sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pandemi sebagai refleksi keadaan lingkungan yang kian rusak

Hari Lingkungan Hidup mengingatkan kita akan kondisi lingkungan hidup semakin kritis. Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

Firda Cynthia
Firda Cynthia Jumat, 05 Jun 2020 15:54 WIB
Pandemi sebagai refleksi keadaan lingkungan yang kian rusak
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 68079
Dirawat 33135
Meninggal 3359
Sembuh 31585

Hari Lingkungan Hidup Sedunia rutin dirayakan setiap 5 Juni. Sesuai laman resmi World Environment Day, tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diusung kali ini adalah “Time For Nature”. Momentum ini bertujuan mengajak seluruh penduduk dunia, untuk menyadari bahwa makanan yang dimakan, air yang diminum, dan ruang hidup di planet yang ditinggali, adalah sebaik-baiknya manfaat dari alam (nature) sehingga harus dijaga kelestariannya.

Aktivitas manusia yang semakin mengabaikan kepentingan lingkungan, akhirnya berimbas pada kehidupan manusia sendiri. Seperti perubahan iklim yang ekstrem, banjir bandang, kekeringan, bahkan pandemi.

"Pandemi Covid-19 kemungkinan merupakan efek global dari perusakan habitat alami yang terkombinasi dengan efek globalisasi,” kata Profesor di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan di Politecnico di Milano Maria Cristina Rulli, kepada Mongabay India.

Perusakan lingkungan yang dilakukan secara masif telah membuat hewan ke luar dari habitat alaminya, yang kemudian menyebarkan virus dari hewan ke manusia (penyakit zoonosis).

Dilansir dari Undark, hubungan antara manusia dan hewan yang yang menularkan Covid-19 ini, telah menyebabkan pasar hewan hidup di China dilarang beroperasi, karena berisiko tinggi untuk penularan virus dari hewan liar terhadap manusia.

Di sisi lain, WHO juga telah merekomendasikan untuk mengurangi risiko penularan patogen yang muncul dari hewan ke manusia di pasar hewan hidup.

Selain pasar hewan liar, penularan virus juga dipengaruhi oleh habitat satwa liar yang terus-terusan dibabat hingga mereka masuk ke lingkungan manusia.

Hal ini dikuatkan David Quammen, penulis buku Spillover: Animal Infections and the Next Human Pandemic. Ia mengatakan, ketika manusia menghancurkan hutan tropis, menggantikannya dengan desa, pertambangan, membunuh atau menangkap hewan liar untuk dimakan, maka sama saja telah membuka diri terhadap virus-virus itu.

Sponsored

"Kita tentu berharap supaya segera dapat mengendalikan Covid-19. Tetapi setelah merayakannya, kita harus segera memikirkan yang berikutnya," tambah Quammen, dikutip dari The Independent.

Selain itu, ahli ekologi kelautan Enric Sala, yang tergabung dalam Campaign for Nature National Geographic, juga mengatakan jika manusia terus menghancurkan alam, menggunduli hutan, menangkap binatang liar menjadi binatang peliharaan, makanan, atau obat-obatan, maka akan ada lebih banyak penyakit seperti ini (Covid-19) di masa depan, 

Situasi ini merefleksikan bahwa pandemi Covid-19 tidak akan menjadi pandemi terakhir yang akan dihadapi umat manusia, jika terus eksploitatif dan menghancurkan alam liar.

Untuk itu, perlu adanya kesadaran dari masyarakat yang terus dibangun secara kontinu agar peduli terhadap lingkungan. Ditambah dengan dorongan kebijakan yang berpihak pada perlindungan lingkungan alam, bukan investasi atau kepentingan ekonomi semata.

Berita Lainnya