logo alinea.id logo alinea.id

Menyimak budaya agraris lewat pameran tunggal Gigih Wiyono

Pameran bertajuk "Subur Makmur" ini akan digelar di Bentara Budaya Jakarta hingga 27 Juli.

 Alfiansyah Ramdhani
Alfiansyah Ramdhani Sabtu, 20 Jul 2019 17:13 WIB
Menyimak budaya agraris lewat pameran tunggal Gigih Wiyono

Seniman Gigih Wiyono menggelar pameran tunggal ke-19 di Bentara Budaya Jakarta dengan tajuk Subur Makmur. Kali ini, Gigih menampilkan 28 lukisan dan 11 patung.

Pria asal Surakarta itu menuturkan, Subur Makmur, merupakan konsep kearifan lokal Indonesia. Pameran yang dibuka pada Kamis (18/7), akan digelar hingga 27 Juli.

Menurut Gigih, Indonesia sudah diberikan kesuburan tanah oleh Tuhan yang dapat menumbuhkan kemakmuran jika dikelola dengan baik. Tanpa kearifan lokal tersebut, dia menegaskan, keadilan tidak akan tercapai.

Lewat karya-karyanya Gigih ingin mengangkat kesuburan Indonesia. Sebut saja karya lukisnya dari cat akrilik yang berjudul Berkah Berlimpah II yang dihasilkannya pada 2016. 

Alumni Institut Seni Indonesia itu menjelaskan makna di balik karya lukis Berkah Berlimpah II adalah Indonesia memiliki tanah yang subur sehingga tumbuhan apapun dapat tumbuh diatasnya, berbeda dengan tanah di negara lain.

"Apapun yang dilemparkan itu bisa tumbuh. Anda lemparkan jagung, ya akan tumbuh jagung," ujar Gigih saat ditemui pada Jumat (19/7).

Kearifan lokal benar-benar ditekankan Gigih dalam karya lukisnya. Lewat karya-karyanya, Gigih ingin mewakili identitas sebagai orang Jawa dan menjadi representasi wilayah timur di kancah internasional.

"Itu icon yang saya rekonstruksi dari peradaban yang saya alami," kata seniman berusia 52 tahun tersebut.

Kepiawaian Gigih dalam menuangkan gagasan akan kesuburan tanah Indonesia juga terlihat dalam karya-karya seni rupa tiga dimensi atau trimatra. Dia menggunakan pohon keben atau butun yang ditanam di studionya sebagai medium berkarya. 

Dalam pameran tunggal ke-11 Gigih di Jakarta ini, terdapat sebuah patung yang dikelilingi oleh buah keben.

Gigih memiliki kesan tersendiri terhadap keben. Dia menjelaskan bahwa di bawah pohon keben, Sultan Yogyakarta terdahulu, merenung untuk mendapat kebenaran. 

Keben yang tumbuh di pesisir daerah tropis ini mendapat julukan "pohon kedamaian".

Uniknya, para pengunjung yang datang ke pameran ini akan mendapat bingkisan berisi biji dari pohon keben, padi dan daun salam. Gigih berharap pengunjung tidak hanya menikmati karyanya, tetapi juga bisa menanam buah keben.

Keteguhan Gigih untuk mengangkat budaya agraris lewat karya-karyanya diakui oleh kurator Bentara Budaya Jakarta Efix Mulyadi. Menurutnya, meski terkesan lelah menghadapi kemajuan, Gigih mencoba untuk terus menghidupkan kecintaannya terhadap budaya agraris.

"Semangat kebaruan dihidupinya dengan memberi konteks jejak dari tradisi agraris yang digali dan dirawatnya," tulis Efix dalam katalog pameran.