sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tipu-tipu dokter palsu dalam sepak bola

Selama delapan tahun, dokter gadungan Elwizan Aminuddin berhasil menipu banyak klub dan tim nasional.

Stephanus Aria
Stephanus Aria Jumat, 09 Feb 2024 09:36 WIB
Tipu-tipu dokter palsu dalam sepak bola

Setelah buron selama dua tahun lebih, dokter gadungan atau dikenal pula dengan istilah dokteroid, yang sebelumnya malang-melintang di dunia sepak bola nasional, Elwizan Aminuddin, akhirnya berhasil ditangkap di rumahnya di Cibodas, Bogor, Jawa Barat pada Rabu (24/1).

Selama delapan tahun, dari 2013 hingga 2021, Elwizan menjadi dokter di beberapa klub lokal, seperti Persita Tangerang, Barito Putera, Bali United, Madura United, Sriwijaya FC, Kalteng Putra, dan PSS Sleman. Ia pun pernah menjadi dokter tim nasional Indonesia U-19.

Akibat penanganan yang tak tepat, beberapa pemain muda potensial menjadi korban dokter palsu itu. Misalnya, striker PSS Sleman yang juga ujung tombak tim nasional Indonesia, Saddam Emiruddin Gaffar dan kiper Persebaya Surabaya dan tim nasional Indonesia, Ernando Ari Sutaryadi.

Saddam menjadi korban Elwizan yang salah diagnosis. Saat masih menjadi dokter PSS Sleman, Elwizan mendiagnosis Saddam cedera anterior ceuciate ligament (ACL), yang mengharuskan dirinya absen selama enam bulan dalam kompetisi Liga 1 musim 2021/2022. Namun, ia tidak disarankan operasi, sehingga harus menjalani perawatan yang lama.

Saat memperkuat tim nasional Indonesia U-19, Ernando pernah mengalami cedera bahu. Namun, Elwizan menyarankan Ernando tidak operasi. Malah, kiper yang tampil gemilang di Piala Asia 2023 itu disuruh tetap latihan.

Menanggapi dokter gadungan di sepak bola nasional, menurut pengamat sepak bola Akmal Marhali, sumber masalahnya ada di PSSI dan PT. Liga Indonesia Baru (LIB) dalam kaitan memverifikasi klub sepak bola profesional.

“Selama ini kan kita verifikasi itu cuma untuk formalitas aja,” ujar Akmal kepada Alinea.id, Rabu (7/2).

Dokter tim, kata Akmal, bagian dari regulasi kompetisi. Maka, dokter tim diadakan hanya sebatas formalitas, tanpa dilakukan pemeriksaan. Hal ini dimanfaatkan Elwizan untuk membuat sertifikat “bodong” terkait statusnya sebagai dokter.

Disebutkan anggota Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A) Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Gregorius Yoga Panji Asmara dalam diskusi virtual terkait dokter gadungan, Selasa (6/2), regulasi kompetisi sepak bola nasional soal dokter tim itu termuat dalam Regulasi Liga 1 2020.

Sponsored

“Di sana (Regulasi Liga 1 2020) dijelaskan harus ada dokter tim. Bahkan kalau tidak ada dokter tim, bisa tidak disahkan timnya,” kata Gregorius.

“Kemudian dokter tim harus duduk di bangku cadangan. (Harus ada) dokumen pendukungnya (seperti) ijazah dengan kualifikasi kedokteran dan sertifikasi dari PSSI.”

Tahapan menjadi seorang dokter pun tak mudah. Gregorius bilang, seorang dokter tak bisa serta-merta langsung memberikan pelayanan. Setelah melalui pendidikan sarjana kedokteran, ia harus menyelesaikan studi profesi dokter dan mendapatkan sertifikat dengan gelar dokter.

“Bisa juga program lanjutannya ada program spesialis, begitu,” ujar Gregorius.

Ijazah saja tak cukup. Sebab, menurut Gregorius, ijazah hanya menunjukkan selesai studi. Terpenting adalah apakah ia teregistrasi sebagai seorang dokter.

“Maka dari itu, ada surat yang namanya surat teregistrasi dokter sebagai bukti tertulis yang diberikan kepada tenaga kesehatan,” kata dia.

“Ketika berpraktik pun juga harus memiliki surat izin yang tertulis, yang diberikan kepada tenaga kesehatan sebagai bukti kewenangan menjalani praktiknya.”

Di sisi lain, Akmal menyarankan diadakan forum group discussion (FGD) terkait dokter spesialis di sepak bola. Alasannya, di klub-klub sepak bola Indonesia banyak dokter umum, bukan dokter spesialis.

“Harusnya dokter spesialis ortopedi atau spesialis olahraga,” tutur Akmal.

Perkara dokter umum di klub, Akmal punya pengalaman saat menjadi pengurus Persiraja Banda Aceh. Ia mengakui, dokter tim yang menjadi bagian dalam klub Persiraja diambil dari dokter umum. Lalu, ikut dalam kegiatan sepak bola, tanpa harus ada pendidikan terlebih dahulu.

“Artinya dokter cabutan lah, yang diambil dari rumah sakit umum, yang penting ada dokter. Tapi kan mereka hanya menangani pertolongan pertama pada kecelakaan di sepak bola,” ujar koordinator Save Our Soccer (SOS) tersebut.

“Mengurus yang spesifik tentang cedera pemain ya enggak bisa.”

Untuk mencegah kejadian berulang dokter gadungan, Akmal menyarankan, kalau perlu ada perkumpulan dokter-dokter spesialis sepak bola, sehingga yang bisa berpraktik di klub hanya dokter spesialis tersebut. Kemudian, sertifikasi tak cuma dikeluarkan IDI, tetapi juga diterbitkan PSSI dan PT. LIB.

“Sebelum kompetisi dimulai, semua dokter di-workshop-kan, sehingga dokter-dokter tim itu bisa tahu secara utuh regulasi sepak bola kita dan apa yang harus mereka lakukan di lapangan,” tutur Akmal.

Lolosnya dokter gadungan Elwizan, menurut Akmal, juga diakibatkan tak terjalinnya komunikasi yang baik antara klub sepak bola, termasuk PT. LIB dan PSSI, dengan IDI. “Karena itu, ke depannya, kita berharap sistem manajemen, baik itu di PSSI atau LIB, benar-benar dibenahi,” ujar Akmal.

Sementara Gregorius memberikan langkah-langkah pengecekan agar tak tertipu dokter gadungan. Pertama, melakukan verifikasi data, seperti KTP dan fotonya. Setelah itu, memastikan datanya tercantum dalam Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti).

“Semua dokter yang sudah bersekolah di Indonesia tentunya akan tertera di PDDikti. Selanjutnya cek pada KKI (Konsil Kedokteran Indonesia), buka dari website-nya,” ujar Gregorius.

“Dan (terakhir cek) apakah dokter tersebut memiliki surat izin (praktik) atau tidak.”

Caleg Pilihan
Berita Lainnya
×
tekid