sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Seniman visual Indonesia mendunia berkat karyanya

Pada 2017 di Jerman dalam Berlin Light Festival, Sembilan Matahari memboyong juara satu sekaligus kategori Favorit pilihan penonton.

Achmad Rizki Muazam
Achmad Rizki Muazam Kamis, 13 Agst 2020 07:45 WIB
Seniman visual Indonesia mendunia berkat karyanya
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 266845
Dirawat 60431
Meninggal 10218
Sembuh 196196

Abad ke-21 memang tak terhindarkan lagi dari teknologi, di era digital seperti saat ini segala aspek kehidupan manusia menjadi lebih mudah, murah, dan sekaligus canggih. Hal tersebut menjadi berkah bagi para pekerja industri kreatif, seperti seniman, desainer, dan arsitek.

Salah satunya adalah teknologi berbasis visual, yang pada 1960-an di Amerika Serikat tatkala sinyal elektronik menarik perhatian publik sebagai instrumen dan transmisi visual dengan konten kritik pada kehidupan global. Saat itu, dunia mengenal karya instalasi Magnet TV (1965), dengan seniman Nam June Paik yang kemudian tenar dengan konsep Video Art dalam paradigm seni media baru.

Di Indonesia sendiri terdapat nama Adi Panuntun, seorang desainer sekaligus CEO PT Sembilan Matahari, penghasil film yang dirancang dengan pendekatan baru, yakni mengintegrasikan seni dan teknologi melalui pengalaman yang emosional. 

“Metode ‘melihat dengan secara berbeda melalui film’ akan merangsang sensitivitas kesadaran dan perubahan positif pada publik,” ujur Adi, dalam keterangan tertulis yang diterima Alinea.id, Rabu (12/8).

Lebih lanjut, Adi menjelaskan, ia dan tim mencoba pendekatan lintas disiplin dalam memproduksi film dipadu dengan kemampuan membuat coding/pemrograman kreatif.

“Yakni mencakup kreasi audiovisual dan multimedia yang impresif, interaktif, dan spektakuler” katanya.

Berdasarkan ide tersebutlah, dikemudian hari proyeksi digital raksasa di outdoor dengan istilah yang kini dikenal “video mapping” yang menyeruak di awal 2010-an, dengan proyek “film-film pendek” raksasa di situs-situs kuno atau fasad bangunan bersejarah. Salah satunya pernah dilakukan di Museum Fatahillah, Jakarta.

Selain itu, pada 2009 melalui film layar lebar berjudul “Cin(T)a,” Adi Panuntun diganjar tiga penghargaan sekaligus, yakni Piala Citra untuk kategori Naskah Asli Terbaik dan juga penghargaan Festival Film Indonesia serta Favorit Pilihan Penonton di ajang JIFFest (Jakarta International Film Festival).

Sponsored

Tak hanya itu, pada 2012 kreasi video mapping Adi Panuntun meraih penghargaan Grand Prize Winner Projection Mapping Competition di Zushi Media Art Festival, Jepang.

Pada 2014 Adi dan Sembilan Matahari kembali meraih juara satu kompetisi video mapping internasional yang diikuti oleh ratusan partisipan dari seluruh dunia. Kompetisi multimedia terbesar di Eropa ini bertajuk Art Vision Competition-Circle of Lights, yang diadakan di Moscow.

Terakhir, pada 2017 di Jerman dalam Berlin Light Festival, Sembilan Matahari memboyong juara satu sekaligus kategori Favorit pilihan penonton.

Berita Lainnya
×
img