuh menyembuhkan penyakit eksim. Selain daging biawak, Kholifah juga pernah menyantap daging ular.

“Tekstur dagingnya mirip ayam kampung,” kata Kholifah.

Salah satu warung yang menjual makanan olahan dari hewan liar di daerah Mangga Besar, Jakarta Barat, Kamis (23/1/2020). Alinea.id/Manda Firmansyah.

Tradisi makan hewan liar

Sejarawan makanan Fadly Rahman mengatakan, kurang tepat jika disebut makanan jenis olahan hewan liar ini dengan istilah kuliner ekstrem. Menurutnya, lebih tepat disebut makanan liar.

Fadly mengatakan, sebelum kedatangan Islam, masyarakat di Nusantara dari lapisan sosial bawah sudah biasa mengonsumsi tikus, anjing, ular, dan berbagai hewan yang hidup di hutan lainnya.

Sementara lapisan sosial atas, kata dia, mengonsumsi ikan, ayam, kambing, kerbau, babi hutan, semut, dan anjing.

“Beberapa hewan liar, seperti tokek dan kelelawar, dikonsumsi berbagai kalangan,” ujar staf pengajar jurusan sejarah Universitas Padjadjaran itu saat dihubungi, Kamis (23/1).

Menurut Fadly, berdasarkan kesaksian Ma Huan—seorang pelaut dan penerjemah Tiongkok yang menemani Laksamana Zheng He (Cheng Ho) dalam tiga dari tujuh ekspedisi pada abad ke-15—orang Jawa dari lapisan sosial bawah memasak ular, semut, serangga, dan cacing di atas panggangan api.

Dalam laporan pelaut asal Italia, Marco Polo yang pernah singgah ke Sumatera pada abad ke-13, tutur Fadly, terlihat pula bagaimana masyarakat lapisan bawah di pedalaman Sumatera memenuhi kebutuhan protein dengan mengonsumsi makanan liar.

Pada masa kolonial, baik orang Eropa maupun pribumi, percaya kelelawar mampu mengobati penyakit asma. Para pemburu biasanya mencari kelelawar di dalam gua di pedalaman Jawa dan Sulawesi.

“Sekarang kita masih mempertahankan mitos terkait konsumsi sirip hiu dan ular kobra untuk vitalitas seksual. Itu mitos-mitos kesehatan yang sejak lama beredar,” ujarnya.

Menurut Fadly, dalam konteks makanan liar, sangat beririsan dengan kepercayaan masyarakat terkait kesehatan.

Praktik mengomsumsi hewan liar pun akhirnya menyebabkan pupolasi beberapa hewan terancam. Fadly mencontohkan, pada masa kolonial terjadi perburuan yang masif terhadap banteng, yang membuat populasinya menurun.

Bukan hanya masyarakat pribumi dari lapisan sosial bawah, orang-orang Eropa juga gemar berburu, sehingga membinasakan beberapa varietas hewan.

“Bahkan, tercatat dalam sejarah, bangsa Eropa yang konsumtif terhadap unggas, menyebabkan burung dodo dari Mauritius punah,” kata penulis buku Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia (2016) ini.

Orang Eropa juga memandang status sosial orang Tionghoa lebih rendah. Mereka menganggap, orang Tionghoa adalah pemakan segala. Orang Eropa menganggap kuliner Tionghoa, seperti bangkong dan jeroan sebagai makanan ekstrem.

“Soto babat itu bagi orang Eropa masuk kategori sebagai makanan ekstrem. Orang-orang Tionghoa sangat suka makanan ini. Bagi orang Eropa, jeroan ini dibuang atau dijadikan pakan ternak,” tutur Fadly.

Lebih lanjut, Fadly menuturkan, ketika Islam masuk ke Nusantara, terjadi gerakan “halal”, yang mengubah kebiasaan masyarakat mengonsumsi makanan liar. Namun, di beberapa wilayah yang tak terimbas Islamisasi, masyarakatnya masih mempertahankan tradisi kulinernya hingga kini.

“Seperti di Sumatera Utara, mereka masih mengonsumsi daging anjing. Lalu, di wilayah Tomohon, Sulawesi Utara, tetap dengan tradisi mereka,” ucapnya.

Seorang pedagang mengeluarkan darah ular kobra untuk dikonsumsi pembeli di Mangga Besar, Jakarta Barat, Kamis (23/1/2020). Alinea.id/Manda Firmansyah.

Rusak ekosistem dan timbulkan penyakit

Dihubungi terpisah, Ketua Profauna Indonesia Rosek Nursahid menyayangkan perdagangan bahan makanan dari satwa liar yang dilindungi, seperti penyu dan monyet.

Ia menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelanggar bisa dijerat pidana lima tahun penjara dan denda Rp100 juta.

“Itu jelas aspek pidananya. Itu melanggar hukum. Produk hukum sudah ada, tetapi penegakan masih lemah,” ujar Rosek saat dihubungi, Kamis (23/1).

Selain itu, dari sisi etika, kata dia, mengonsumsi binatang liar sudah tak relevan lagi. Sebab, menurutnya, di era modern masyarakat sudah dapat mengembangkan banyak alternatif, selain berburu hewan liar. Misalnya, beternak hewan.

Menurut Rosek, kebiasaan mengonsumsi hewan liar berdampak buruk terhadap populasinya. Bila satwa liar terus ditangkap dan dikonsumsi, keseimbangan ekosistem akan terganggu.

Ia menerangkan, setiap jenis satwa liar mengemban fungsi sebagai rantai keseimbangan alam. Misalnya, ular akan memakan tikus. Ketika populasi ular berkurang, maka hama tikus akan meningkat dan menyerang persawahan warga.

“Siapa yang rugi? Ya, manusia. Jaring-jaring makanan menjadi terputus ketika diambil oleh manusia. Salah satunya untuk kuliner,” ucapnya.

Di sisi lain, ternyata makanan liar yang dipercaya mengandung aneka khasiat itu menyebabkan ancaman penyakit. Hal ini diungkapkan Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Dhian Proboyekti Dipo.

Menurut Dhian, daging biawak mengandung beberapa bakteri di dalam tubuhnya, seperti trichinosis, gnathostomiasis, sparganosis, dan mycobacterium. Dari sisi nilai gizi, komposisi daging biawak per 100 gram mengandung 131 kilokalori, 26,8 gram protein, dan 1,6 gram lemak.

“Manusia yang mengonsumsi daging maupun bagian tubuh reptil ini, bisa menyebabkan infeksi dan terjadinya kerusakan jaringan tubuh,” ujar Dhian saat dihubungi, Jumat (24/1).

Sedangkan mengonsumsi daging ular, lanjut Dhian, akan berisiko terinfeksi bakteri, seperti trichinosis, pentastomiasis, gnathostomiasis, sparganosis, dan salmonella. Bahkan, kata dia, bakteri salmonella bisa menyebabkan keracunan dan masalah pada pencernaan.

“Parasit dalam tubuh ular pun dapat menyebabkan infeksi, seperti trichinocis yang menyerang usus,” katanya.

Selain itu, kata Dhian, mengonsumsi daging ular menyebabkan infeksi cacing gnathostomiasis dan sparganosis, yang menyebabkan kelemahan tulang. Di dalam daging ular per 100 gram, menurutnya, mengandung 469,1 gram kalori, 16,3 gram protein, dan 11,2 gram lemak.

Dhian mengatakan, daging monyet juga tak layak dikonsumsi karena banyak efek samping bagi kesehatan manusia.

“Mengonsumsi daging monyet bisa berisiko terkena varian baru human immunodeficiency virus (HIV), yang disebut simian foamy virus,” ucapnya.

Infografik makanan ekstrem. Alinea.id/Wahyu Kurniawan.

Air liur monyet, kata Dhian, juga hampir mirip dengan kandungan air liur anjing. Dhian mengatakan, terdapat kemungkinan air liur hewan ini akan tercampur dengan daging, yang bisa memicu bakteri penyebab rabies.

Di samping itu, daging monyet memiliki kandungan cacing parasit. Bila tidak terolah dengan baik, maka berdampak buruk pada pencernaan manusia. Dhian menyebut, komposisi daging monyet per 100 gram mengandung 424 gram kalori, 43,3 gram protein, dan 24,1 gram lemak.

Dhian pun mengingatkan, daging hewan liar bisa menyebarkan penyakit, seperti ebola.

“Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) di Amerika Serikat mengonfirmasi, penularan ebola pada manusia erat kaitannya dengan perburuan, pemotongan, dan pemrosesan daging dari hewan-hewan yang terinfeksi,” kata Dhian.

Berita Lainnya