sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pussy Riot: Pil pahit untuk Vladimir Putin

Beberapa kali kedapatan melantunkan 'nyanyian sumbang' pada rezim Vladimir Putin, Pussy Riot menahbiskan diri jadi mimpi buruk Rusia-1 itu.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 17 Jul 2018 18:02 WIB
Pussy Riot: Pil pahit untuk Vladimir Putin
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

Menit ke-50 pada final piala dunia, tiga perempuan dan satu laki-laki berseragam polisi menerobos lapangan, mengganggu jalannya pertandingan final antara kesebelasan Prancis melawan Kroasia. Ketiga perempuan tersebut adalah anggota kolektif seni yang gemar menyerukan protes, Pussy Riot. Protes memang sudah menjadi bagian hidup mereka sehari-hari.

Pussy Riot seringkali disalahpahami publik sebagai band punk, sebab pada 21 Februari 2012 kolektif ini beraksi mendendangkan nyanyian protes mereka “Punk Prayer” di Katedral Kristus Juru Selamat di Moskow. Dalam lagu mereka, terdapat lirik nakal berbunyi Virgin mary, Mother of God, banish Putin, banish Putin, banish Putin! (Bunda Maria, ibu Tuhan, buang Putin, buang Putin, buang Putin).

Protes tersebut ditujukan pada pemimpin gereja ortodoks yang mendukung Putin selama masa kampanye. Akibat aksi protes tersebut, dua anggotanya, Nadezhda Tolokonnikova serta Maria Alyokhina ditahan dan dikenai tuduhan melakukan kerusuhan. Kemudian pada 16 Maret di tahun yang sama, anggota ketiga mereka Yekaterina Samutsevich ikut ditahan pihak kepolisian Rusia.

Mereka bertiga akhirnya divonis kurungan penjara selama dua tahun oleh hakim. Pada Oktober Samutsevich dibebaskan, tetapi, dua orang lainnya menjalani hukuman penjara selama 22 bulan.

Pada Februari 2014, Pussy Riot mengeluarkan pernyataan, dua anggotanya Alyokhina dan Tolokonnikova hengkang dari kolektif. Walaupun begitu, keduanya tetap mengikuti protes yang dilakukan Pussy Riot dalam ajang olimpiade musim dingin di Sochi, Rusia. Pada protes tersebut, mereka diserang dengan pecut dan semprotan merica oleh pasukan Cossack yang dipekerjakan sebagai penjaga.

Usai aksi mereka di final Piala Dunia, Pussy Riot mengeluarkan pernyataan di Twitter dan mengklaim bertanggung jawab atas aksi di final Piala Dunia. Selain untuk protes, mereka melakukan aksi itu untuk memperingati sebelas tahun kematian Dmitri Aleksandrovich Prigov, pujangga dan seniman Rusia.

Dalam pernyataannya, mereka mengutip karya Dmitri Prigov tentang polisi surgawi. Polisi surgawi, kata mereka, menjaga bayi-bayi yang tidur. Sementara lawan mereka, polisi duniawi, mempersekusi tahanan politik, dan memenjarakan orang yang melakukan “reposts” dan “likes”.

Mereka menuntut enam hal dalam pernyataannya, yaitu membebaskan seluruh tahanan politik, tidak memenjarakan orang hanya karena “likes”, menghentikan penahanan illegal pada demo-demo politik, mengizinkan adanya kompetisi politik, tidak membuat-buat tuduhan kriminal dan membiarkan orang dalam penjara tanpa alasan, serta menjadikan polisi duniawi menjadi polisi surgawi.

Sponsored

Rezim Putin di Rusia selama ini memang menjadi langganan kritik dari Amerika dan sekutu, serta organisasi-organisasi nirlaba yang berfokus di bidang HAM. Puluhan orang telah merasakan dinginnya jeruji besi untuk alasan kejahatan politik, yang termasuk perilaku sederhana di sosial media seperti “like” dan “share”.

Sampai dini hari ini (17/7) mereka berempat divonis 15 hari penahanan dan dua anggotanya, Olga Pakhtusova dan Pyotr Verzilov, dilarang memasuki arena olahraga selama tiga tahun.

Konsisten dengan protes

Dalam wawancaranya dengan Moskovskiye Novosti, seorang anggota Pussy Riot dengan pseudonym Garadzha mengatakan, Pussy Riot terbuka dengan rekrutmen anggota perempuan dengan kemampuan musik yang terbatas. “Kamu tak perlu bernyanyi dengan baik. Ini punk. Kamu hanya perlu banyak berteriak,” kata Garadzha.

Pussy Riot rutin melontarkan kritik pada Vladimir Putin./ Reuters

Pussy Riot menjelaskan posisi politik mereka dengan mengatakan sudut pandang dari anggota-anggota kolektif yang sangat beragam, mulai dari anarkis hingga kiri liberal. Namun mereka disatukan dengan feminisme, anti-otoritarianisme, dan sikap memusuhi Putin.

Anggota Pussy Riot melihat Putin hanya sebagai sosok yang melanjutkan politik imperial yang agresif seperti masa Uni Soviet. Dalam wawancara mereka dengan BBC sehari sebelum aksi protes di Katedral, Pussy Riot percaya jika hanya aksi-aksi illegal yang akan membuat mereka mendapat perhatian media.

Aksi Pussy Riot menunjukkan pada dunia, di balik berhasilnya citra positif yang ditunjukkan Putin di Piala Dunia, masih banyak masalah yang belum terselesaikan di Rusia. Pada masalah LGBT misalnya, beberapa daerah di Rusia telah membuat bermacam-macam hukum yang melarang dan membatasi distribusi materi yang mempromosikan hubungan LGBT.

Kemudian pada Juni 2013, Putin mengesahkan undang-undang anti-gay yang akan mengkriminalisasi perbuatan orang-orang yang menyebarkan materi seputar LGBT. Undang-undang (UU) tersebut telah membuat beberapa orang LGBT diamankan.

Propaganda homophobia, persekusi di depan publik, dan ujaran kebencian pada kaum LGBT menjadi kian marak setelah UU tersebut disahkan. Banyak dari pelaku yang menggunakan UU tersebut sebagai pembenaran atas perbuatan mereka.

Selain tak ramah pada kelompok minoritas, rezim Putin juga bukanlah rezim yang toleran pada kelompok oposisi. Di Mei tahun ini misalnya, ketua kelompok oposisi Alexei Navalny bersama dengan 1.600 aktivis yang terlibat dalam aksi protes, diamankan pihak kepolisian Rusia. Mereka dituding telah menentang inagurasi Vladimir Putin sebagai presiden untuk periode keempat.

Navalny mengatakan Putin tak ubahnya seperti Tsar Rusia. “Mereka katakan kota ini milik Putin, apakah itu benar?” tanya Navalny ke pengunjuk rasa. “Apakah kamu membutuhkan seorang Tsar?” tanya Navalny lagi yang dijawab oleh gemuruh kata 'tidak' dari para demonstran.

Tak mudah untuk menggoyahkan rezim Putin di Rusia. Putin yang didukung oleh propaganda televisi milik pemerintah dan partai yang berkuasa, dielu-elukan para pendukungnya sebagai “bapak bangsa Rusia”.

Otoritas keamanan di Rusia menggolongkan semua protes sebagai tindakan illegal. Pihak berwenang Rusia biasanya berdalih jika waktu dan tempat protes tidak diurus dan diterima sebelumnya dan kepolisian memiliki wewenang untuk menjaga ketertiban umum.

Protes-protes politis di arena olahraga

Ketika banyak orang yang mengatakan politik tidak memiliki tempat dalam olahraga, membuat kompetisi olahraga menjadi tempat protes politik bukanlah barang baru. Teater dan arena olahraga akan selalu menjadi tempat di mana orang-orang bisa didengarkan, dan ketidakpuasan akan status quo didengungkan.

Kelompok Pussy Riot./ CBC

Selain protes Pussy Riot di ajang final Piala Dunia, beberapa waktu yang lalu juga ramai dibicarakan soal aksi berlutut para pemain National Football League (NFL) sebagai bentuk protes pada kebrutalan polisi dan ketidaksetaraan ras di Amerika Serikat. Mereka protes dengan aksi berlutut dan diam selama lagu nasional Amerika dinyanyikan.

Di tahun 56 Sebelum Masehi, Marcus Tullius Cicero pernah mengatakan tempat-tempat terbaik bagi warga untuk berbicara dengan politisi mereka adalah dalam pidato, majelis, dan permainan gladiator.

Dari penuturan Cicero, seorang aktor bernama Diphilus pernah mengkritik pemimpin Roma Pompey yang Agung, ketika ia mendatangi pertunjukan teater tahun 59 SM. Diphilus membuat improvisasi dalam permainan sandiwaranya dengan berkata nostra miseria tu es magnus (kamu Agung karena penderitaan kami).

Seperti teater, arena olahraga juga menjadi ruang politis. Sarah E. Bond, Asisten Profesor studi Klasik di Universitas Iowa mengatakan dalam tulisannya di Forbes, tidak seperti opera dan pertunjukan teater yang dipenuhi oleh penonton kelas menengah atas saat ini, kompetisi olahraga mampu membawa orang-orang kaya dan miskin bersama-sama dalam satu panggung.

Kompetisi olahraga juga tetap menampilkan kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat. Stadion-stadion memiliki ruang VIP yang dikhususkan untuk para pejabat dan orang-orang kaya yang mampu membayar. Namun, dengan semakin banyaknya siaran televisi dan streaming internet membuat kompetisi olahraga bisa dinikmati jutaan orang, yang tak sanggup membayar sebuah kursi di dalam stadion.

Pelajaran yang bisa diambil dari banyak bentuk protes dalam arena olahraga tersebut menurut Sarah adalah politik dan olahraga memang tidak pernah menjadi ruang yang eksklusif. Mereka berdua berkelindan dengan intim. Kompetisi olahraga, sama halnya seperti pementasan teater, menjadi salah satu jalur yang tersisa untuk berbicara langsung pada penguasa.

Berita Lainnya