close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi taksi./Foto NEOSiAM 2024+/Pexels.com
icon caption
Ilustrasi taksi./Foto NEOSiAM 2024+/Pexels.com
Sosial dan Gaya Hidup
Selasa, 20 Februari 2024 16:49

Masa depan taksi terbang

Pada 1926, Henry Ford menginisiasi mobil terbang berpenumpang pertamanya. Namun, gagal dalam uji coba terbang.
swipe

Dalam “Seminar Masa Depan Pasca-IKN” yang ditayangkan di YouTube Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Sabtu (17/2), Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara Bambang Susantono memberi gambaran penampakan IKN pada 2045. Ibu kota baru itu bakal ada drone dan robot yang akan memantau perkembangan kota dan logistik, serta taksi terbang.

Taksi terbang bukan cuma ada dalam karangan film fiksi ilmiah. Mobilitas ke tempat-tempat yang tadinya sulit diakses dan menghindari kemacetan lalu lintas bukan hal yang tak mungkin lagi dilakukan. Perusahaan di beberapa negara sudah mengembangkan moda transportasi canggih itu.

Ide taksi terbang pertama kali dicetuskan raja bisnis Amerika Serikat dan pendiri Ford Motor Company, Henry Ford pada 1926. Menurut Financial Times, saat itu ia meluncurkan Ford Flivver, sebuah mobil terbang untuk penumpang. Namun, usahanya gagal. Produksinya dihentikan usai prototipe jatuh ke laut di lepas pantai Melbourne, Florida, Amerika Serikat.

Perusahaan-perusahaan pemain utama taksi udara tersebar di Amerika Serikat, Eropa, China, dan Brasil, antara lain Joby, CityAirbus, Ehang, Archer, Volocopter, dan Vertical. Ada yang merupakan perusahaan rintisan, ada juga yang ditopang perusahaan mapan. Misalnya, Vertical yang didukung oleh pemerintah Inggris, American Airlines, Rolls-Royce, Honeywell, dan Virgin Atlantic.

Taksi terbang dengan sistem electric vertical take-off and landing (eVTOL) atau pesawat lepas landas dan mendarat vertikal listrik mengadopsi tiga jenis kendaraan, yakni multikopter, vectored thrust, dan lift plus cruise.

“Multikopter mirip dengan helikopter, tidak mempunyai sayap, jarak terbangnya lebih pendek, lebih mudah diproduksi, dan lebih mudah disertifikasi,” tulis Financial Times.

“Dua konfigurasi lainnya menggabungkan rotor dan sayap.”

Perusahaan-perusahaan yang bermain di industri taksi terbang pun sudah mulai menjelajah ke berbagai negara. Contohnya, perusahaan asal Brasil, Embraer, disebut Flying Mag, mengincar Asia Tenggara sebagai pasar peluncuran utama untuk operasi mobilitas udara perkotaan. Taksi udara listrik perusahaan itu yang dinamakan Eve Air Mobility dirancang untuk seorang pilot, ditambah empat penumpang.

Disebutkan, pada Senin (19/2), Eve Air Mobility mengumumkan perjanjian dengan perusahaan penerbangan berbasis di Singapura, Yugo Global Industries untuk mempelajari potensi penerbangan mobilitas udara perkotaan dan eVTOL di seluruh wilayah Asia Tenggara.

Pihak Eve Air Mobility mengklaim, ada beberapa perkembangan di Asia Tenggara yang bisa membantu mereka mempersiapkan kawasan itu untuk layanan taksi udara pada 2026. Misalnya, perusahaan San Miguel Corporation di Filipina yang bakal membuka bandara internasional New Manila pada 2027, serta Overseas Cambodia Investment Corporation (OCIC Group) yang tengah membangun bandara internasional Techo Takhmao di Kamboja, yang rencananya dibuka pada 2025.

“Kedua lokasi tersebut sedang menjajaki stasiun pengisian daya, rute penerbangan, dan pertimbangan lain untuk taksi terbang dan jet listrik guna mengurangi emisi karbon,” tulis Flying Mag.

Di Dubai, Uni Emirat Arab, bakal ada taksi terbang tahun depan, menyusul penandatanganan kesepakatan antara perusahaan Joby Avation asal Amerika Serikat dengan otoritas jalan dan transportasi Dubai.

“Dengan kecepatan tertinggi 200 mil per jam dan jangkauan maksimum 150 mil, kendaraan berteknologi tinggi Joby dapat mengangkut hingga empat penumpang dan seorang pilot,” tulis Skift.

Di sisi lain, pada Oktober 2023 lalu, perusahaan pengembang dan produsen pesawat nirawak dan taksi udara asal China, Ehang, selangkah lebih jauh dibanding perusahaan-perusahaan pemain taksi terbang lainnya. Mereka menerima sertifikasi kelaikan udara untuk membawa penumpang dari Civil Aviation Administration of China (CAAC). Menurut New York Post, Ehang menjadi perusahaan pertama di dunia yang menerima sertifikasi itu.

Taksi terbang milik Ehang, EH216-S bersistem eVTOL tanpa sopir, yang bisa mengangkut dua penumpang atau kargo seberat 600 pon. Taksi ini didukung 16 rotor listrik, bisa terbang dengan kecepatan hingga 80 mil per jam dan jarak hingga 18 mil.

“Taksi terbang dikendalikan oleh pusat komando dan kendali terpusat yang memantau status penerbangan, rute, dan kondisi cuaca,” tulis New York Post.

“Penumpang cukup memilih tujuan mereka melalui layar sentuh di dalam kabin dan menikmati perjalanan tanpa perlu khawatir mengemudikannya.”

Meski berpotensi menjadi pilihan kendaraan di masa depan, tetapi taksi udara masih harus menghadapi tantangan. Financial Times menyebut, tantangan utamanya masalah teknis. Tenaga yang dibutuhkan untuk lepas landas dan mendarat secara vertikal lebih besar dibandingkan dengan pesawat bersayap. Lalu, baterai punya kepadatan energi yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar jet. Artinya, taksi terbang listrik tak bisa melakukan perjalanan jauh atau membawa beban banyak.

“Baterai juga bisa terbakar. Ada laporan, setidaknya dua kebakaran yang melibatkan baterai lithium-ion untuk taksi listrik ini, salah satunya melibatkan baterai yang disimpan di daam kontainer pengiriman,” tulis Financial Times.

Kemudian, soal peraturan. Selain taksi milik Ehang, belum ada satupun taksi udara yang disertifikasi oleh regulator penerbangan. Di Amerika Serikat dan Eropa, sebut Financial Times, setiap perusahaan perlu menerima sertifikat tipe yang menyetujui desain taksi terbang dan bagian-bagiannya. Bagi perusahaan yang berencana menerbangkan kendaraan, diperlukan izin resmi beroperasi sebagai maskapai penerbangan.

Di Amerika Serikat otoritas yang berwenang mengeluarkan sertifikasi semacam itu adalah Federal Aviation Administration (FAA). Sedangkan di Eropa ada European Union Aviation Safety Agency (Easa).

Lalu, terkait keamanan. Menurut Financial Times, operator perlu mempertimbangkan kebisingan, cuaca, dan kualitas kendaraan. Satu taksi udara mungkin tak bersuara di tengah hiruk-pikuk kota. Namun, suara segerombolan taksi bisa lebih keras.

Taksi terbang juga punya jangkauan terbatas. Ketika menghadapi cuaca buruk, taksi udara memerlukan tempat yang memadai untuk mendarat, sebelum baterainya habis.

“Ada masalah wilayah udara yang sangat serius dan kompleks yang harus diselesaikan. Katakanlah Anda tidak punya tiga atau empat tempat untuk mendarat. Bagaimana mengatasinya?” ujar pakar keselamatan penerbangan, John Cox kepada Financial Times.

Tantangan terakhir terkait biaya. Bagi perusahaan yang menjanjikan transportasi yang cepat dan bebas stres daam jarak yang lebih pendek, mereka menawarkan produknya kepada penumpang dengan harga yang sebanding dengan taksi dan lebih murah daripada helikopter, sembari mencoba menyeimbangkan biaya pengembangan, produksi massal, dan pengoperasian.

Kepala eksekutif Archer, Adam Goldstein mengatakan, biaya produksi taksi terbang antara 2 juta dolar AS hingga 2,5 juta dolar AS di tahap awal, dan turun menjadi 1 juta dolar AS sering dengan berkembangnya skala bisnis.

“Perusahaan-perusahaan perlu memproduksi kendaraan-kendaraan ini dalam jumlah besar untuk menutup biaya produksi. Jadi, siapa yang menanggung kerugian atas setiap unit yang dibuat selama lima tahun pertama produksi?” kata profesor emeritus di Massachusetts Institute of Technology (MIT) Alan Epstein kepada Financial Times.

img
Fandy Hutari
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan